Bagian Dua: Noraknya Saya di Jakarta

I’m still on my way to get to where you are

Try to let go the things I knew

We’ll forget Jakarta

Promise that we’ll never look behind

Tonight, we’re gone to where this journey ends

But if you stay, I will stay

Pagi selepas sarapan daging semur masakan tante, saya bersiap-siap melancong ke Jakarta bersama Afifah dengan menggunakan KRL. Sebelumnya saya sudah janjian dulu sama Kak Fadel untuk bertemu di Kota Tua jam sembilan, sambil diwanti-wanti agar tidak salah naik KRL dan berhenti di Stasiun Jakarta Kota. Iya, ngerti kok, masak hal remeh kayak begitu saya nggak ngerti sih? Kan kebangetan. -_-

Di KRL, saya cuma bisa melongo memandangi sekitar. Dalam hati saya berteriak, “Tjuy! Akhirnya inyong bisa naik KRL juga tjuy! Keren juga ya ini kereta! Masuknya pakai kartu, gerbongnya panjang, eh ada gerbong khusus wanitanya lagi. Duh, kapan ya Semarang bisa begini.”

Oh iya tentu selain melongo saya juga beberapa kali tertawa mendengar interkom khas KRL, dari yang cuma ngomong “Hati-hati, hati-hati pintu akan segera ditutup, hati-hati” sampai interkom “Kereta akan tiba di stasiun Cikini”. Hampir semua nama stasiunnya lucu sih, ada Cakung, Gondangdia, Klender, dan sebagainya, cuma yang paling bikin ketawa ya Cikini. Intonasinya bisa lucu gitu lho, kayak mbak-mbak yang di interkom lagi bahagia banget waktu ngomong Cikini. Duh, jadi kangen kan ini pengin dengerin lagi hahaha.

Sepanjang perjalanan, saya juga beberapa kali berdecak kagum karena ternyata dari KRL saya bisa lihat Monas dan Masjid Istiqlal, juga beberapa menara stasiun TV ibukota. Ternyata Monas itu besaaaaar, kubah Masjid Istiqlal juga besaaaar. Saya sampai nggak peduli udah dilihatin sama mbak-mbak yang duduk di depan saya. Dia pikir saya norak kali ya, tapi kan emang saya norak ahahaha.

Di KRL, saya sempatkan diri foto-foto setelah hampir semua penumpang turun di Stasiun Manggarai.

WhatsApp Image 2018-02-13 at 15.42.24
Kayak berasa lagi di Jepang
WhatsApp Image 2018-02-14 at 12.31.46
Udah ganteng belum neng?
WhatsApp Image 2018-02-12 at 17.34.52
Monas difoto sama si Pungkas dari KRL, makasih Bro!

Sesampainya di Stasiun Jakarta Kota, saya dibuat kagum karena ini pertama kalinya saya lihat ujung rel kereta api! Guys, ternyata jalur rel kereta api ada ujungnya guys, jadi jangan risau, bukan cuma kisah cinta kalian doang yang berujung (nestapa) kok. Kayaknya emang cuma skripsi aja yang nggak berujung. Haduh, jangan diaminkan ya netizen budiman. Oh iya, Stasiun Jakarta Kota juga kelihatan mirip Stasiun Tawang ya, klasik-klasik gitu, kayak lagi di masa lalu gitu.

Saya segera mengabari guide andalan nan terpercaya yang sudah menahun tinggal di Jakarta, kalau saya sudah tiba di stasiun. Kak Fadel juga sudah sampai lebih dulu, ya karena lebih dekat jadi jelaslah ya. Akhirnya kami bertemu (kembali) di depan Museum Bank Indonesia.

