Menjadi Pendengar yang Baik

Ada satu hal yang cukup membuat saya terkejut ketika membuka twitter beberapa hari yang lalu.

Seorang selebtwit, membuka jasa curhat dengan biaya yang menurut saya itu tidak murah. Jasa curhat lho ini, C-U-R-H-A-T.

Tidak, saya tidak ingin menyalahkan selebtwitnya. Saya juga tidak ingin menyalahkan yang menggunakan jasanya. Saya hanya merasa sedih. Sedih, ternyata ada begitu banyak orang yang butuh didengar. Ada begitu banyak orang yang bingung untuk merasa nyaman bercerita. Ada begitu banyak orang yang untuk mengungkapkan isi hatinya, rela membayar mahal agar perasaannya lega.

Ironis ya? Mungkin semakin banyak orang yang sungkan bercerita karena respon dari si pendengar tak jauh dari ungkapan:

“Ah elah, gue pernah ngerasain yang lebih parah”

“Eh aku juga gitu tau! Terus aku tuh blablabla”

“Udah? Gitu doang?”

Egosentris. Kita semua egois. Padahal urusan mendengarkan ini sesimpel menyiapkan kedua telinga dan menutup rapat mulut kita. Tidak perlu bawa-bawa diri sendiri saat orang lain bercerita.

Nyatanya kita tidak begitu. Rasanya lebih mudah untuk membanding-bandingkan dengan nasib diri, merasa hidup kita sendiri yang paling menderita, dan sejenisnya. Menyebalkan.

Makin lama, akan semakin banyak orang yang enggan bercerita. Bukan karena tak ingin, tapi karena tidak ada lagi yang mau mendengar. Semua orang hanya sibuk berbicara, padahal, bukankah dua telinga dan satu mulut diciptakan bukan tanpa alasan?

Yuk, kita latih diri kita sendiri untuk menjadi pendengar yang baik.

15 pemikiran pada “Menjadi Pendengar yang Baik

  1. Kayak gt banyak zaaa. Yg non selebtwat gajelas siapa bs 300k/hour. Aku sempet mikir buat narifin orang2 yg suka curhat sampe 5 jam gt tauk jdnya wkwkkwkqk

  2. Emang susah banget jadi pendengar yg baik, soalnya orang-orang cenderung pengen keluarin apa yg ada d otak mereka..
    Padahal nih, org sedih cukup d dengar, tanpa dicela.

  3. Kakkk zizaaa❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤ ingin love kamu berkali kali karena kamu selalu menjadi pendengar adik cerewetmu satu ini

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s