Jarak

Tidak pernah terpikir dalam benak sekali pun bahwa salah satu kendala dalam kehidupan percintaan saya adalah jarak. Kendala yang juga seringkali saya syukuri sih lebih tepatnya. Bertemu seseorang yang entah datang dari mana, dengan jarak ribuan kilometer jauhnya. Kalau ditanya berat atau tidak, jujur saja, awalnya tidak ada berat-beratnya sama sekali. Mau gimana lagi? Tahu dan kenal orangnya pun juga tidak langsung bertatap muka. Jadi selama masa pendekatan, jarak yang ribuan kilometer jauhnya itu tak pernah jadi persoalan. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan berbunga-bunga yang kian tumbuh, rasa nyaman dan cocok yang terus berkembang, dan segala hal yang tadinya biasa saja menjadi menyenangkan, membuat jarak mulai berubah menjadi kendala. Beragam monolog pun sering tak sadar terucap.

“Aku kangen”

“Coba aja ada dia di sini sekarang”

“Pengin denger ketawanya langsung”

“Kapan ya dia dateng lagi?”

“Dia tuh nggak kangen aku apa ya?”

“Kayaknya asyik deh kalau jalan-jalan di sini bareng dia”

Hmm, angan-angan coro. Nyatanya yang saya angankan pun masih banyak yang belum bisa terlaksana sampai detik ini. Oleh karena itulah, momen di mana saya bisa bertemu dengannya tak pernah saya lupakan. Bagaimana bisa lupa? Orang belum sampai genap hitungan jari di tangan ketemu sama dia.

Kendala lain yang biasa saya rasakan adalah masa di mana rasa kangen sedang parah-parahnya tapi nggak ada yang bisa dilakuin selain berpasrah diri.

“Aku kangen”

“Iya sama, aku juga kangen banget”

Percapakan selesai.

Mentok-mentok dikasih semangat atau ucapan “sabar dulu ya” aja. Yah, untungnya memang saya sabar banget orangnya.

Namun dari segala kendala soal jarak yang saya rasakan selama berhubungan dengan dia beberapa tahun terakhir, ada banyak hal yang saya syukuri juga.

Pertama, pola komunikasi. Biasanya komunikasi selalu jadi masalah awal dari hubungan jarak jauh kan ya? Nah anehnya, selama saya dan dia dekat, kami jarang punya masalah dari segi komunikasi. Saya dan dia sama-sama tahu, kabar seperti apa yang menjadi prioritas untuk disampaikan lebih dulu. Misalnya saja ketika dia akan dinas di luar pulau, dia akan riset sebelumnya, kira-kira pulau yang akan disinggahi nanti akan sulit sinyal atau tidak. Kalau sulit, sebelum berangkat dia akan berulang kali memberi tahu saya soal itu. Rasanya fair aja kalau dia memberi tahu saya, saya jadi tidak perlu khawatir berlebihan dan menunggu kabarnya datang lebih cepat. Pun sama halnya dengan dia, dia juga dengan kesadaran diri penuh berusaha mencari tempat yang ada sedikit sinyal untuk segera mengabari saya bahwa dia sampai dengan selamat.

Kedua, minim konflik. Saya suka heran dengan beberapa permasalahan hubungan jarak jauh yang sering saya baca di sosmed. Separah itukah punya hubungan jarak jauh? Kok saya tidak pernah mengalaminya ya? Apa hubungan saya yang tidak wajar? Hahaha, tapi memang saya dan dia jarang banget berkonflik. Rasa saling percaya satu sama lain yang membuat kami jarang bertengkar. Selain itu juga ada perasaan kayak “coba aku ada di posisinya dia” yang membuat kami jadi saling merendahkan ego masing-masing. Mencoba memahami dari dua perspektif, dan akhirnya muncul perasaan “hmm iya juga sih”.

Ketiga, hemat uang! Bagian ini nih yang dia paling suka! Punya hubungan jarak jauh berarti jadi jarang ketemu. Jarang ketemu jadi nggak perlu ada pengeluaran yang berarti bisa hemat yeay! Karena jarang bertemu, dia jadi lebih banyak bisa menyisihkan tabungan untuk masa depan. Saya rasa lebih baik begitu sih, ditabung aja dulu uangnya, senang-senangnya nanti aja kalau memang sudah waktunya. Toh buat apa sering-sering ketemu kalo harga tiket pesawat masih mahal? Eman-eman uangnya kan huhuhu. Tapi biasanya kalau emang udah kangen tak tertolong, kami berkirim paket dan membuat surat-surat manis hihihi. Rasanya sama menyenangkannya kok.

Keempat, punya banyak me time. Me time selalu menjadi saat di mana saya mencoba untuk memahami diri saya sendiri lebih dalam lagi. Dengan lebih memahami diri, tentu juga bisa berefek pada penerimaan dan kecintaan pada diri sendiri. Saya rasa me time perlu banyak dilakukan sebelum nantinya saya dan dia sudah sama-sama siap untuk berkomitmen sehidup semati. Kalau sudah serumah nanti, waktu me time tidak bisa sebanyak sekarang kan? Untunglah kami berhubungan jarak jauh, jadi me time bisa dilakukan tiap saat, tiap dia sibuk banget sama kerjaannya sampai lupa sama saya (nggak ding bercanda wkwk).

Kelima, menghargai setiap momen bersama. Karena masih bertemu hitungan jari saja, saya masih banyak mengingat setiap detil pertemuan bersama dia. Pun sama halnya ketika saya berkesempatan bertemu dia, kami sama-sama bisa menghargai setiap momen bersama. Kapan lagi lho bisa ketemu kayak gini? Ya meski tiap ketemu juga selalu ada rasa grogi-groginya di awal, eh sampai akhir juga kadang masih grogi ya (emang dasarnya kami berdua pemalu sih hahaha). Jadi flashback lagi kan nih sama pertemuan terakhir kami beberapa waktu yang lalu hihi. Intinya di setiap pertemuan kami selalu terselip ekspresi muka menahan malu, pura-pura cuek padahal perhatiin diam-diam, canggung, dan beragam ekspresi awkward lainnya, tapi justru hal-hal semacam itu yang membuat setiap pertemuan kami terasa makin berkesan. 🤭

Hmm apa lagi ya? Kok ini malah lebih banyak yang disyukuri dari adanya jarak ya? Kalau mau bahas soal sulitnya punya hubungan jarak jauh udah banyak juga kan yang ngebahas. Intinya sih, mau hubungan jarak jauh atau jarak dekat, pola komunikasi yang baik, rasa saling percaya dan kesadaran memiliki satu sama lain penting diterapkan di hubungan kamu, kamu, kamu semuanya agar langgeng, selamat, sentosa dunia dan akhirat. Semoga berjodoh dengan pasangan kalian sekarang!

28 pemikiran pada “Jarak

    • Lho emangnya situ sama aa ldr-an apa? 🤭

      Setuju kak Arin! Selama yang disabarin hal-hal yang emang baik dan kita yakini sepenuh hati, kudu banget punya banyak stok sabar ❤️

  1. Eh kamu LDR sama siapa sih? Kok masih ada laki2 kayak dia? Sempet2nya riset dulu masalah sinyal sebelum pergi, tetep ngasih kabar pula ckck

    Idaman banget pokoke 🥺
    Jangan dilepas za!

  2. Kuuuu pernah terpisah jarak dong.

    Dan bener, sih, jadi menghargai kebersamaan wgwgw. Palagi jauhnya gegara pada sibuk kerja, beuh, sangat-sangat momen kebersamaan adalah hal yang paling ditunggu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s