Berkah

Kalau diingat-ingat lagi, rasanya sudah cukup lama aku mengenalmu. Saat itu kita masih sama-sama menyandang status sebagai mahasiswa kan? Aku dengan santainya meminta kontak linemu karena, ah kupikir kamu mengenal salah satu temanku yang kuliah di tempat yang sama denganmu. Dan ternyata benar, kamu mengenalnya, kalian malah satu organisasi. Sejujurnya aku agak kaget, tapi biarlah, berkat seorang teman yang sama-sama kami kenal ini, aku merasa ada topik yang bisa diperbincangkan.

Awal mengenalmu, aku sudah tahu kamu lelaki yang pemalu. Yang mudah grogi tiap berkomunikasi dengan lawan jenis, apalagi yang secantik aku. Tapi aku suka sifat malu-malumu itu, ditambah bonus selera humormu yang ternyata sama denganku. Lengkaplah sudah. Aku seperti melihat diriku versi laki-laki.

Lalu pada akhirnya kami bertemu untuk yang pertama kalinya. Deg-degan? Tentu saja. Pengalamanku dengan lawan jenis sangat minim, bisa dibilang nggak ada malah. Biasalah, tipe-tipe perempuan yang sukanya jadi pengagum rahasia doang, berani ngungkapin juga enggak ehehe. Tapi pada akhirnya aku nekad. Udah, ini kan cuma pertemuan biasa. Pikirku saat itu. Aku melihatmu dari kejauhan, dan ternyata bayanganku tentangmu banyak yang meleset ya, hahaha. Tapi aku merasa beruntung banget karena bisa langsung nyaman dan cocok waktu ngobrol denganmu.

Kupikir obrolanku denganmu akan berakhir setelah pertemuan itu. Nyatanya tidak, aku tahu kamu berusaha mencari topik untuk mencuri-curi chatting denganku. Kamu banyak membagikan postingan lucu. Aku senang? Jangan ditanya, entah sudah berapa kali aku bergumam “manis sekali orang ini” tiap membaca pesan darimu. Dan sadar nggak sadar, aku selalu menunggu chat darimu. Seminggu sekali bisa dichat sama kamu udah syukur. Kepikiran ngechat duluan? Seringlah, tapi sayangnya rasa gengsiku lebih besar dulu. Aih, dasar perempuan.

Dari yang tadinya cuma berbagi kelucuan, berkembang jadi saling menanyakan kabar. Bertanya soal kesibukan, kesukaan, masa lalu, keluarga, dan entah mengapa makin hari topik yang dibahas rasanya semakin menyenangkan. Aku jadi ingat, dulu kita semakin dekat waktu kamu lagi sibuk-sibuknya berkutat dengan skripsi kan? Kupikir aku mengganggu, nyatanya setelah kutahu kamu malah senang bisa kuganggu. Pelepas stres katamu, lucu juga.

Lalu pada akhirnya kamu sidang. Aku sidang. Kamu bekerja. Aku juga bekerja.

Dan semua masih terasa sama seperti dulu. Sama-sama menyenangkan.


“Apa yang kulihat dari dirimu selama beberapa tahun ke belakang hingga kini adalah suatu berkah. Dan aku tak berkeberatan, bahkan ingin, untuk menghabiskan sisa waktu yang ada untuk melihat tahun-tahun berikutnya bersamamu.”

20 pemikiran pada “Berkah

  1. aku sudah tahu kamu lelaki yang pemalu. Yang mudah grogi tiap berkomunikasi dengan lawan jenis, apalagi yang secantik aku

    apalagi yang secantik aku

    apalagi yang secantik aku

    apalagi yang secantik aku

    apalagi yang secantik aku

    apalagi yang secantik aku

  2. β€œapalagi secantik aku” – azizatoen, 2019
    wkwkwk geli dan begitu baca sampe akhir, baru nyadar kalo aku senyum-senyum sendiri baca postingan ini. semoga dilancarkan ya tun! wkwkwk.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s