Semua Benar

Hari ini aku merasa sedih, dan aku sedih karena banyak hal. Ah lebay, cuma beberapa hal kok, tapi tetap saja rasanya sedih. Aku menahan air mataku agar tidak tumpah, tapi akhirnya tumpah juga di sela-sela menonton drama Hospital Playlist. Apakah aku menangis karena dramanya yang bikin sedih atau suasana hatiku yang memang sedang sedih? Entahlah, yang jelas, setelah melahirkan aku merasa makin sering sedih.

Tapi aku baru tau, sedih setelah melahirkan ini berbeda dengan sedih-sedih sebelumnya. Kalau sebelumnya aku suka berlarut dalam kesedihanku, setelah melahirkan sedihku cenderung sebentar-sebentar saja. Banyak yang harus dilakukan sampai untuk sedih saja aku enggan berlarut-larut. Atau mungkin aku sengaja melakukan banyak hal agar aku tak selalu ingat hal yang membuatku sedih. Dua kemungkinan itu biarlah aku benarkan semua.

Kangen

Dulu sebelum menikah, kupikir hubungan LDR tidaklah seburuk itu. Aku dan suamiku sepertinya sama-sama sepakat untuk hal itu, karena kami memang dari awal kenal sampai sebelum akad sudah terbiasa untuk tidak saling bertemu dalam jangka waktu yang cukup lama. Setahun bisa bertemu sekali dua kali juga udah syukur. Bagiku saling memberi kabar lewat chat atau telpon sudah sangat cukup untuk mengobati rindu. Yah, tapi itu dulu.

Sekarang kami sudah menikah hampir dua tahun, dan selama itu juga kami selalu berdua. Kamu lagi kamu lagi. Anehnya kami masih sesekali saling bertanya, “bosen nggak sih sama aku?” dan jawaban kami berdua masih selalu sama, “nggak, nggak pernah bosen. Nanti kalau bosen bilang deh”

Nyatanya nggak pernah ada yang berucap bosan sampai sekarang. Bagiku itu sesuatu yang harus kusyukuri sih. Alhamdulillah.

Namun semuanya berubah sejak dua minggu yang lalu. Kami, aku dan suami, dengan sangat terpaksa harus LDR lagi. Kehamilanku yang semakin tua dan pilihan kami berdua untuk melahirkan di kota kelahiranku membuat kami mau tak mau harus berjauhan dulu. Pilihan yang kami pilih ini juga bukan cuma atas keegoisanku seorang, tapi lebih kepada baiknya memang melahirkan di Semarang dulu. Di tempat dinas suami sedang tidak ada dokter kandungan. Sangat riskan melahirkan di sana, terlebih fasilitas kesehatan yang masih kurang memadai. Intinya, keputusan ini sudah kami pikirkan matang-matang, termasuk risiko akan LDR untuk waktu yang teramat lama.

Tadinya kupikir mudah, tapi….

Menjelang hari-hari terakhir sebelum berpisah, aku betul-betul sedih. Setiap malam menangis sambil melihat wajah suami yang asyik terlelap. Membayangkan hari-hari tanpa suami di sisi semakin hari semakin berat. Tentu suami tau aku sangat sedih, tapi dia selalu berusaha menguatkan dirinya sendiri kalau berpisah memang tidak seberat itu. Yah, ujung-ujungnya kami sempat beberapa kali menangis bersama sambil berpelukan sebelum pada akhirnya benar-benar berpisah secara fisik.

Sebelum berpisah, aku membayangkan suami akan jauh lebih merasa berat untuk hidup tanpa ada aku di sisinya. Nyatanya? Terbalik. Aku yang merasa amat sangat berat tanpa ada suami di sisiku. Aku yang sering cemas menunggu chat, telpon, atau video call darinya. Aku yang sering kepikiran dia udah makan belum ya, makannya bergizi atau nggak ya. Aku yang lebih sering bilang kangen duluan, atau aku yang maunya berlama-lama tiap video call sampai mengganggu jam kerjanya. Huft, entah kenapa setiap kali suami kutinggal, pekerjaan atau problematika dia di kantor semakin besar dan banyak. Jadilah suami lebih banyak memforsir dirinya untuk bekerja, sampai istrinya kadang terlupa. Untung sudah mulai terbiasa. :’)

Seperti malam ini misalnya, dari dulu awal menikah, aku suka menyindir suami, coba sekali-sekali dia tidur belakangan setelah aku tidur duluan tiap malam weekend. Habisnya aku suka kesel, setiap malam, literally tiap malam, suami selalu yang tidur duluan. Entah kenapa dia nggak pernah bisa kuat lama-lama sadar diri kalau udah nemplok bantal. Tau-tau pulas, tau-tau nggak nyahut kalau diajakin ngobrol. Ya seperti malam ini, inginnya aku video call sebentar sebelum tidur, eh dianya ternyata udah asyik duluan di dunia mimpi, padahal masih jam 9 malam kurang, dan malam ini malam weekend. :’)

Begini ternyata rasanya LDR lagi setelah menikah. Berat, sungguh berat untukku.

