Air Laut yang Tak Asin

Di senja yang kamu lebih suka menyebutnya sore itu, kita berjalan menyusuri pantai. Pantai dengan pasir tak putihnya dan ranting-ranting berserakan di bibir pantainya.
“Sayang, kenapa dari sekian pantai yang ada di kota ini, kamu memilih untuk mengajakku kemari? Bukankah pantai di utara sana jauh lebih indah?” tanyaku padamu.

“Coba tebak,” jawabmu menyebalkan sambil menggelitik tanganku yang sedang kamu genggam.

“Yaaah curang! Hmm kenapa ya? Aku sama sekali nggak menemukan sesuatu yang menarik dari pantai ini,” aku menjawab jujur.

Kamu hanya diam. Sempat kupikir kamu tersinggung mendengar jawabanku, tapi untungnya tidak. Kamu malah semakin mempererat genggamanmu dan mengajakku ke tanggul tepian pantai. Di sana kami duduk, lalu kamu menyeburkan kakimu sedalam lutut. Aku masih menunggu jawaban darimu.

“Coba rendam kakimu sepertiku,” kamu menyuruhku mengikutimu.

Aku rendamkan kakiku juga, sambil kugerak-gerakkan mengikuti arus gelombangnya. Aku masih menunggu jawaban darimu.

“Sayang, kamu tahu tidak apa menariknya pantai ini?” tanyamu sambil menatap mataku lamat-lamat.

“Kan tadi aku udah bilang, aku nggak menemukan satu pun yang menarik dari pantai ini,”

“Ada yang menarik dari pantai ini,”

“Apa?”

“Dari sekian banyak pantai yang ada di sini, cuma di pantai ini kamu bisa merasakan air lautnya yang tidak asin,”

Kamu berkata mantap, membuat separuh hatiku ingin percaya, tapi separuh hati yang lain tidak.

“Nggak mungkin, mana ada air laut yang nggak asin?”

“Air laut di sini nggak asin, sayang. Coba aja,” kamu berkata sambil mengambil setangkup air laut dan mencicipi airnya dengan lidahmu.

“Beneran nggak ada asin-asinnya sayang, coba deh,” katamu sambil mengambil setangkup air lagi dan mendekatkannya ke mulutku.

Aku yang sudah kepalang percaya dengan ucapanmu akhirnya penasaran juga mencicipi air laut yang katamu tak asin itu. Aku menjulurkan lidahku dan kamu mendekatkan tanganmu ke mulutku.

“Bfftt, bweeh! Nggak asin apaan! Ini asin banget tau!” aku reflek memuntahkan air laut yang sudah kadung masuk ke mulutku, setelah itu memukul lenganmu berkali-kali. Aku kesal sama kamu.

“Ahahahaha. Ya lagian, mana ada air laut yang nggak asin sih, sayang?” kamu berkata dengan tawa yang puas karena berhasil mengerjaiku.

“Habisnya, akting kamu jago banget. Hih!” aku masih kesal, kali ini kucubit perut sambil masih memukuli lenganmu.

Kamu masih saja tertawa melihat tingkahku. Kamu juga masih membiarkanku mengekspresikan rasa kesalku padamu.

Di senja yang kamu lebih suka menyebutnya sore itu, semua rasa kesalku seketika hilang setelah kamu mengecup keningku.

Teringat kisah pakdhe dan budhe, serta mbak sepupu yang sama-sama bercerita tentang nostalgia kehidupan pengantin barunya. 

24 pemikiran pada “Air Laut yang Tak Asin

  1. Maunya ada cerita selanjutnya za, saat mereka pergi ke danau/waduk spesial yang airnya asin. Lalu terjadi lagi momen romantis itu…
    Pakdhe kamu jago yak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s