Obrolan Sore

“Cinta pertama itu nggak ada”

Reno, satu-satunya teman cowok yang kumiliki sejak zaman ingusan reflek memotongku bercerita ketika aku tengah asyik mengocehkan si cinta pertamaku di masa putih biru.

“What? Cinta pertama itu ada dan nyata kali Noy!” Noy adalah panggilan akrab dariku untuk Reno.

“Nggak, cinta pertama itu nggak pernah ada. Mana buktinya?”

“Si Tamir, temen SMP kita, doi adalah bukti cinta pertama gue ada dan nyata”

Reno mendengus mendengar nama Tamir untuk yang kesekian kalinya sore ini.

“Tamir bukan cinta pertama lo, Mira” Katanya sambil mengaduk-aduk es coklat kesukaannya.

“Lho? Lo inget sendiri kan dulu waktu SMP gue heboh banget cerita ke lo soal si Tamir cakep anak basket? Tamir lelaki pujaan tiap cewek di SMP kita Noy! Lo lupa? Lo lupa betapa berbinar-binarnya mata gue waktu cerita soal Tamir ke lo?”

“See? Tamir bukan cinta pertama lo Mira” Kali ini Reno mengambil sepotong pizza kemudian memasukkannya ke dalam mulut mungilnya.

“Terus siapa cinta pertama gue Noy kalo bukan Tamir?”

“Nggak ada, gue kan tadi udah bilang kalo cinta pertama itu nggak ada” Reno menggeleng-gelengkan kepala setelah menggigit pizzanya.

Aku kesal mendengarnya mengucapkan kalimat itu lagi untuk yang kedua kalinya. Bagaimana mungkin cinta pertama yang rasanya sulit dilupa itu tidak ada? Bagaimana bisa cinta pertama dianggap fana? Sampai sekarang pun aku masih ingat jelas senyum indah yang terlukis di bibir Tamir. Senyum yang membuat hatiku berdebar dan tanganku menjadi dingin. Belum lagi sapaan darinya untukku tiap kali kami berpapasan di kantin atau perpustakaan, sudah bikin aku pengin pingsan di tempat saking groginya.

Aih, aku malah mengoceh lagi soal kisah kasihku di masa lalu.

“Oke, kenapa lo sampai hati beranggapan kalo cinta pertama itu nggak ada?” Kali ini biar aku mendengar alasan Reno mengatakan kalau Tamir bukan cinta pertamaku.

“Lo beneran pengin tau kenapa cinta pertama itu nggak ada?”

“Iya, buruan kasih tau”

“Simpel sih Mir. Kenapa cinta pertama itu nggak ada? Ya karena itu namanya memang bukan cinta pertama”

“Hah? Maksudnya?” Aku bingung mendengar statement Reno kali ini.

“Gini Mir, lo anggep Tamir itu cinta pertama lo kan? Padahal sebetulnya, kalau dipikir-pikir, Tamir bukan cinta pertama lo. Tamir itu cuma cinta sepihak lo. Nggak bisa disebut cinta pertama kalo cuma lo yang ngerasain perasaan itu. Nggak bisa disebut cinta pertama kalo selama ini cinta lo itu bertepuk sebelah tangan. Paham?”

Aku seperti tersambar petir mendengar perkataan Reno barusan. Waktu tiba-tiba membawaku ke masa di mana aku begitu menyukai Tamir dengan begitu dalamnya, tetapi aku lupa bahwa rasa suka ini hanya aku yang merasakannya. Hanya jantungku yang berdegup kencang ketika tak sengaja bertatap mata dengannya. Hanya perutku yang terasa menggelitik ketika mengingat paras dan lambaian tangannya. Cinta ini memang hanya aku saja yang merasakannya.

Jadi selama ini, aku nggak pernah ngerasain cinta pertama dong? Eh tunggu….

Reno?

19 respons untuk β€˜Obrolan Sore’

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s