Satu Pertanyaan

Malam ini aku tidak bisa tidur karena satu pertanyaan terus terngiang di otakku.

“Apakah aku semenyebalkan itu?”

Satu pertanyaan yang mau tak mau membuatku merunut semua kejadian yang ada, yang pada akhirnya mengerucut dari satu sumber.

Sumbernya memang hanya satu, tapi yang satu itu bisa membuat semua rentetan kejadian itu menjadi beragam.

“Ah, karena aku sudah menikah”

“Sayangnya aku sudah menikah”

“Itu semua karena aku menikah”

Yah, sumbernya satu. Menikah.

“Karena menikah, mau tak mau aku harus beradaptasi di lingkungan yang sangat asing bagiku”

“Karena menikah, aku kehilangan banyak teman dekatku”

“Karena menikah, aku merasa kesepian, karena yang kukenal akrab di sini hanya suamiku”

“Karena menikah, aku tidak bebas berjalan-jalan seperti dulu”

“Karena menikah, aku lebih suka menghabiskan waktu sendiriku di rumah”

“Karena menikah, mau tak mau aku harus akrab dengan orang asing, dengan bahasa baru yang tidak terlalu akrab di telingaku sebelumnya (bahkan sampai sekarang)”

“Karena menikah, duniaku lebih banyak berputar di kehidupan suamiku”

“Karena menikah, aku berteman dengan orang-orang baru yang tidak sefrekuensi denganku”

“Karena menikah, aku menunda beberapa keinginanku atau pencapaianku”

“Karena menikah, aku jauh dari orang tua dan kakak adikku”

Dan tentu masih ada banyak cabang lain yang jika disebutkan di sini semuanya, aku akan capek mengetiknya.

Heran ya, padahal cuma dari satu pertanyaan, “apakah aku semenyebalkan itu?”

Aku tak ingin menyalahkan keadaanku yang sedang hamil sih, tapi entah mengapa aku merasa makin sensitif beberapa minggu belakangan. Suamiku sendiri yang bilang, aku makin gampang nangis. Dan sekalinya nangis, aku langsung insecure. Hadeh, ini seperti bukan aku.

Aku bisa sedih banget lho cuma karena suami bilang lagi kesel ke aku, biasanya kalau suami kesel ya aku minta maaf terus yaudah selesai. Lha ini kenapa minta maaf terus sambil nangis, pakai acara kepikiran lagi setelahnya. Kan jadi capek karena nggak bisa tidur-tidur.

Aku juga bisa tiba-tiba ngerasa sedih aja tiap dichat teman, atau aku ngechat teman, tapi respons yang diberikan teman terkesan datar. Kayak, “aku ngetiknya salah ya? Harusnya tadi nggak gini” lalu langsung kepikiran memoriku sama temanku ini yang dulu akrab banget, tapi sekarang berasa orang asing.

Sepertinya memang akunya saja yang kelewat menyebalkan.

Hmm, bukan berarti aku menulis ini karena menyesali pernikahanku. Bahkan aku merasa masih sangat bersyukur sampai detik ini bisa menikah dengan suamiku. Ada banyak hal baru yang tentunya sangat membuatku bahagia menjalaninya. Salah satunya keajaiban berupa satu janin yang sehat sedang bertumbuh di rahimku.

Aku hanya ingin menuliskan keresahanku saja malam ini. Suami sudah sering mensupportku untuk menulis di blog lagi, tapi baru malam ini aku tergerak karena bingung mau ngapain kalau lagi sulit tidur. Mungkin besok aku akan menyesali tulisan ini, tapi biarlah, kalau pun iya menyesal, aku kan bisa hapus tulisannya HAHAHA.

Ya sudah, selamat malam. Aku sayang banget sama suamiku.

September

Bulan September, bulan di mana memori selalu memaksaku untuk kembali mengenang patah hatiku beberapa tahun yang lalu. Ditemani rintik hujan dan detik jam dinding kamar, aku mencoba mengingat kisah patah hatiku saat itu.

