Kisah Cinta Nelangsa (2)

Rasanya tidak adil kalau saya hanya menceritakan betapa nelangsanya si Umar, adik saya dalam menghadapi kehidupan percintaannya. Jadi biar impas, saya akan menuliskan pengalaman pahit saya akan cinta.

Bermula selepas saya diwisuda dari SMP, saya resmi jadi pengangguran yang kerjaannya mencari SMA kesana kemari. Sisanya? Ya cuma makan, tidur, sms-an, dan main facebook. Nah, gara-gara nganggur yang terlalu lama inilah, saya merasakan kekosongan dalam hati saya. Kalau dulu kan, setiap hari pasti selalu disibukkan dengan agenda-agenda harian di asrama. Di tengah kekosongan hati saya itu, ada seseorang yang tiba-tiba hadir dan mengisi kekosongan saya. Sebut namanya Paijo. Awal mula saya bisa dekat dengan Paijo karena urusan jaket angkatan. Tahu kan ya zaman dulu kalau mau pisah bawaannya pengin bikin jaket yang samaan aja seangkatan hahaha. Nah kebetulan si Paijo ini penanggungjawab utamanya. Saya kebagian yang jadi penanggungjawab teman-teman perempuan. Jadi ya mau nggak mau, kami saling mengontak satu sama lain.

Awalnya sih masih bahas soal jaket, tapi ya tahu sendirilah, setelah urusan perjaketan selesai tidak lantas membuat urusan kami berdua selesai. Saya tidak tahu sejak kapan saya merasa ada rasa sama Paijo, yang jelas Paijo ini mirisnya adalah cinta monyet pertama saya. Yak, akhirnya saya merasakan juga apa itu cinta setelah lulus SMP.Β 

Karena saya ini tipikal perempuan yang level gengsi dan jaimnya selangit, saya nggak pernah sekalipun buat pengakuan ke Paijo. Tidak seperti Paijo yang beberapa kali memberikan tanda ke saya tapi selalu saya alihkan topiknya. Saya merasa cukup dengan hubungan yang begitu-begitu saja, memberi kabar dan saling bertanya bercerita. Intinya cukup untuk mengisi kekosongan hati saja.

Tapi rasa-rasanya Paijo ini pantang menyerah. Beberapa kali dia membujuk saya untuk ketemuan yang selalu saya tolak kalau maunya hanya bertemu berdua. Saya merasa nggak nyaman kalau harus bertemu dan hanya berdua dengan Paijo saja. Sampai pada akhirnya Paijo mengajak saya dan juga teman-temannya untuk sepedaan di car free day. Oke, saya setujui karena kami ramai-ramai berangkatnya. Si Paijo sama teman-temannya, saya juga mengajak teman-teman saya.

Saya berangkat dan sebelumnya izin dengan Abah dan Umi. Kebetulan Abah juga mau jogging pagi itu di Tri Lomba Juang. Saya berangkat duluan sebelum Abah berangkat. Sepanjang perjalanan, saya mengayuh sepeda selambat mungkin karena sejujurnya saya grogi. Padahal ketemunya kan juga nanti ramai-ramai ya, tapi nggak ngerti bawaannya grogi aja. Sambil menghilangkan perasaan grogi, sesampainya saya di lokasi, saya sengaja tidak memberi kabar ke Paijo bahwa saya sudah sampai. Toh, paling nanti juga bertemu kalau emang jodoh ahahaha.

Sambil mengayunkan sepeda, saya berkeliling di kawasan Simpang Lima dan jalan Pahlawan. Baru di putaran pertama, Paijo sudah melambaikan tangannya di sisi jalan yang mau tak mau membuat saya merasa dipanggil oleh si Paijo. Kenapa harus ketemu sama dia secepat ini sih zzzz.

Masalahnya, si Paijo ini ternyata juga masih nungguin teman-temannya yang belum datang. Otomatis, kami hanya berdua saja. Suasana awkward jelas terasa. Biasanya heboh di pesan singkat, begitu ketemu cuma diem-dieman, lirik-lirikan, mau ngajak ngomong bingung harus bahas topik apa. Akhirnya saya buka handphone biar kelihatan sibuk. Ada beberapa pesan singkat yang ternyata dari teman-teman saya, mereka (entah mengapa kompak) mengabari saya kalau tiba-tiba berhalangan hadir. Alasannya rata-rata sama, mager.

Karena saya tahu teman-teman saya nggak ada yang bisa datang, saya bilang ke Paijo,

“Temen-temenku nggak bisa dateng semua nih, aku pulang aja kali ya?”

