Pendiam

“Gantian kamu dong yang cerita!”

“Mau cerita apa lagi? Tadi kan udah”

“Yah, masak dari tadi aku terus yang ngomong. Aku kan jadi kelihatan cerewet”

“Memang cerewet kan?”

“Bukan, kamu aja yang terlalu pendiam”

Sudah beberapa kali setiap bertemu teman di lingkaran pertemanan, saya mendapati percakapan seperti atau serupa itu. Sebagai perempuan tulen, saya merasa gagal karena kurang banyak bicara. Hmmm.Β 

Entah sejak kapan saya menjadi lebih pendiam, padahal sewaktu SD dulu simbah sampai menegur saya karena terlalu banyak bicara. Saking cerewetnya, saya sampai diberi julukan “si mulut kereta api” sama mbah. Hmmm.

Kenapa saya jadi tidak suka banyak bicara? Akhir-akhir ini saya mencoba mengingat kembali sebenarnya apa sih yang membuat saya jadi semakin diam setiap berkumpul dengan teman-teman.

1. Saya capek

Terlalu banyak bicara membuat mulut saya capek, ini serius. Capek dalam artian, mulut saya terasa pegal setelah berbicara terlalu sering dalam suatu percakapan. Beberapa hari yang lalu ketika reuni dengan teman-teman SMA misalnya, saya merasa lebih banyak bicara dibanding hari-hari biasa, hasilnya? Sampai rumah mulut saya pegal luar biasa. Mungkinkah ini pengaruh dari bibir saya yang kecil dan pipi yang mengembang? Bisa jadi, hmmm.

2. Saya lebih suka mendengarkan

Dari kelima indra, yang paling saya syukuri adalah telinga. Selain karena enak-enak-geli kalau dimasukkin cuttonbud, menurut orang bijak, dua telinga dan satu mulut diciptakan bukan tanpa alasan. Emm gimana ya? Kalau misal dalam satu lingkaran pertemanan semua orang berebut untuk bicara, lalu siapa yang mau mendengar? Nah saya dengan sangat senang hati memilih untuk menjadi pendengar saja dibanding menjadi pencerita.

3. Merasa tidak ada yang tertarik dengan pembicaraan saya

Jangan sedih ya bacanya, tapi memang saya merasa demikian. Setiap kali saya mencoba membuka suara, topik yang tadinya asyik untuk dibahas tiba-tiba menjadi nggak asyik lagi. Saya juga sih yang kebablasan, kadang saya suka ngegaring dengan bikin candaan jayus dan aneh, atau kalimat-kalimat membingungkan yang cuma saya doang yang paham. Terus setelah saya ngomong biasanya kayak ada jeda sepi yang panjang baru ada bahasan atau topik baru lagi. Hmmm aku rapopo.

4. Tidak suka menjadi pusat perhatian

Ini yang paling saya tidak suka sih kalau saya banyak bicara. Diperhatikan banyak orang entah mengapa bikin saya merasa nggak nyaman. Am I normal?

5. Takut menyakiti perasaan lawan bicara

Sepertinya saya terlahir dengan mulut yang jahat, dalam artian suka asal ceplos. Kalau dulu saya sering banget ngomong tanpa mikir, alhasil banyak teman yang merasa tersinggung dengan ucapan saya jika belum kenal dekat dengan saya. Semenjak kuliah, semenjak bergaul dengan teman-teman dari beragam suku, ras, dan budaya, saya lebih selektif dalam menggunakan mulut saya untuk berbicara. Menimbang dan memilah kira-kira kalau saya berkata demikian, dia bakal tersinggung nggak ya? Karena terlalu banyak dipikirkan, malah akhirnya mengendap dan tidak jadi disampaikan. Ya gitu.

Di samping kelima alasan di atas, tentu saya bisa nyaman berbicara dengan beberapa orang tertentu saja, tanpa merasa capek, tanpa merasa obrolan saya tidak ada gunanya, tanpa perlu sungkan menjadi pusat perhatian, dan tanpa takut menyakiti perasaannya. Beberapa orang yang bisa dihitung jumlahnya dengan beberapa jari di tangan hehehe. Tidak banyak, tapi saya sangat mensyukurinya. Setidaknya di mata mereka, saya dianggap makhluk paling cerewet di muka bumi.

Oh iya, saya punya tebak-tebakan nih buat penutup. Apa bahasa Inggrisnya bendera berkibar?

Hmmm apa hayo?

Nyerah?

Nyerah kan?

Jawabannya adalah….

FLAG-KE-FLAG-KE-FLAG

33 pemikiran pada “Pendiam

  1. Nomor satu tandanya perlu senam mulut yg kayak korya korya itu. Nomor tiga saya seneng dengerin cerita kamu si jadi hayu ketemu, ngajak nonton hanyalah sebatas kedok sj πŸ˜‰

  2. yampun pengen nulis kaya ginian tapi semuanya udah tersampaikan secara lugas melalui postingan ini. ada beberapa yang sama, tapi intinya kadang kita perlu istirahat sejenak ketika kita terlalu banyak bicara dan lebih banyak mendengarkan cerita dari teman yang lain karena sepertinya cerita mereka lebih menarik daripada apa yang kita ucapkan :””D

    • Uluh uluh uluh, sejak kapan kamu jadi pendiam Taq? Tapi aku seneng sih kemarin-kemarin pas ketemu aku dirimu masih bawel dan makin retjeh 😍

      Yak benar, mendengar banyak cerita dari orang-orang membuat kita jadi semakin yakin cerita kita nggak ada menarik-menariknya untuk dibagi wkwk πŸ˜‚

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s