Kenapa Saya Masih Sendiri

“Za, kamu nggak bosen apa sendiri terus kemana-mana?”

“Za, mau aku kenalin sama temenku nggak? Kayaknya cocok”

Setiap kali saya ditanya model pertanyaan seperti itu, biasanya saya akan jawab dengan

“Ntar lah fokus kuliah dulu”

Atau

“Aku masih suka jalan-jalan sendiri kok”

Tapi ketika ada pertanyaan model begini:

“Kamu tuh suka sama laki-laki nggak sih Za?”

Rasanya ingin teriak

“YA JELAS SUKALAH PAKE DITANYA SEGALA LAGI!”

Lalu saya sebisa mungkin mencoba mengalihkan topik tapitapitapi pada suatu waktu ada seorang teman yang memberikan statement seperti ini:

“Selera laki-lakinya Ziza itu ketinggian, makanya nggak pernah kelihatan deket sama laki-laki kan”

WHAT?

Saya langsung menjawab dengan lantang bahwasanya selera saya terhadap lawan jenis ya standar-standar saja.

Namun kemudian setelah saya di kamar dan merenung, saya mencoba memikirkan ulang pertanyaan yang diajukan teman saya.

“Apa bener seleraku ketinggian?”

“Apa bener?”

Lalu akhirnya sampailah saya pada satu kesimpulan besar. Kesimpulan saya tetap sama, selera saya tidak ketinggian, tapi…

Ada banyak ketakutan yang saya cemaskan dari makhluk hidup bernama laki-laki.

Ya, itu kesimpulan egois saya sepertinya.

Begini, saya hidup di lingkungan keluarga yang teramat baik. Rumah tangga orangtua harmonis, hubungan kekerabatan antar sesama saudara (pakdhe, budhe, om, tante, saudara sepupu) juga akrab, sangat akrab. Ditambah saya bertumbuh dan hidup dengan tempaan ilmu agama yang baik sedari kecil (tidak lantas menjadikan diri saya seseorang yang ‘alim’). Teman-teman dekatpun juga bukan teman yang nakal. Senakal-nakalnya kami ya paling ngemall dari siang sampai malam jam 9. Atau nongkrong di tempat makan sambil ngomongin banyak hal sampai lupa waktu. Jadi pada intinya, saya tidak pernah gitu melihat atau merasakan sesuatu yang luar biasa di ‘lingkaran’ saya. Semoga mengerti maksud dari lingkaran itu ya. Ya intinya sih hidup saya datar-datar saja, nggak ada seru-serunya.

Nah apakah dengan lingkungan hidup yang seperti itu lantas menjadikan saya sebagai seorang perempuan yang dicap punya selera tinggi untuk laki-laki? Iya, saya rasa teman saya ada benarnya.

Alasannya mungkin begini….

Pertama, gimana ya, setiap kali saya merasa berada di luar lingkaran saya, saya seperti punya benteng yang teramat kuat dan itu prinsipal sekali. Semisal di kampus, tahu sendiri kan kehidupan kampus itu seperti apa? Baik tapi tidak semuanya baik, buruk tapi masih banyak yang baik. Jika suatu ketika ada seorang teman kampus yang mencoba mendekati saya dengan maksud dan tujuan tertentu, maka saya akan menghindarinya. Apapun bentuknya sedari awal saya akan coba menghindar. Karena apa? Ya karena saya merasa dia tidak berada di lingkaran yang sama dengan lingkaran saya. Saya takut, khawatir, dan merasa hal seperti itu tidak akan ada gunanya. Mungkin sebagian dari kalian akan berpikir saya jahat karena tidak mau membuka hati sebelum mencoba, it’s ok. Tapi pemikiran saya sudah jauh ke depan, buat apa diurus, ditanggapi, atau dipertahankan bila nantinya juga akan gagal? Jadi lebih baik saya sudahi bahkan sebelum sempat benar-benar dimulai. Saya jadi terlihat semakin jahat ya?

Tapi percayalah, saya melakukan itu semua untuk keselamatan hati saya juga.

Kedua, persoalan selera saya yang ketinggian menurut teman saya mungkin adalah kesimpulan mereka dari persepsi saya yang menganggap bahwa semua laki-laki sama saja. Tidak ada laki-laki yang lebih baik daripada abah, kakak, adik, mbah kakung, pakdhe, om dan saudara sepupu yang lekat di kehidupan saya. Namun, di luar mereka semua, tentu banyak laki-laki luar biasa baik yang juga saya sadari betul kesemua laki-laki itu di luar jangkauan saya, semoga kalian paham maksudnya meski tak paham pun tak mengapa. Sisanya? Ya kembali ke persepsi saya tadi, semua laki-laki sama saja.

