Menjadi Pendengar yang Baik

Ada satu hal yang cukup membuat saya terkejut ketika membuka twitter beberapa hari yang lalu.

Seorang selebtwit, membuka jasa curhat dengan biaya yang menurut saya itu tidak murah. Jasa curhat lho ini, C-U-R-H-A-T.

Tidak, saya tidak ingin menyalahkan selebtwitnya. Saya juga tidak ingin menyalahkan yang menggunakan jasanya. Saya hanya merasa sedih. Sedih, ternyata ada begitu banyak orang yang butuh didengar. Ada begitu banyak orang yang bingung untuk merasa nyaman bercerita. Ada begitu banyak orang yang untuk mengungkapkan isi hatinya, rela membayar mahal agar perasaannya lega.

Ironis ya? Mungkin semakin banyak orang yang sungkan bercerita karena respon dari si pendengar tak jauh dari ungkapan:

“Ah elah, gue pernah ngerasain yang lebih parah”

“Eh aku juga gitu tau! Terus aku tuh blablabla”

“Udah? Gitu doang?”

Egosentris. Kita semua egois. Padahal urusan mendengarkan ini sesimpel menyiapkan kedua telinga dan menutup rapat mulut kita. Tidak perlu bawa-bawa diri sendiri saat orang lain bercerita.

Nyatanya kita tidak begitu. Rasanya lebih mudah untuk membanding-bandingkan dengan nasib diri, merasa hidup kita sendiri yang paling menderita, dan sejenisnya. Menyebalkan.

Makin lama, akan semakin banyak orang yang enggan bercerita. Bukan karena tak ingin, tapi karena tidak ada lagi yang mau mendengar. Semua orang hanya sibuk berbicara, padahal, bukankah dua telinga dan satu mulut diciptakan bukan tanpa alasan?

Yuk, kita latih diri kita sendiri untuk menjadi pendengar yang baik.

Kaleidoskop 2018

Apa saja yang terjadi pada diri saya setahun terakhir?

Januari: Awal tahun, saya hanya disibukkan dengan menyelesaikan laporan magang dan mencari judul skripsi. Januari adalah bulan di mana saya bingung setengah mati mau bikin skripsi yang seperti apa. Alhamdulillah, di bulan ini juga judul skripsi saya di-acc oleh dosbing kesayangan, Mas Tan. Saya memutuskan untuk mengambil penelitian kuantitatif dengan topik clickbait di situs berita media daring.

Februari: Bulan kedua di tahun 2018, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya di Jakarta, di umur yang ke-21. Agak miris ya? Mau bagaimana lagi, orang tua saya emang sensitif kalau saya minta sesuatu yang aneh-aneh. Minta untuk pergi ke luar kota sendirian, tapi pada akhirnya saya hanya diberi izin jika ditemani kawan karib saya, si Afifah itu. Pergi ke Jakarta dan merasakan naik KRL, busway, melihat Monas, Kota Tua, rasanya sangat menyenangkan. Saya juga bisa bertemu dengan teman-teman blog, pengalaman yang tentu nggak akan bisa saya lupakan.

Maret: Akhirnya saya seminar proposal yeay! Sempro yang berjalan lancar namun sedikit menegangkan. Butuh waktu satu setengah jam sampai akhirnya sempro saya berakhir dan di-acc oleh kedua dosen penguji. Sangat bersyukur karena dosbing saya, Mas Tan, cukup membantu selama proses sempro. Masih saya ingat gimana gugup dan groginya saya saat sempro. Jauh lebih dahsyat ketimbang sidang huhuhu. Baca selebihnya »

Pengingat

Aku bersyukur.

Untuk:

Kemarin.

Hari ini.

Esok.

Sampai tua nanti.

Sampai mati.

Terima kasih karena sudah berjuang.

Terima kasih karena mau bertahan.

Terima kasih.

Ingatlah.

Kamu berharga.

Kamu layak bahagia.

Kamu pantas merasa bangga.

Atas dirimu sendiri.

Atas usaha kerasmu.

Atas luka yang mendewasakan.

Atas semua yang sudah kamu perjuangkan.

Semangat!

Perbarui cintamu pada diri setiap hari.

261118

Kupikir

Banyak yang bilang, akan menyenangkan rasanya bila kita mencintai seorang teman. Cinta yang hadir dan perlahan tumbuh dari suatu pertemanan. Aku tak bisa untuk tidak setuju. Membayangkan teman diskusi, teman bercanda, teman berceritaku selama ini menjadi teman hidupku rasanya seru. Tidak akan canggung, tidak akan terasa aneh karena aku sudah sangat mengenalnya. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi, karena sudah kuanggap dia sebagai buku harian berjalanku.

Tapi bukankah sesuatu yang baik juga bisa berarti buruk?

Tak semua kisah cinta yang berawal dari sebuah pertemanan akan selalu berjalan lancar kan? Ini yang kutakutkan.

Ketika aku mencintai seorang temanku dan semuanya tidak berjalan lancar, aku akan kehilangan dua hal. Teman dan kekasih.

Bukan dua hal, kupikir aku akan kehilangan segalanya.

Ibuku

Kata banyak orang, kalimat “surga ada di telapak kaki ibu” tak akan bisa benar-benar kita pahami sampai suatu hari nanti kita sendiri yang menjadi ibu. Tapi menurutku lain, aku tak perlu menjadi ibu untuk memahami betul surga ada di telapak kakinya. Ibuku sudah membuatku percaya bahwa di telapak kakinya, ia lebih dari sekadar pantas untuk mendapatkan surga.