Aku hilang, patah hati membuatku hilang.

Entah berapa malam kuterisak mengasihani diri. “Selama ini kau anggap aku apa? Atau aku yang di tanah kepalang tak tahu diri mendambamu yang di langit?”

Entah berapa coretan di buku harian yang kutulis untuk melampiaskan nasib patah hatiku. “Kali ini semuanya benar-benar berakhir. Tak ada harapan”.

Mengingat masa itu, membuatku berpikir bahwa aku pernah sebodoh itu menghadapi cinta. tapi bukankah memang begitulah cinta? Kadang kamu harus menjadi bodoh dulu agar benar-benar bisa belajar dan tak mengulangi kesalahan yang sama.

Sejak saat itu aku bertekad, aku tak akan mudah jatuh cinta lagi. Aku tak mau hancur lagi. Kehilangan diriku sendiri adalah perasaan paling buruk yang pernah kualami.

Dua-empat tahun kulewati, banyak yang hadir tapi enggan kutaruh di hati. “Buat apa kalau nantinya juga hancur lagi?”

Dan pada saat itu pula, di bulan September tiap tahunnya, aku selalu merenung, rasanya ada yang kurang bila aku belum merayakan kenangan patah hatiku. Merenung, tentu sambil mendengarkan lagu-lagunya Kodaline. Lagu All I Want jadi satu lagu wajibku,

Cause you brought out the best of me. A part of me I’d never seen. You took my soul wiped it clean. Our love was made for movie screens

Penggalan lirik di atas adalah favoritku. Rasanya Kodaline betul-betul memahami perasaan dan emosiku saat patah hati.

Lalu di akhir masa kuliah, kamu datang. Awalnya aku tak begitu peduli, tapi kehadiranmu yang perlahan itu membuatku tergerak. Membuatku mau tak mau luluh juga.

Jika semasa patah hatiku dulu aku selalu mendengarkan lagu-lagu sendu Kodaline, setelah mengenalmu, aku tak mendengarkan lagunya lagi. Atau bahkan aku tak mendengar semua lagu lagi. Karena menurutku, chat, suara, tawa, atau pun gurauanmu sudah seperti lagu untukku. Lagu yang candu, bahkan sampai sekarang atau sampai esok tua nanti.


Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan dari teman ngeblog bareng semasa kuliah dulu, Yobelta dan Reyuni. Inget nggak sih kapan terakhir kali kita bikin challenge kayak gini? Semester 5 bukan sih? Waktu belum sibuk skripsian HAHAHA. Akhirnya kali ini bisa direalisasikan lagi, meski kuyakin kalian akan ngaret dari deadline yang ditentukan hihi. Tapi nggak papa, tau kalian ada semangat nulis di blog lagi aja aku udah seneng banget! Ditunggu tulisan bertema kalian ya. Luv❤️

Genggam

Pagi itu, perasaanku membuncah, senang bukan kepalang. Meski tidurku semalam hanya 3 jam, ditambah bolak-balik ke kamar mandi yang sampai 7 kali. Tak mengapa, wajahku sama sekali tak nampak kurang tidur.

Pagi itu, setelah akad diucapkan dengan penuh keyakinan, aku dipersilakan untuk duduk di sebelahmu. Aku grogi bukan main, kita tak pernah duduk sedekat ini. Sambil mendengarkan khutbah nikah, aku mencoba menghilangkan rasa grogiku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu menyentuh tangan kiriku. Sentuhan yang kemudian berakhir menjadi genggaman. Genggaman yang erat, hangat, dan nyaman. Tentu disertai keringat tanda aku tidak grogi seorang diri. Aku tersenyum menahan malu, sambil sedikit menoleh ke arahmu. Aih, manisnya si pemilik senyum itu.

Pagi itu aku tahu, aku tak pernah salah memilihmu untuk menjadi teman seumur hidupku.

Semarang, 24 November 2019


Beberapa minggu yang lalu suami sempat bilang, “Dek, akhir-akhir ini abang punya 2 hobi baru. Pertama, abang suka liatin wajah adek waktu lagi tidur. Kedua, abang suka liat wajah adek kalau lagi fokus,” yang tentu kemudian saya “Huuuu gombaaaaal” kan. Tapi akhir-akhir ini, hobi saya kok ketularan suami ya, saya jadi suka ngelihatin suami kalau lagi tidur. Rasanya bahagia banget bisa ngelihat wajah polosnya, sambil sesekali saya ciumin pipi, kening, sama bibirnya. Kayak malam ini, saya nggak bisa tidur, jadi ngetik spontan deh sambil sesekali lihatin suami yang udah nyenyak tidurnya. Hehehe.