Jalanan di Jakarta ternyata ricuh juga ya. Baru keluar dari stasiun saya sudah mendengar klakson saling beradu satu sama lain. Nggak macet sih waktu itu, cuma padat saja. Saya yang terbiasa hidup lama di lingkungan adem nan ayem macam Semarang seperti kena shock therapy begitu lihat semrawutnya jalanan di sekitar Kota Tua. Mau nyebrang aja harus modal nekad karena kendaraan yang lewat pada ogah ngalah. Oh iya, teriknya Jakarta ternyata sebelas dua belas sama Semarang, cuma bedanya di Semarang panasnya lebih bikin hitam kulit.

Menyusuri Kota Tua sedikit mirip dengan Kota Lama di Semarang. Sama-sama ada banyak bangunan khas Belanda, bedanya di Kota Tua lebih terlihat rapi karena kendaraan tidak diperbolehkan masuk. Lalu di Kota Tua juga ada museumnya, yang nggak ada di Kota Tua hanya pohon rindang aja sih ya, jadi kesannya gersang. Kalau di Kota Lama kan ada Taman Srigunting yang pohonnya besar dan rindang, cocok untuk berteduh.

Di Kota Tua kami berkeliling melihat sekitar. Setelah itu, kami masuk ke Museum Wayang dan Museum Fatahillah. Di Museum Wayang, kami melihat koleksi wayang dari dalam negeri maupun luar negeri. Yang menarik perhatian saya adalah brankas besar yang nggak bisa dibuka sama Kak Fadel tapi dengan mudah dibuka oleh mbak-mbak guidenya hahaha, dan koleksi tokoh-tokoh Si Unyilnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Yang bisa lihat ada penampakan dari foto ini tolong kasih tahu saya

Dari Museum Wayang, kami bergerak ke tengah. Di sana saya jadi juru fotonya si Afifah yang ngotot banget pengin foto di depan Cafe Batavia.

WhatsApp Image 2018-02-11 at 06.30.12
Kata Afifah ini spot instagramable bingits, sebagai anak hits dia harus foto di sana

Setelah itu kami langsung cus ke Museum Fatahillah. Tahukah kalian kenapa dinamakan demikian? Karena Museum Fatahillah itu besaaaar, makanya namanya FATahillah. Oke, maaf garing dan ngawur.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jangan tanya saya di mana
eed53f3b-aa91-4920-b4bb-341e1a29ff1b
Ternyata saya di sini
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jreeng, ini dia museumnya!

Di Museum Fatahillah, kami berkeliling di dalamnya tentu saja. Karena pakai kartu mahasiswa, saya dan Afifah cukup membayar tiga ribu saja. Kasihan ya Kak Fadel, ada untungnya juga saya masih jadi mahasiswa. Oh iya, kata Kak Fadel Museum Fatahillah yang sekarang beda gitu sama yang terakhir kali dia kunjungi. Sekarang sedang direnovasi, jadi lantai atas masih belum bisa dimasukin. Akhirnya cuma muter sebentar dan duduk-duduk setelah masuk ke penjara.

Sambil duduk-duduk ngobrol deh, eh ketemu kucing yaudah saya foto buat saya pamerin ke si bungsu nanti di rumah. Kucingnya saya kasih makan wingko babat, ternyata doi suka makanan manis.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah istirahat sebentar, Kak Fadel punya usulan untuk pergi ke Blok M, katanya di sana surganya kulineran. Sayangnya, kalau siang streetfood-nya belum pada jualan, kan sedih. Akhirnya Afifah usul untuk pergi ke Istiqlal aja, pengin ngerasain sholat di sana. Oke, kami pergi dari Kota Tua menuju halte busway.

Pengalaman pertama naik busway ternyata mengesankan. Baru tahu kalau mau masuk halte harus pakai kartu, beda sama TransSemarang yang bayarnya cash di halte atau di busnya. Kembali saya dibuat terpukau, kembali menjadi norak. Setelah naik busway ternyata seru juga ya, nggak ngerasain macet karena ada jalur khususnya. Cuma lumayan lama juga nungguin buswaynya heuheu cukup melatih kesabaran.