Ibuku bangun paling pagi setiap hari. Rutinitas paginya sudah kuhapal sejak aku lulus SMP. Membangunkan keenam anaknya untuk sholat subuh, menanak nasi, memasukkan semua baju kotor di mesin cuci, menyiapkan sarapan dan bekal anak-anaknya sekolah, kemudian mengantar anak-anak sekolah. Sepulang dari sekolah ia tidak langsung ke rumah, ibu ke pasar membeli bahan masakan yang makin tahun harganya makin mahal, tapi uang belanja tidak pernah dinaikkan. Ibuku, ia tak pernah kehabisan akal untuk “mau masak apa hari ini” dengan uang belanja sekadarnya.

Sepulangnya dari pasar, ibu menyiapkan cemilan favorit bapak: gorengan. Kemudian sambil memakan gorengan ibu berbincang dengan bapak. Tak ada habisnya topik perbincangan mereka bahkan setelah 24 tahun bersama. Setelah itu? Ibu akan menyiapkan sarapan untuk bapak sebelum berangkat kerja, dan memasak setelah bapak berangkat kerja. Sudah selesai? Belum, selepas memasak ibuku mengatur usaha franchise ayam gorengnya. Rutinitas paginya selalu begitu dan seperti itu.

Tidak ada ibu yang tidak istimewa kan? Begitu pula ibuku. Meski ibuku seorang ibu rumah tangga, kesibukannya di luar rumah tak bisa dianggap remeh. Aku hapal kegiatan rutinnya setiap hari, sepertinya tak perlu kutulis di sini untuk membuktikannya. Yang jelas, ibu tak suka berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Sayangnya, semakin ibuku sibuk, penyakitnya semakin sering kambuh. Biasanya ketika kambuh, ibu hanya butuh segelas teh panas dan istirahat yang cukup. Setelah itu ibuku akan kembali menyibukkan diri. Entah mengisi pengajian, rapat sebagai yayasan di sekolah, atau sekadar menemani ibu mertuanya.

Aku tidak perlu membuktikan apa-apa untuk yakin bahwa surga ada di telapak kaki ibuku. Hanya dengan melihatnya satu hari saja melakukan segala rutinitasnya, aku bisa mengerti. Malaikat tanpa sayap tak perlu kucari jauh-jauh, ia selalu ada di dekatku.

Menjadi ibu itu berat, apalagi ibu yang seperti ibuku. Entah berapa banyak luka dan duka yang dialaminya sehingga menjadi ibu yang sekuat ibuku. Aku banyak belajar darinya. Belajar dari kebesaran hatinya, ketulusan jiwanya, keberanian hidupnya, keteguhan prinsipnya.

Menjadi ibu itu berat. Ibuku, ia memutuskan untuk berhenti. Berhenti memiliki keinginan, berhenti memikirkan dirinya sendiri, berhenti bercita-cita. Berhenti, hidupnya tak pernah lagi untuk dirinya sendiri.

Dilarang Memotret

Pernah nggak sih lagi jalan-jalan ke suatu toko, mal, swalayan, dan sejenisnya lalu ditegur oleh mbak-mbak karyawan karena ketahuan memotret?

Saya nggak tahu entah sejak kapan saya merasa larangan memotret itu mengganggu. Begini, toko sah-sah saja memberikan regulasi seperti itu, saya juga sah-sah saja ditegur oleh mbak-mbak karyawan karena ketahuan memotret. Tapi bisakah mbak-mbak karyawan sebentar saja mengizinkan saya untuk memotret karena….

Ada banyak alasan kenapa seseorang dengan sangat terpaksa harus memotret barang di toko perbelanjaan. Dalam kasus saya sendiri, saya hanya memotret untuk simbah. Simbah seperti namanya, sudah tua, terlampau ringkih untuk bisa jalan-jalan dan berbelanja memilah-milih barang. Bersyukur ada media bernama whatsapp, yang memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan simbah, tentu saja dengan cara mengirim gambar-gambar hasil jepretan saya untuk kemudian dipilih simbah. Simbah tidak perlu repot naik kursi roda dan merasa capek. Dalam hal ini, saya juga nggak merasa pihak toko dirugikan, sebab toh saya juga akan beli barangnya. Terdengar egois? Saya rasa tidak. Asalkan sebelum memotret atau ketika memotret saya bilang ke mbak-mbak karyawan mengapa saya harus melakukan pelanggaran itu.

Saya pernah meminta izin dan kemudian dibolehkan, pernah juga ada mbak-mbak karyawan yang melarang meski sudah dijelaskan. Baik, itu memang peraturannya, saya hanya bisa merasa kecewa.

Maksudnya begini, selama saya tidak menggunakan atau menyebarkan foto hasil jepretan saya bukannya tidak masalah? Atau edukasi saya yang kurang ya soal ini? Kalau memang ada yang bisa menjelaskan, saya betul-betul akan mengapresiasinya.

Family of The Year – Carry Me

When you try but it’s too much

And hurting yourself is not enough

Think of everyone who has it worse than you

There is no curse on you

Kupikir jika aku mengeluh, aku tidak akan mendapatkan apa-apa selain merasa semakin sedih.

“Bukankah ada banyak sekali orang di luar sana yang hidupnya tidak pernah mudah?”

Kupikir jika aku mengeluh, aku merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia. Kemudian aku ingat nasihat guru olahraga SMA dulu,

“Jadi orang jangan merasa yang paling ‘paling’, paling capeklah misalnya. Ada yang lebih capek dari kamu, capekmu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama dia”

Buat apa sih aku mengeluh? Ada banyak hal lain yang harus disyukuri dari secuil masalah hidupku.

Buat apa sih aku mengeluh? Ada doa-doa baik dari keluarga dan teman terdekat yang selalu menyertaiku.

Buat apa sih aku mengeluh? Karena ketika aku menyadarinya, keluhanku juga bermula dari kesalahanku sendiri.

Won’t you realize it’s not that bad

And a chance to love is all you ever have