Ketiga, saya bukan tipikal orang yang tertarik dengan hubungan romansa main-main. Tidak bisa disebut juga kalau saya anti pacaran, karena saya paham betul tidak semua orang di dunia ini berpacaran untuk main-main saja. Bagi saya, hubungan romansa main-main itu hanya akan berdampak pada sulitnya hati saya untuk menyembuhkan dirinya jika suatu saat nanti hati saya patah karena terlanjur dipermainkan.

Keempat, karena kekhawatiran saya sendiri. Pernah nggak sih, kalian suka banget sama orang terus ngerasa udah klop banget pokoknya sama dia, lantas tiba-tiba semua ke-klop-an itu hilang karena merasa terlalu khawatir? Saya sering. Rasa khawatir ini bentuknya bisa macam-macam ya, kalau saya biasanya akan begini:

“Cocok sih, tapi umi kan nggak mau punya menantu yang kayak gini”

“Duh, coba aja doi itu gini, pasti abah sama umi nggak akan keberatan”

“Apalah artinya laki-laki baik kalau umi sama abah penginnya punya menantu yang blablabla”

Iya, kekhawatiran saya justru datangnya dari kedua orangtua. Saya khawatir nggak dapat restu dari mereka. Itu yang membuat saya tidak pernah bercerita soal lawan jenis ke abah dan umi sampai sekarang. Saya merasa ragu, cemas, takut kalau-kalau saya dianggap salah bergaul atau salah memilih si Mr Perfect alias si imam.

Terakhir, saya terlalu percaya diri bahwa semua manusia yang hidup di bumi ini sudah memiliki pasangannya masing-masing. Saya kelewat selow sampai pada akhirnya saya sadar semakin ke sini umur saya semakin tua.

“Ya tapi gimana dong, masalah jodoh kan sudah diatur sama Tuhan. Ya tinggal akunya aja mau jadi yang nunggu atau yang nyari? Ya kan?”Β 

Jadi, kenapa saya masih sendiri? Yang jelas bukan karena selera saya yang ketinggian. Eh tapi kalau ada laki-laki yang seperti itu mau sama saya sih syukur alhamdulillah.

Iklan

29 thoughts on “Kenapa Saya Masih Sendiri

  1. Emang udah syukur alhamdulillah kan wk wk wk kan sudah ada yang~~~~~

    Sempet baca di quora jg sih, salah satu yg bikin gagal di akhir itu ya krn kurang pilih2 jg. Misal beda nilai yg satu ngamau punya anak, satu lg mau banget, atau perkara2 nilai habit dsb laijnnya yg biasanya diabaikan di awal krn dah kejebak infatuation, pada akhirnya jd perkara besar. Masalah deh. Pilih2 di awal ya ngapapa drpd berabe di akhir kan wkwkkwkwk.

  2. Laki laki jodoh tidak dapat jika tidak mencari, wanita tidak dapat jika tidak membuka hatinya, tapi bukan berarti tidak boleh mencari dan mengakui lebih dlu, sebagaimana siti khodijah mengagumi rasulallah saw. Karna jodoh adalah takdir yang perlu diikhtiarkan. Hehe denger ustadz di yutup kemarin ka, maapkan daku terlalu lancang smg bermanfaat hehe

  3. Kamu nggak pernah sendirian Za. Nggak pernah…

    Orang yang bersama dan yang sendiri bertemu dalam tarekat. Sebab orang yang bersama akan berpisah dalam waktu tertentu dgn ceritanya masing-masing, sementara yang sendiri akan menadahkan tangannya ke langit. *iki kek status yg diedit… wqwq

    Etapi aku ngerti bgt kok alasannya…

    Alasan selanjutnya nggak ada Za?
    Ya macam ketika seseorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, seseorang yg datang kemudian hanya menyentuh kemungkinan?
    *eh ini mah cuma gombalan Rangga doang yg bilang begini.
    πŸ™„πŸ™„πŸ™„

    *kabur ah

  4. Hai ka zizaa.. Pertama kali main ke sini, maafkan hehe
    β€œAda banyak ketakutan yang saya cemaskan dari makhluk hidup bernama laki-laki.” sama, saya juga takut haha..
    Tapi jodoh ya ga kemana, mungkin nanti jodoh kakak dipilihkan umi sama abah, mungkin..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s