Sampai di Istiqlal langsung sholat. Kami masuk dari pintu firdaus, lalu menaruh sepatu di tempat yang sudah disediakan. Saya takjub dengan kamar mandinya yang luaaasss juga bersih. Nyaman banget deh. Saking nyamannya ada yang sholat di area kamar mandi coba ahahaha. Dari kamar mandi beranjak ke atas, wah ternyata gedeee banget! Salut juga sama pengurus masjidnya, karena mukena disediakan gratis dan wangi, juga ada ruangan khusus untuk membenarkan kerudung atau memakai mukena. Keren parah!

f800540e-7cc7-4529-bd3c-79dde00f0757

Dari Istiqlal, kami melanjutkan perjalanan dengan iseng menaiki bus tingkat. Persis di sebelah Istiqlal, ada dua bus tingkat yang sedang mangkal. Setelah bertanya ini gratis atau nggak, kami langsung naik. Ternyata bus tingkat di Jakarta dan di Semarang ada bedanya guys. Kalau di Semarang, busnya nggak boleh menaik-turunkan penumpang waktu lagi ngetem. Nah di Jakarta penumpang bisa dengan bebas naik-turun di tempat berhentinya bus. Jadi penumpangnya datang dan pergi gitu persis dengan  kehadiran dirimu di hati saya ooow ooow ooow.

Hampir dua jam sepertinya kami berada di bus, kami berkeliling dari Istiqlal menuju Monas, lalu ke Bundaran HI, dan kembali lagi ke Istiqlal. Di sepanjang jalan Sudirman (eh bener kan ini namanya?), saya melihat banyak bangunan mulai dari Mall Grand Indonesia, Sarinah, Kantor Gubernur Jakarta, Perpusnas, Kedutaan Amerika dan Jepang, dan gedung-gedung kementerian.

Setelah selesai naik bus tingkat, kami jalan kaki ke Es Krim Ragusa! Es krim khas Italia yang sering banget muncul di televisi. Akhirnya kesampaian juga mencicipi es krimnya. Saya pesan rasa durian, Afifah pesan rasa cokelat, Kak Fadel pesan rasa nougat. Kata Kak Fadel rasanya biasa aja, tapi menurut saya enaaak banget! Es krim di Toko Oen kalah jauh ini ahahaha.

Setelah melahap habis es krim, kami langsung berjalan kaki menuju Stasiun Juanda untuk kembali ke Bekasi demi menunaikan janji kopdar bersama kawan-kawan Obrolin region Jabodetabek. Di Juanda, lagi-lagi saya norak di depan mesin kartu KRL. Asli keren parah mesinnya, tinggal masukin duit kertas eh keluar deh kartu plus kembaliannya. Duit kembaliannya mulus-mulus masih baru pula.

Di Stasiun Juanda, nuansanya terlihat lebih modern ketimbang Stasiun Jakarta Kota. Dengan dominasi warna biru, saya sempat dibuat takjub dengan begitu beraneka ragamnya franchise yang ada di sana. Bahkan ada dua toko Roti O dan satu toko Rotiboy di sana! Sungguh persaingan yang ketat ya. Di Semarang mana ada yang seberani ini dalam berdagang ahahaha.

Berlanjut ke bagian tiga.

Iklan

24 respons untuk ‘Bagian Dua: Noraknya Saya di Jakarta

  1. Seru..seru..seru jalan-jalannya… 😃
    Oh jadi karena interkomnya lucu bilang Cikini. Aku dulu sampe ngerekam suara mbak-mbak interkom za, karena lucu. Buat diputer ulang 😂

    “Kayak berasa lagi di jepang”.. gapapa belum pernah ke jepang za, barangkali KRL yang kamu naiki adalah yg impor dr Jepang. Terus nanti ketularan bisa ke Jepang.
    *ganyambung ya 😅

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s