Ibuku

Kata banyak orang, kalimat “surga ada di telapak kaki ibu” tak akan bisa benar-benar kita pahami sampai suatu hari nanti kita sendiri yang menjadi ibu. Tapi menurutku lain, aku tak perlu menjadi ibu untuk memahami betul surga ada di telapak kakinya. Ibuku sudah membuatku percaya bahwa di telapak kakinya, ia lebih dari sekadar pantas untuk mendapatkan surga.

Ibuku bangun paling pagi setiap hari. Rutinitas paginya sudah kuhapal sejak aku lulus SMP. Membangunkan keenam anaknya untuk sholat subuh, menanak nasi, memasukkan semua baju kotor di mesin cuci, menyiapkan sarapan dan bekal anak-anaknya sekolah, kemudian mengantar anak-anak sekolah. Sepulang dari sekolah ia tidak langsung ke rumah, ibu ke pasar membeli bahan masakan yang makin tahun harganya makin mahal, tapi uang belanja tidak pernah dinaikkan. Ibuku, ia tak pernah kehabisan akal untuk “mau masak apa hari ini” dengan uang belanja sekadarnya.

Sepulangnya dari pasar, ibu menyiapkan cemilan favorit bapak: gorengan. Kemudian sambil memakan gorengan ibu berbincang dengan bapak. Tak ada habisnya topik perbincangan mereka bahkan setelah 24 tahun bersama. Setelah itu? Ibu akan menyiapkan sarapan untuk bapak sebelum berangkat kerja, dan memasak setelah bapak berangkat kerja. Sudah selesai? Belum, selepas memasak ibuku mengatur usaha franchise ayam gorengnya. Rutinitas paginya selalu begitu dan seperti itu.

Tidak ada ibu yang tidak istimewa kan? Begitu pula ibuku. Meski ibuku seorang ibu rumah tangga, kesibukannya di luar rumah tak bisa dianggap remeh. Aku hapal kegiatan rutinnya setiap hari, sepertinya tak perlu kutulis di sini untuk membuktikannya. Yang jelas, ibu tak suka berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Sayangnya, semakin ibuku sibuk, penyakitnya semakin sering kambuh. Biasanya ketika kambuh, ibu hanya butuh segelas teh panas dan istirahat yang cukup. Setelah itu ibuku akan kembali menyibukkan diri. Entah mengisi pengajian, rapat sebagai yayasan di sekolah, atau sekadar menemani ibu mertuanya.

Aku tidak perlu membuktikan apa-apa untuk yakin bahwa surga ada di telapak kaki ibuku. Hanya dengan melihatnya satu hari saja melakukan segala rutinitasnya, aku bisa mengerti. Malaikat tanpa sayap tak perlu kucari jauh-jauh, ia selalu ada di dekatku.

Menjadi ibu itu berat, apalagi ibu yang seperti ibuku. Entah berapa banyak luka dan duka yang dialaminya sehingga menjadi ibu yang sekuat ibuku. Aku banyak belajar darinya. Belajar dari kebesaran hatinya, ketulusan jiwanya, keberanian hidupnya, keteguhan prinsipnya.

Menjadi ibu itu berat. Ibuku, ia memutuskan untuk berhenti. Berhenti memiliki keinginan, berhenti memikirkan dirinya sendiri, berhenti bercita-cita. Berhenti, hidupnya tak pernah lagi untuk dirinya sendiri.

10 pemikiran pada “Ibuku

  1. sembilan bulan sepuluh hari kita ngekos di perutnya.. enggak bayar.
    makannya kita ganggu, tidurnya gak nyenyak, berapa kali dia hutang puasa gara2 kita, …. semua kebaikan yg kita dapatkan melalui perantara orangtua.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s