Satu Pertanyaan

Malam ini aku tidak bisa tidur karena satu pertanyaan terus terngiang di otakku.

“Apakah aku semenyebalkan itu?”

Satu pertanyaan yang mau tak mau membuatku merunut semua kejadian yang ada, yang pada akhirnya mengerucut dari satu sumber.

Sumbernya memang hanya satu, tapi yang satu itu bisa membuat semua rentetan kejadian itu menjadi beragam.

“Ah, karena aku sudah menikah”

“Sayangnya aku sudah menikah”

“Itu semua karena aku menikah”

Yah, sumbernya satu. Menikah.

“Karena menikah, mau tak mau aku harus beradaptasi di lingkungan yang sangat asing bagiku”

“Karena menikah, aku kehilangan banyak teman dekatku”

“Karena menikah, aku merasa kesepian, karena yang kukenal akrab di sini hanya suamiku”

“Karena menikah, aku tidak bebas berjalan-jalan seperti dulu”

“Karena menikah, aku lebih suka menghabiskan waktu sendiriku di rumah”

“Karena menikah, mau tak mau aku harus akrab dengan orang asing, dengan bahasa baru yang tidak terlalu akrab di telingaku sebelumnya (bahkan sampai sekarang)”

“Karena menikah, duniaku lebih banyak berputar di kehidupan suamiku”

“Karena menikah, aku berteman dengan orang-orang baru yang tidak sefrekuensi denganku”

“Karena menikah, aku menunda beberapa keinginanku atau pencapaianku”

“Karena menikah, aku jauh dari orang tua dan kakak adikku”

Dan tentu masih ada banyak cabang lain yang jika disebutkan di sini semuanya, aku akan capek mengetiknya.

Heran ya, padahal cuma dari satu pertanyaan, “apakah aku semenyebalkan itu?”

Aku tak ingin menyalahkan keadaanku yang sedang hamil sih, tapi entah mengapa aku merasa makin sensitif beberapa minggu belakangan. Suamiku sendiri yang bilang, aku makin gampang nangis. Dan sekalinya nangis, aku langsung insecure. Hadeh, ini seperti bukan aku.

Aku bisa sedih banget lho cuma karena suami bilang lagi kesel ke aku, biasanya kalau suami kesel ya aku minta maaf terus yaudah selesai. Lha ini kenapa minta maaf terus sambil nangis, pakai acara kepikiran lagi setelahnya. Kan jadi capek karena nggak bisa tidur-tidur.

Aku juga bisa tiba-tiba ngerasa sedih aja tiap dichat teman, atau aku ngechat teman, tapi respons yang diberikan teman terkesan datar. Kayak, “aku ngetiknya salah ya? Harusnya tadi nggak gini” lalu langsung kepikiran memoriku sama temanku ini yang dulu akrab banget, tapi sekarang berasa orang asing.

Sepertinya memang akunya saja yang kelewat menyebalkan.

Hmm, bukan berarti aku menulis ini karena menyesali pernikahanku. Bahkan aku merasa masih sangat bersyukur sampai detik ini bisa menikah dengan suamiku. Ada banyak hal baru yang tentunya sangat membuatku bahagia menjalaninya. Salah satunya keajaiban berupa satu janin yang sehat sedang bertumbuh di rahimku.

Aku hanya ingin menuliskan keresahanku saja malam ini. Suami sudah sering mensupportku untuk menulis di blog lagi, tapi baru malam ini aku tergerak karena bingung mau ngapain kalau lagi sulit tidur. Mungkin besok aku akan menyesali tulisan ini, tapi biarlah, kalau pun iya menyesal, aku kan bisa hapus tulisannya HAHAHA.

Ya sudah, selamat malam. Aku sayang banget sama suamiku.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s