Meracau

Hari itu aku menangis sesenggukan setelah sekian lama tak merasakan sedih. Aku menangis tak bersuara sampai mataku sembap dan ketiduran. Saat bangun, aku menertawakan diriku yang dengan konyolnya mengira kain pembersih lensa kacamataku sebagai sapu tangan. Terlanjur, sudah penuh dengan air mata dan ingus, sungguh aku menertawakan kebodohanku.

Kemudian entah mengapa dua rekaman suara yang kamu kirimkan bisa meluruhkan seluruh kelesuanku senja itu. Aku akhirnya tertawa dan melupakan kisah sedihku siang tadi. Kuputar berulang kali dan tawaku makin jadi. Permintaan jahilku tempo hari ternyata kamu tanggapi serius sekali, tapi aku menyukainya. Sekarang kamu mengerti kenapa dua rekaman itu bisa jadi hadiah terindah untukku, kan?

Bagiku, kamu tidak pernah kuanggap seperti baris puisinya Eyang Sapardi yang mengatakan bahwa ‘aku ingin mencintaimu dengan sederhana’. Bagiku, kamu adalah cukup. Tidak lebih dan tidak kurang. Mungkin pengibaratan yang cocok dari kecukupanku bisa kamu bayangkan dari hadits dhaif yang isi di dalamnya menyebutkan: ‘mulailah makan sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang’.

Bagiku, kamu adalah cukupku yang dengan kehadiranmu bisa membuatku merasa bernilai. Kadang kita memang butuh orang lain untuk melihat seberapa bernilainya diri kita sendiri, kan?

Bagiku, kamu adalah cukupku yang mampu membuatku yakin kembali menyusun kepingan-kepingan asaku.

Bagiku, kamu adalah cukupku yang dengan kehadiranmu bisa membuatku merasa aku tidak butuh siapa-siapa lagi.Β 

Tempo hari kamu sempat bercerita soal novel Hujan kan? Hari ini aku selesai membacanya kembali. Ternyata memang sudah pernah khatam kubaca, tapi entah mengapa aku tak mengingat nama tokoh di dalamnya dan sebagian alur ceritanya. Selesai membaca, aku seperti berkaca pada Lail yang gengsinya selangit mengakui rasa, tapi tak pernah menepis kenangan bersama Esok yang hinggap tiap harinya. Lail, wanita tangguh yang akhirnya memutuskan untuk memeluk semua kenangan pahit-buruk-manis-indahnya hidup di akhir cerita. Ada kutipan yang kusuka dari novelnya:

“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.”

Aku masih belum yakin bagaimana ujung kisah cintaku nanti. Apakah semanis kisahnya Lail dan Esok, atau malah berakhir tragis? Tapi bagiku tak masalah entah bagaimana pun akhirnya, aku akan seperti Lail yang siap menerima dan memeluk erat semua baik-buruknya kenangan bersama Esok.

Oh tidak, sepertinya aku meracau terlalu lebar sedangkan isinya tidak ada atau malah terkesan menggelikan. Ya sudah, selamat malam untuk kamu yang tidak biasa tidur larut malam!

Iklan

29 respons untuk β€˜Meracau’

  1. Menurutku nggak menggelikan kok ini❀️

    Kok bisa sih nangis sampai ketiduran. Mau nangis ketawa bacanya wkwkwkwk. Trus juga bisa aja udah lupa sama novel dari penulis favorit πŸ˜‚

    Hujan bagus btw. Kujuga ngerasa related sama kisahnya

    • Bagus deh kalo emang nggak menggelikan 😢

      Nggak tau juga ya kenapa bisa, kayaknya malah tiap nangis bisa langsung tidur gitu deh. Maklumin dong, penulisnya kan terlampui produktif 😦

      Oh ya? Bagian mananya ya yang related sama kak Fadel?

      • Kenapa aku ngerasa kamu ada perasaan menyesal setelah tulisan ini dibaca πŸ˜‚

        Jangan dong. Ini tulisan bagus kok. Harusnya yang di’kamu’kan seneng bacanya. Tentang related dalam Hujan itu….. RAHASIA! Hahahaha

      • Nggak kok, nggak ada perasaan menyesal πŸ˜‚

        Ya semoga ‘kamu’nya seneng beneran ya kak *kedip*
        Ah curang sekarang mainnya rahasia-rahasiaan 😭

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s