Bagian Satu: Tiba di Bekasi

“Bah, aku boleh nggak jalan-jalan sendirian ke Bekasi?”

Saya memberanikan diri bertanya ke Abah di mobil, di perjalanan pulang dari Temanggung ke Semarang. Sebetulnya saya tidak bisa berharap banyak pertanyaan saya akan mendapatkan respon yang positif. Nyatanya memang benar.

“Ha? Sendirian? Ke Bekasi? Ngapain?”

“Yaa buat jalan-jalan. Seumur-umur kan aku belum pernah jalan-jalan sendirian. Pengin ngerasain pergi jauh. Naik kereta sendiri, jalan-jalan sendiri, kesasar sendiri. Kan di Bekasi ada tante, nanti nginepnya di sana. Terus nanti jalan-jalan ke Jakarta, lihat Monas, naik KRL, ke Kota Tua, naik busway….”

“Nggak boleh!”

“Lho kenapa kok nggak boleh bah?”

“Bahaya kalau sendirian, kamu kan masih kecil”

Lalu saya tertawa dalam hati. Kecil gimana sih? Umur udah hampir 22 tahun juga huhuhu. Mungkin Abah ngerasa parno karena beberapa waktu yang lalu, anak dari temannya Abah meninggal di kereta api yang kemungkinan meninggalnya karena diberi racun. Saya bisa mengerti sih, tapi keinginan untuk travelling sendirian semakin kuat setiap harinya. Akhirnya setelah berdiskusi cukup lama dan alot, saya mendapatkan restu untuk bisa travelling sendirian dengan syarat… Tidak sendirian. Ya, pada akhirnya Abah mengusulkan untuk turut memboyong Afifah, teman karib saya sejak TK dulu menemani jalan-jalan selama saya ke Bekasi. Oke, tiket pulang-pergi sudah dipesan, barang bawaan sudah disiapkan, akhirnya saya diantar ke Stasiun Tawang bersama Abah naik motor. Malam itu hujan cukup deras, saya jadi bernostalgia sedikit. Dulu sekali waktu saya pernah hujan-hujanan bersama Abah di perjalanan pulang dari asrama. Saling mengalah untuk tidak mau pakai jas hujan yang hanya ada satu, yang pada akhirnya dipakai untuk menutupi tas pakaian saya. Akhirnya bisa merasakan kenangan itu kembali. :’)

Sesampainya di Stasiun Tawang, Abah dengan cekatan membawa semua barang bawaan saya lalu menyuruh saya untuk cepat-cepat mencetak tiket. Dengan sok tahu dan pedenya Abah malah masuk ke pintu utama, padahal kalau mau cetak tiket kan nggak di sana hahaha. Saya yang akhirnya memberitahu Abah bagaimana caranya mencetak tiket kereta di stasiun. Tiket sudah di tangan, saya disuruh Abah untuk membeli minum sembari Abah mencari Afifah, kawan karib saya. Kami berdua akhirnya bertemu lalu terburu-buru mencari gerbong kereta.

Selama di kereta, saya tidak bisa tidur. Ternyata kursinya nggak nyaman banget ya. Maklum saya ambil yang ekonomi, karena saya pikir enam jam perjalanan bakal terasa cepat. Nyatanya kok lama juga ya hahaha. Akhirnya sampai di Bekasi dengan punggung yang sakit dan mata lima watt. Di Stasiun Bekasi, saya memutuskan untuk memesan GrabCar, tapi entah kenapa ada begitu banyak GrabBike di Indomaret depan stasiun yang menawarkan untuk “Pakai GrabNow aja mbak, subuh-subuh gini sulit lho pesan GrabCar”. Karena sudah ngantuk dan capek, akhirnya yasudah kami pakai GrabNow saja. Sempat nyasar karena lokasi yang diberikan adik sepupu saya ternyata tidak sesuai, kebetulan juga drivernya orang Batak, misuh-misuhlah dia. Setelah abang drivernya diarahkan oleh tante saya lewat telepon, sampailah kami di lokasi yang benar. Di rumah tante, kami langsung disuguhi teh hangat dan mengobrol sambil menunggu adzan subuh. Selesai sholat subuh berjamaah, saya dan Afifah langsung tepar di kasur.

Ini kedua kalinya saya berada di Bekasi. Impresi pertama saya soal Bekasi sih dulu hanya panas, tiap di Bekasi bawaannya kipasan aja. Tapi kali ini berbeda, karena sedang musim hujan, ternyata Bekasi bisa berubah jadi sejuk ya. Tidur saya makin lelap meski tanpa kipas angin. Di hari pertama saya di Bekasi, saya sukses menganggur. Kerjaannya kalau nggak tidur ya makan, atau nonton tv sambil ngobrol sama adik-adik sepupu. Sorenya, saya iseng jalan-jalan keluar rumah dengan tujuan: menghapal jalan. Pulang-pulang bawa cilor yang ternyata rasanya enak ya hehehe.

Malamnya, saya bersama Afifah merencanakan mau kemana saja besok di Jakarta yang akhirnya berujung dengan keputusan mufakat: yaudahlah ya kemana aja terserah yang penting sampai Jakarta dulu dengan selamat.

Berlanjut ke bagian dua.

10 respons untuk ‘Bagian Satu: Tiba di Bekasi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s