Wisata Mengenyangkan dan Menyenangkan di Pasar Papringan Temanggung

Selamat Hari Minggu!^^

Pagi tadi saya bersama keluarga mengunjungi salah satu destinasi wisata baru yang ada di daerah Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Pasar Papringan, sebuah pasar dengan konsep unik karena berasal dari ide yang mahal. Kata papringan sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang berarti hutan bambu. Yak tepat sekali, Pasar Papringan adalah pasar yang menawarkan konsep makan-makan sekaligus rekreasi di hutan bambu. Sudah mulai tergambarkan? Kalau belum biar saya kasih gambaran:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan yang bisa dilihat setelah memasuki pintu utama
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ramai, sesak, tapi asyik dan sejuk

Awalnya, hutan bambu yang sekarang menjadi Pasar Papringan ini, dulunya adalah tempat pembuangan sampah. Kemudian ada sebuah komunitas bernama Komunitas Mata Air yang menyulapnya menjadi sebuah tempat yang bisa menarik perhatian orang-orang. Terciptalah sebuah konsep yang terinspirasi dari Pasar Papringan Kelingan. Mungkin karena Pasar Papringan di Kedu lebih dekat dengan pusat kota dan lebih mudah diakses, menjadikan pasar ini lebih terkenal dibandingkan Pasar Papringan Kelingan yang menjadi pencetusnya. Kabarnya Pasar Kelingan ini juga sudah ditutup.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pasar Papringan di Kedu ini buka hanya di Hari Minggu Wage dan Minggu Pon saja, dari pukul enam pagi sampai dua belas siang. Untuk lokasinya sudah tersedia di google maps, tidak jauh dari perempatan Pasar Kedu kok. Oh iya, di sana kita hanya diwajibkan membayar parkir motor atau mobil, kalau mobil 3.000 rupiah, kalau motor pasti lebih murah. Meskipun ramai pengunjung, kalian tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat parkir karena banyak sekali petugas parkir yang mengatur jalan.

Yang unik dari Pasar Papringan ini, mata uangnya bukan rupiah melainkan pring yang berarti bambu. Satu pring dihargai 2.000 rupiah. Untuk loket penukarannya sendiri ada tiga titik, yang pertama di pintu masuk, kedua di dekat taman permainan tradisional, dan yang ketiga di ujung dekat wilayah “hasil tani”.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mata uang yang sah di Pasar Papringan

Ada banyak sekali variasi makanan dan minuman di Pasar Papringan, yang jelas variasi makanan dan minuman tradisional khas Jawa Tengah lebih mendominasi di sana. Saking banyaknya saya belum sempat mencicipi semuanya hiks hiks. Yang jelas untuk makanan berat, kita butuh 2-5 keping pring, untuk es teh 1 keping pring, es jeruk 2 keping pring, dan makanan ringan berada di kisaran 1-3 keping pring.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Beraneka makanan ringan tradisional

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

IMG_20171210_074624
Soto ayam kampung harganya 4 keping pring

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

IMG_20171105_070755.jpg
Wedang ini rasanya kayak bambu, tapi khasiatnya mantap betul kata yang jual
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Semua penjual dan karyawannya memakai pakaian yang seragam

Selain makanan dan minuman, ada juga bermacam permainan tradisional yang juga dibuat dari pring dan tentu bisa dimainkan di sana. Beraneka permainan tradisional seperti gasing, baling-baling, mobil-mobilan, helikopter mini, yoyo yang juga terbuat dari pring turut diperjualbelikan untuk buah tangan para pengunjung.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Selain egrang, masih ada bakiak, dakon, ayunan, dan masih banyak lagi :3
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Yang mau foto bareng, gratis tis tis
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mainan tradisional dari pring ini diperjualbelikan lhooo

Ada apalagi ya di Pasar Papringan? Ada taman baca meski koleksi bukunya masih belum banyak, ada kolam keceh, hasil tani dari warga sekitar, oleh-oleh yang bisa dibawa pulang, dan juga cukur rambut.

Pengalaman saya dua kali kesana, saya masih belum bisa mencicipi seluruh makanan dan minuman yang dijual di Pasar Papringan karena terlalu banyak pilihan yang ditawarkan. Untuk rasa sendiri, dari beberapa menu yang saya coba cenderung memiliki rasa yang manis khas Kota Temanggung, Solo, dan Yogya. Jadi mungkin bagi para penggemar makanan asin seperti saya, baiknya tidak usah memasang ekspektasi yang terlalu tinggi bisa makan sesuai dengan seleranya. Oh ya, fyi, semua makanan yang dijual di sana bebas dari MSG.

Bagi kalian yang ingin ke Pasar Papringan, saya sarankan untuk tiba di lokasi pukul enam atau tujuh pagi karena kondisinya masih sepi, sehingga kita bebas memilih makanan dan minuman tanpa perlu berdesak-desakkan. Biasanya, pengunjung mulai banyak berdatangan pada pukul delapan sampai sembilan pagi. Jika kalian ingin membungkus atau membawa makanan dari sana, disediakan tas bambu yang dijual cukup dengan 1 keping pring saja. Jadi nggak perlu khawatir nggak bisa menyicipi seluruh makanan yang tersedia di sana, kan masih bisa dibungkus.

Meskipun sudah dua kali saya ke Pasar Papringan, saya masih ingin datang kesana lagi karena rasanya asyik bisa berada di hutan bambu yang sejuk sambil menikmati segala hidangan yang ada di sana, apalagi bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah.

Tunggu apalagi, ayo ke Pasar Papringan!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mungkin ini ikon Pasar Papringan…
Iklan

35 respons untuk ‘Wisata Mengenyangkan dan Menyenangkan di Pasar Papringan Temanggung

  1. Tuh kan… Ngeliat foto-foto makanannya langsung mikir kok semua makanannya (termasuk tempe-tahu) keliatannya manis yah. Eh bener hmm. Mending minum wedangnya aja deh yang rasanya kayak bambu. Entah ‘rasa bambu’ itu bagaimana wkwk. Nggak pernah ngemut sih

    Sedih juga Pasar Papringan Kelingan jadinya tutup. Papringan artinya bambu? Atau ‘perpiringan’?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s