Kopdar Bersama rakunkecil.com dan Kak Jeki

Akhir Agustus kak Toro alias si rakun kecil tiba-tiba nge-whatsapp kalau mau main ke Semarang. Awalnya saya pikir kak Toro bercanda, karena halo! Tarakan – Semarang itu beda pulau, selain itu kak Toro juga sukanya iseng. Tapi semua berubah ketika tiba-tiba beberapa hari kemudian kak Toro ngewhatsapp kalau dia udah pesan tiket dan tempat tinggal.

Yak, akhirnya pada tanggal 1 kemarin, kami bertemu. Lalu apakah kami hanya berdua saja kopdarannya? Tentu tidak. Ada sesosok makhluk lain yang juga ikutan, namanya kak Jeki.

Sebelumnya biar saya kenalkan tentang siapa Jeki ini sesungguhnya. Kak Jeki adalah teman kopdar pertama saya dari wordpress. Sayangnya beru-baru ini kak Jeki menghapus blognya, padahal blog kak Jeki ini salah satu penyemangat saya untuk terus menulis ketika SMA dulu. Saya kenal dengan kak Jeki sejak masih SMA. Kopdaran pertama di tahun 2013 atau 2014 saya agak lupa. Setelah itu kami masih terus berhubungan baik sampai sekarang karena kami sama-sama di Semarang. Anyway, kenapa kak Toro bisa kenal sama kak Jeki? Karena kak Jeki saya kenalkan ke kak Toro sebagai ilustrator. Huum, kak Jeki pintar sekali menggambar. Itu yang gambarin logo saya, juga foto profilnya kak Toro di blog, kak Jeki lho. #nihsemogamakinbanyakorderannyaya

Kami berjanji untuk kumpul di Sam Poo Kong jam 10.30, cuma akhirnya kami baru bertemu di sana jam 11-an. Saya sempat kesal sama kak Toro karena ketika ditanya serius jawabannya malah ngeselin.

Ngeselin kan? -_-

Pendiam. Ya, mungkin itu first impression yang saya lihat dari kak Toro. Ketemu kak Jeki udah heboh-heboh, begitu saya sapa kak Toro, si rakun hanya tersenyum canggung dan berkata “halo”. Kak Toro punya postur tubuh yang teramat kurus dan tinggi, beda 6-8 sentianlah sama saya kira-kira. Pembawaannya keren, kayak om-om kekotaan gitu deh. Dengan tas ransel, sweater (itu sweater apa cardigan sih? Atau bukan keduanya? Entahlah). Untuk kak Jeki sendiri, saya tidak perlu menjelaskan bagaimana rupa dan bentuknya karena kak Jeki ini orangnya misterius sekali. *seketika hening*

Patung Laksamana Cheng Ho
Ngaso dulu di sini

Di Sam Poo Kong kami melihat kecebong, numpang ngecas, dan ngaso di bawah semacam saung gitu. Ini pertama kalinya saya ke Sam Poo Kong sama orang lain dan nggak foto-foto. Mereka berdua nggak suka difoto, saya malah yang ditawarin untuk mereka fotoin. Kan kzl. 

Akhirnya setelah adzan dhuhur terdengar, kak Jeki mengusulkan untuk mampir ke rumah saya karena butuh air minum dan ingin sholat. Yha baiklah. Setelah segala urusan ishoma (eh nggak pakai makan ding hehe) kami meluncur ke salah satu lokasi wisata di Semarang, namanya Goa Kreo.

Goa Kreo
Monyet ngaso di tengah jalan
Tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan

“Ziza kenapa namanya Goa Kreo? Mana goanya?”

“Ah kamu bohong ya Ziza”

“Kok monyetnya nggak ada?”

“Ah Ziza bohong lagi ya”

“Kenapa monyet sukanya ngaso di pinggir ya, apa nggak takut jatuh”

“Kalo ngaso di tengah jalan kan nanti Ziza nggak bisa lewat”

“Ini tangganya nggak bisa gerak sendiri kayak eskalator apa ya Ziza?”