“Eh, jangan pulanglah. Nanggung udah sampai sini juga. Toh nanti temen-temenku sebentar lagi dateng”

Emang ya setan itu ada di mana-mana. Entah kenapa kok ya saya nurut-nurut aja habis dibilangin begitu sama Paijo. Baiklah, sambil menunggu teman-teman Paijo datang, kami mengobrol pada akhirnya. Lupa sih ngobrol soal apa, tau-tau ngalir aja pembicaraannya.

Sampai pada suatu ketika, terdengar suara yang begitu akrab di telinga saya berucap,

“ASTAGHFIRULLAHALADZIM”

Saya reflek menoleh dan kaget. Tebak siapa yang tiba-tiba istighfar melihat saya? Ya siapa lagi kalau bukan Abah saya.

Abah saya, setelah beristighfar tiba-tiba menghentikan kayuhan sepedanya di samping kami berdua sambil geleng-geleng kepala. Saya diam di tempat, masih membisu.

“Katanya mau gowes rame-rame? Manaaa? Kok cuma berduaan gini?”

Si Paijo dengan santainya menganggukkan kepalanya memberi salam ke Abah. Saya sudah bingung setengah mati.

“Nggg, ini juga masih nungguin temen-temen Bah. Mereka masih otw katanya. Beneran kok masih nungguin temen-temen,” saya membela diri.

“Bener ya masih nungguin temen? Bener ya?” Abah memastikan.

“Iya bener kok, ya kan Jo?”

“Iya pak, temen-temen saya belum pada dateng nih” Paijo ikut menjawab (mungkin grogi setengah mati tapi mau kelihatan sok keren).

“Yaudah, Abah duluan mau ke Tri Lomba Juang. Beneran ya, kalau sampai 10 menit temen-temenmu belum dateng, kamu pulang aja ya,” kata Abah.

“Iya Bah, siap,” saya menjawab sambil mengambil napas lega begitu Abah mengayunkan kembali sepedanya dan perlahan menghilang dari pandangan mata.

Huft, badai akhirnya berlalu. Belum sempat saya mengelap keringat di jidat, Paijo beristighfar. Mencoba menirukan apa yang dilakukan Abah saya beberapa saat yang lalu.

“ASTAGHFIRULLAHALADZIM! Anak Abah nakal ya berdua-duaan sama laki-laki. Astaghfirullaaaah! Hahahaha!”

Kurang ajar emang si Paijo.

Akhirnya, nggak sampai 10 menit nunggu, teman-teman Paijo datang. Saya yang udah kadung kehilangan selera dan takut bakal diapa-apain sama Abah di rumah kalau pulang terlalu lama, memutuskan untuk pulang ke rumah setelah satu kali putaran. Bodo amat sama Paijo. Wajah seram Abah udah terlanjur terbayang-bayang di otak saya.

Kemudian saya pulang, untungnya Abah saya masih belum sampai rumah. Saya bernapas lega.

Baiknya, Abah tidak pernah mengungkit-ungkit tragedi di Simpang Lima itu sampai saat ini. Mungkin Abah merasa saya tidak akan mungkin berani berbuat sejauh itu. Memang benar sih, setelah ketahuan sama Abah (meski itu juga pertama kalinya saya kebetulan berdua sama si Paijo), saya jadi kapok. Saya sudah tidak bertemu-temu dengan si Paijo berdua lagi. Sebatas berbalas pesan singkat yang semakin tahun semakin berkurang intensitasnya. Atau bertemu saat reuni namun tidak saling berbincang. The new Ziza, the new Paijo juga kan?

Sampai pada akhirnya, sudah lima tahun lamanya saya tidak pernah menghubungi si Paijo lagi. Entah bagaimana kabar Paijo sekarang, semoga dia baik-baik saja, sama seperti saya yang juga baik-baik saja.

Iklan

33 thoughts on “Kisah Cinta Nelangsa (2)

  1. wkwkwk.. kasihan Ziza, tapi beruntung Abah ga ngungkit sampai skrng. semoga sudah dilupakan. Meski Ziza ga lupa.
    jadi ada berapa part kisah nelangsanya? aku nyimak juga ya…

  2. Alhamdulillah, itu artinya Allah masih sayang ma kamu.. Jadi terhindar dari khalwat (berdua-duaan di tempat ramai). Kalau berdua-duaan dengan bukan mahrom yang belum sah kan dosa.. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s