Payung Teduh – Di Atas Meja

Dua hari yang lalu, secara tidak sengaja saya melihat home Youtube dan menemukan satu video yang menarik perhatian saya. What? Payung Teduh? Lagi? Secepat ini? Tidak perlu berpikir dua kali, saya langsung mengkliknya.

Sekali dengar, saya membaca liriknya (official lyric video). Dua kali dengar, saya mencoba memahami isi lirik dan mengagumi alunan nadanya. Tiga kali dengar, saya langsung meng-klik suka dan merekomendasikan ke teman-teman Peneduh (fans Payung Teduh).

Awalnya saya dibuat bingung dengan judulnya, namun akhirnya saya mengerti kenapa judul Payung Teduh kali ini hanya menunjukkan kata keterangan tempat saja. Tidak seperti Akad, lagu yang memang sudah dirancang untuk terlihat manis dilihat dari judulnya, lagu Di Atas Meja ini justru terkesan getir.

Di atas meja rindu itu hilang
Dalam kata-kata
Sebentar lagi kita saling lupa

Kita menjelma pagi dingin yang dipayungi kabut
Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Disela-sela gelisah yang menunggu reda

Di dalam kamar rindu itu menguap
Dalam kebisuan
Sebentar lagi kita semakin lupa

Kita menjelma kebisuan yang tak bisa diungkap
Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Disela-sela gelisah yang menunggu reda

Di tiap langkah rindu kita menghilang
Penuh keraguan
Lalu kita pun sungguh semakin lupa
Oo ooh..

Kita menjelma kebisuan yang tak kunjung terungkap
Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Disela-sela gelisah yang menunggu reda

Bagaimana kesan saya setelah mendengar lagu Di Atas Meja ini? Saya menyukainya, sangat menyukainya, apalagi di bagian, “Mengapa takut pada lara. Sementara semua rasa bisa kita cipta,” liriknya terdengar manis. Untuk alunan musiknya, berbeda dengan Akad, lagu ini mengingatkan saya dengan lagu-lagu Payung Teduh di album Dunia Batas (2012). Lagunya jadi semakin terasa Payung Teduh banget karena suara Om Is yang terdengar pilu menyesuaikan liriknya.

Sempat saya baca beberapa komentar di Youtube-nya, ada yang memahami liriknya sebagai kisah kasih sepasang manusia yang berakhir di meja hijau. Kalau menurut pemahaman saya, lagu Di Atas Meja ini lebih bercerita tentang sepasang kekasih yang mengalami fase bosan dalam menjalani hubungan romansanya. Di atas meja saya asumsikan sederhana saja, mungkin meja itulah yang menjadi saksi dari setiap indah-manis-berwarnanya cinta sepasang manusia yang sempat dimabuk asmara.

Jujur saja saya kaget, setelah menciptakan lagu Akad yang kelebihan kadar manisnya, kenapa Om Is sampai hati bikin lagu segetir Di Atas Meja? Kemudian saya sadar, hidup kan memang begitu adanya ya? Hehehe.

Btw, lagu yang baru diunggah dua hari di Youtube ini sekarang sudah masuk di trending Youtube Indonesia dengan 817-ribuan penonton. Kita lihat saja apakah lagu Di Atas Meja bisa menyaingi Akad nantinya. Oh iya, lagu Di Atas Meja ada di album terbaru (dan terakhir yang divokali oleh Om Is) dengan nama Ruang Tunggu. Ada sembilan lagu di dalamnya termasuk Akad. Kalau tidak salah albumnya bisa dibeli di KFC “Jagonya ayam”. Saya sebagai fans abal-abal Payung Teduh memilih sabar aja deh menunggu lagu-lagu Payung Teduh yang lain diunggah di akun resmi Youtubenya. Hehehe dasar misqin.

Akhir kata, saya senang karena di lagu ini Payung Teduh bisa kembali seperti Payung Teduh yang dulu. Lirik lagu yang terasa tulus, alunan nada yang sendu-pilu-kelabu, ditambah suara Om Is yang mendayu. Nah, ini baru Payung Teduh banget!

Selamat mendengar dan menikmati Di Atas Meja~

Dudududu syahdu~

Iklan

26 respons untuk ‘Payung Teduh – Di Atas Meja

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s