Kesel nggak sih bacanya? Kesel kan? Hmm semoga kalau kesal itu artinya wajar.

Saya sempat merasa sedikit bersalah karena monyet-monyet di Goa Kreo tidak sebanyak biasanya. Kemarin itu sangat sedikit sekali monyet yang bisa dilihat. Tapi begitu kak Toro nanya-nanya hal ngeselin macam kalimat di atas, perasaan bersalah saya seketika hilang. Berganti dengan amarah yang sedemikian mungkin saya coba tahan. Sebagai guide saya harus banyak bersabar.

Selain ekstra sabar, saya juga harus ekstra kuat ngehadapin kak Toro ini. Gara-gara si rakun kami masuk ke goa sampai kejedug dan kepleset. Gara-gara si rakun juga kami naik bukit ngos-ngosan dan nggak ketemu apa-apa selain kuburan. Semua gara-gara dia.

Di Goa Kreo, ada tangga yang lumayan berat juga untuk dinaiki, makanya kak Toro sampai tanya ada eskalator atau nggak. Nah waktu di tangga, saya sempat mau ngejahilin kak Toro,

“Kak Toro diem deh. Diem. Nah kalau udah diem nanti kan tangganya gerak sendiri kayak eskalator”

Saya bilang gitu sambil lari menaiki tangga. Eh kak Toronya nggak berhasil kena muslihat. 😦

Sambil menghilangkan rasa ngos-ngosan selepas naik tangga, kami duduk-duduk sambil ngobrol-ngobrol soal Obrolin. Kak Jeki hanya diam mendengarkan karena nggak paham. Maafin aku kajek wkwkwk.

Lalu setelah angin kencang dan gerimis melanda, datanglah gocar penyelamat kami yang akan mengantarkan kami untuk pergi mencari makan. Di gocar, saya banyak berbicara dengan kak Jeki soal temannya kak Jeki yang juga teman saya, awal mula kami berdua bertemu, kisah kasih terlarangnya kak Jeki, dan sebagainya. Kak Toro duduk di depan, diam dan sesekali tertawa.

Ada yang lucu di sini. Sekali waktu saya menanyakan satu hal ke kak Toro soal kegiatan wisuda almamaternya. Bukannya kak Toro, malah drivernya yang jawab,

“Lho mbak, di sini nggak ada STAN, adanya STAIN”

Saya sempat mau bilang ke drivernya kalau saya lagi nggak ngajak ngomong dia, tapi belum sempat saya ngomong, kak Toro udah langsung ngerespon pernyataan drivernya dengan menanyakan “Oh STAIN ya mas? Di mana tuh mas?”

Lalu saya dan kak Jeki cekikan di belakang dengerin percakapan mereka. Kemudian bahasan mulai merembet ke arah yang lebih lucu karena si drivernya ngebahas soal gaya pacaran anak muda di Kota Semarang.

“Di Pantai Marina itu mbak, wah banyak orang-orang berduaan kalau malam”

“Oh iya mas? Berduaan mau ngaji ya mas?”

“Ya bukan mbak, kayak nggak tau aja mbak”

“Terus ngapain mas? Emangnya nggak mungkin ya ngaji di pantai malam-malam?”

Lalu saya dan kak Jeki ketawa-ketawa di belakang, sementara kak Toro masih aja nahan-nahan untuk nggak ketawa.

Sampailah kami di DP Mall, kami segera mencari foodcourt untuk mengisi perut yang meraung minta diberi kalori. Di sini, secara tidak sengaja kami bertemu dengan Zahra, salah satu member Obrolin juga. Zahra kemudian berkenalan dengan kak Toro. Karena malam sebelumnya saya sudah bertemu Zahra, tidak banyak percakapan yang terjadi selain kamu ngapain ada di sini lagi. Rupanya Zahra sedang belajar untuk mempersiapkan UTS pertamanya sebagai mahasiswi.

Setelah kenyang dan sholat ashar, kami jalan kaki ke Lawang Sewu. Salah satu destinasi favorit wisatawan kalau sedang berkunjung ke Semarang. Di Lawang Sewu lagi-lagi saya diminta menjadi guide, padahal saya nggak tahu apa-apa soal Lawang Sewu ini. Jadi setiap kali kak Toro tanya-tanya, saya selalu menjawabnya dengan ngasal.

“Za, kenapa kok itu pohonnya ditutupin sama bambu-bambu?”

“Iya karena dulu legendanya ada pocong yang bagian bawahnya nggak keiket jadi kelihatan kakinya. Kakinya ada empat. Biar semua wisatawan yang kesini nggak takut, jadinya ditutup. Gitu kak”

“Za kenapa lantai duanya nggak bisa diakses ya kan sayang jadi nggak bisa lihat-lihat”

“Iya soalnya lagi direnovasi, mau dipasang AC biar wisatawannya pada nggak protes kepanasan tiap datang kesini”

Ya kira-kira begitulah percakapannya. Sepertinya di Lawang Sewu ini saya jadi kualat gara-gara ngerjain kak Toro dan kak Jeki. 

Beberapa kali saya sempat iseng mengambil foto mereka berdua, tetapi hasilnya ngeblur semua. Jadi biarlah saya menampilkan foto-foto Lawang Sewu yang indah saja ya. 

Sebelum masuk ke Lawang Sewu
Pintunya ada seribu
Spot ini sering banget dipakai untuk foto-foto
Spot paling asyik untuk dipandang

Di Lawang Sewu, saya juga beberapa kali dikerjain sama kak Toro. Waktu itu saya minta tolong kak Toro untuk ngefotoin saya yang memunggungi kamera. Bukannya difotoin sama kak Toro, saya malah ditinggal pergi. Ngeselin. Waktu di atap juga sama aja, saya hampir dikunci di bagian atap gelap-gelap, untungnya pintunya nggak bisa ditutup hahaha. 

Habis sholat maghrib, kami menikmati malam di Lawang Sewu dengan berbincang-bincang membahas soal mau kemana lagi malam ini. Akhirnya diputuskanlah untuk ke Simpang Lima naik Trans Semarang. Tapi setelah ditunggu di halte nggak nongol-nongol busnya, kami memutuskan untuk desak-desakkan naik angkot.

Sampailah kami di Simpang Lima, waktu itu di Simpang Lima kebetulan sedang ada acara dari tentara, apa ya namanya yang ingat cuma kak Toro. Di sana kami duduk-duduk di lapangannya sambil lihatin acaranya dan orang-orang yang berlalu-lalang menikmati malam Seninnya.

Sambil ngemil, kami berbincang soal permainan masa lalu dan memaksa kak Jeki untuk menggambar kami berdua. Ternyata laptopnya low-batt, jadi kami pindah ke Mall Ciputra untuk mencari tempat makan yang sekiranya ada colokan. 

Akhirnya kak Jeki mengajak kami ke kedai burger di bagian luar mall untuk menggambar, ngobrol, dan makan tentunya. Di sana kami menemani kak Jeki menggambar (yang akhirnya nggak jadi karena moodnya nggak ada). Lalu kami belajar menggambar dengan pen tab. Waktu itu kak Jeki lagi keluar cari kamar mandi, kami disuruh gambar-gambar sendiri. Lucunya, kak Toro sama saya nggak ngerti gimana cara pakainya. Tiap mau gambar nggak muncul garis-garisnya di laptop. Kami ketawa-ketawa sampai kata kak Toro dilihatin sama mbak-mbak yang duduk di belakang saya. Begitu berhasil diotak-atik sama kak Toro, akhirnya saya bisa gambar. Konyol sekali ternyata alasannya, karena selama kami otak-atik warna pen-nya keatur di warna putih. Ya pantaslah kalau nggak kelihatan garis-garisnya di dasaran yang warnanya putih juga. 😂😂😂

“Nih lho, kalau mau garis yang tipis, pen-nya nggak usah terlalu ditekan kak. Tebal tipisnya garis itu tergantung dari cara kita memperlakukan pen-nya”

“Kamu ngomong sama nggambar udah kayak orang ahli aja Za, serius banget”

“Ya coba gantian kak Toro yang gambar deh”

“Nggak mau, nggak bisa”

Akhirnya setelah kak Jeki datang, kak Toro dipaksa habis-habisan untuk menggambar dan jadilah gambar kami yang seperti ini…

IMG_20171003_115555
Hasil gambar saya -_-

 

Hasil gambar kak Toro yang di bawah, kak Jeki yang di atas

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 dan Semarang sedang diguyur hujan deras. Karena sudah malam dan saya dianggap yang paling kecil, saya disuruh pulang. Kemudian saya dipesankan gocar sama kak Jeki. Lucunya, saya dapat driver yang sama persis dengan driver kocak si STAN STAIN itu. Kami bertiga ketawa begitu sadar nama dan wajahnya sama. Kak Jeki yang pertama kali notice, karena suara dan wajahnya nggak asing. Begitu di cek di pesanan gocar, ternyata memang orang yang sama. Makin ketawalah kami di kedai dan dilihatin orang-orang lagi. 

Fadhil nama drivernya…

“Jodohnya Ziza kali tuh”

“STAN lagi wisuda ya mas”

“Nanti tanya-tanya lagi aja soal muda-mudi pacaran malam-malam di pantai”

“Kayaknya sih drivernya masih inget sama kita, wong bahasan tadi aneh banget”

Setelah menunggu lebih kurang 15 menit, driver menelpon dan bilang kalau sudah sampai. Akhirnya kami bertiga keluar dari kedai dan mencari jejak si driver. Setelah ketemu, saya berpamitan dengan kak Toro dan kak Jeki. Karena hujan, saya meminta mereka berdua untuk tidak usah menemani saya ke mobil. Tapi kak Toro pada akhirnya ikutan mengantar dan melepas kepergian saya.

“Dadah kak Toro, makasih ya!”

Saya mengucapkan kalimat itu sambil melambaikan tangan sebelum pintu mobil ditutup.

Mobil mulai jalan dan saya reflek ngomong ke driver karena penasaran sama respon drivernya.

“Mas tadi saya dan kedua teman saya juga naik mobil ini lho”

“Oh iya mbak? Saya lupa…”

Yaaaah, zonk! Zonk! Padahal yang ada di bayangan kami bertiga si driver masih ingat sama kami. Ternyata dia lupa. Saya langsung malu dan ngechat kak Jeki. Sepertinya kak Jeki dan kak Toro tertawa terbahak-bahak membaca chat saya. 😢


Wah, panjang juga ya ternyata. Nggak kerasa karena ngetiknya asyik aja. Meski pegel di kaki masih kerasa sampai sekarang, saya senang karena hampir seharian kami bertiga bisa menghabiskan waktu bersama. Dari yang belum kenal jadi akrab, dari yang sudah akrab jadi semakin akrab.

Terima kasih kak Toro karena sudah berkunjung ke Semarang dan menyempatkan waktu untuk bertemu kami. Terima kasih juga untuk kak Jeki yang selalu punya topik untuk bisa dibahas, disanggah, dikritik, dan dinasehati. Terima kasih kalian berdua! Kak Toro kapan-kapan main ke sini lagi ya! See you!^^

67 pemikiran pada “Kopdar Bersama rakunkecil.com dan Kak Jeki

  1. Nek aku ketemu kamu. Kumohon ojok digawe postingan.
    😥😒😒

    Etapi sepertinya Tuhan melindungi saya dari kejahilan kamu yg chat pake hp om om kota itu 😌

  2. Wkwkkwkwkwk asyik ada namaku😂
    Aku masih inget kak toro mbak 😀 tinggi putih pipinya merah udh kaya org cina wkwk ternyata seru juga ya jalan jalan kalian😂

  3. Waah seru Za jalan2nya, kamu sabar ya, dibikin kesel sama Mas Toro 😀
    Aku mau juga main ke Semarang.

    Itu Zahra keren, belajarnya di mall.

  4. Huhuhu.. pengen ngomen banyak…
    Terakhir aku ke Goa Kreo populasi monyet yang kelihatan lebih banyak dari manusia. Bahkan saking ramenya, monyetnya diem aja berasa lagi menyebar terror. Kalau gini kan kalian bertiga jadi nggak takut huhu

    Ngandalin BRT sih -,- Kadang setelah lama menunggu aku jadi ragu apa sebenarnya BRT itu ada atau tidak

    Apa Jeki ini ke mana-mana bawa peralatan gambarnya za? 😂
    Rada kaget sih bisa nyempetin gambar pas lagi jalan-jalan gitu haha. Btw itu kenapa di gambarmu dan Bang Toro di mukanya ada rambut-rambut rontok berseliweran??

    Seru ya. Nggak ikut langsung sih, tapi bisa ngerasa keseruannya kok (y)

    • Terakhir ya, padahal baru sekali kesana wkwkwk 😂
      Serius kemarin pas kesana monyetnya biss dihitung jari kak, kalah sama populasi pengunjungnya yang rame banget -_-

      Kak Toro pengin ngerasain naik BRT sih, lagian pas itu kan udah agak malem, jadi kami kira udah nggak ada BRT lagi 😢

      Nggak dibawa terus kok kak, itu dibawa karena ngerjain orderan, terus kusuruh gambarin aku aja sekalian 😂
      Hmmm dimaklumin dulu deh kan masih amatiran, aku juga yakin kalo kak Fadel coba lebih banyak rambut-rambut rontoknya -_-

  5. He he menyenangkan! Aku seneng banget bisa jalan – jalan sama kamu Zaa, rasanya ngga rela melepasmu pulang walaupun hujan – hujan itu :”D

    “ya jakarta diam kehilanganmu, bau wangi hujan tak lagi sama”
    ———————–
    Sejujurnya aku emang pendiam dan cenderung sungkan, tapi entah kenapa kok ya sama kamu–aku jadi nyaman seiring berjalannya waktu, ini tandanya kamu memang friendly banget, suka! Alhamdulllah.

    “mantra apa entah yang istimewa”
    ———————–
    Maaf udah nyebelin sana – sini, seneng banget liat ekspresimu yang sok – sok asik ceria itu jadi mutung walau cuma sebentar wkwk, oya perlu kubilang sekali lagi, kamu menggemaskan!

    Terima kasih sudah bersedia direpotkan sana – sini, es krimnya enak, rostanya enak, main pumpnya jago wkwk kapan – kapan kita battle :p
    Terlebih terima kasih sudah berbagi cerita hidup bahagianya padaku yang asing ini he he.

    “hey cantik, bawa aku jalan. Jalan kaki saja menyusuri kota. Ceritakan semua ceritamu kepadaku”
    ———————–
    Semua kalimat bertanda kutip tadi adalah sedikit senandung irama dendang Sesuatu di Jogjanya Adhitia Sofyan, tapi di Jogja nda ada Ziza, kamu adanya di Semarang. Semoga kita dapat bertemu kembali yaa…

    “dengar lagu lama ini katanya. Izinkan aku pulang ke kotamu. Kupercaya selalu ada sesuatu di Semarang”

    Sampai bertemu lagi Zizaaa~
    Salam,
    Rakun Kecil.

    • Yeay, senang kalau kak Toro senang 🙌

      Ahahaha, alhamdulillah kalau aku beneran ramah, semoga nggak kapok ya kak 😂

      Maaf juga sudah asal ceplas-ceplos, sok tau, dan menyebalkan beberapa waktu. Kak Toro memang jauh lebih menyebalkan hmmm, tapi seru kok diajak bercanda 😂

      Yah yah, tuh kan aku yakin kak Toro jago juga ngepumpnya, jadi nyesal nggak maksa-maksa kak Toro untuk ikutan main 😢
      Iya kak Toro, terima kasih kembali untuk semua-muanya, sampai nggak bisa disebutkan satu-satu 🙆

      Sampai bertemu kembali kak Toro! Sukses karir dan jodohnya ya 😆

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s