Saya Akan Menikah

Dari dulu sebetulnya saya sudah ingin menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan. Entah itu kisah awal mula bertemu doi, suka dan duka menjalani proses menuju halal, ribet dan serunya mempersiapkan pernikahan, dan sebagainya. Namun apa daya, semua keinginan itu hilang atau tertunda karena, ya apa lagi kalau bukan karena takut dibombardir dengan beragam reaksi dan kekagetan dari para netizen. Pasalnya, saya ini setiap ikut reuni, selalu digadang-gadang jadi orang yang terakhir nikah. Secara dari segi penampilan, blas nggak ada anggun-anggunnya. Cantik? Yaa banyak yang lebih cantik. Lemah lembut? Hahaha, jauh. Pintar memasak dan membuat kue? Sama sekali belum bisa! Jadi nggak heran juga sih kalau banyak teman yang meragukan saya bisa menikah secepat ini. Saya pun sampai sekarang masih suka mikir, “mungkin doi lagi khilaf aja kali ya sekarang makanya pengin jadiin aku istri?” Tapi pertanyaan itu akhirnya terjawab setelah doi dengan sok kerennya bertitah, “aku membuat keputusan ini dengan penuh kesadaran kok, sama sekali nggak khilaf”. Hmm baiklah, setelah doi bilang begitu, akhirnya saya percaya, kalau doi sudah dan akan terus menerima saya yang penuh dengan segala minusnya. Ini saya catet di blog biar kamu juga inget lho, Bang!

Karena itulah sampai detik ini juga, teman-teman yang tahu perihal saya akan menikah masih sedikit. Hanya mereka yang akrab dan paham soal perjalanan cinta saya yang tahu, dan tentu saja teman-teman blog baik di komunitas Obrolin atau pun kalian yang di beranda. Kenapa kok teman-teman Obrolin dan blog bisa tahu lebih dulu daripada teman SD, SMP, SMA, kuliah, atau bahkan teman kerja saya? Ya karena saya ketemu doi lewat blog. Hahaha, unik juga konsep jodoh ini. Yap, mungkin sebagian besar dari kalian sudah tahu siapa sosok doi ini. Bagi yang belum tahu, biar saya beri tahu ya.

Baca selebihnya »

Jarak

Tidak pernah terpikir dalam benak sekali pun bahwa salah satu kendala dalam kehidupan percintaan saya adalah jarak. Kendala yang juga seringkali saya syukuri sih lebih tepatnya. Bertemu seseorang yang entah datang dari mana, dengan jarak ribuan kilometer jauhnya. Kalau ditanya berat atau tidak, jujur saja, awalnya tidak ada berat-beratnya sama sekali. Mau gimana lagi? Tahu dan kenal orangnya pun juga tidak langsung bertatap muka. Jadi selama masa pendekatan, jarak yang ribuan kilometer jauhnya itu tak pernah jadi persoalan. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan berbunga-bunga yang kian tumbuh, rasa nyaman dan cocok yang terus berkembang, dan segala hal yang tadinya biasa saja menjadi menyenangkan, membuat jarak mulai berubah menjadi kendala. Beragam monolog pun sering tak sadar terucap.

“Aku kangen”

Baca selebihnya »

Draft: November, 2017

“Hingga saat ini kau masih satu-satunya

Yang paling mengerti aku, semua baik burukku

Hingga detik ini, aku masih orang itu
Kau kenal dengan hatimu, masih seperti dulu”

Aku tidak tahu siapa atau apa yang berubah. Pun sama tidak tahunya dengan semua kekakuan temu yang saling kita lakukan hari ini.

Tidak ada sapaan atau lambaian tangan khasmu untukku, aku hanya melihat senyum tersungging canggung di wajahmu. Tidak ada sepatah dua patah kata terucap dari bibirmu, kamu hanya menatapku sebentar dan berlalu.

Tidak mengapa, sungguh.

Tapi seandainya kamu tahu, senja tadi aku menikmati kesendirianku di bawah payung pantai dengan memandangi punggungmu. Aku melihatmu menggandeng mesra, berlarian, hingga bermain ombak bersama dengan bunga mataharimu.

Tawamu belum berubah, masih tetap hangat. Tawa yang dulu selalu menjadi bekalku jalani hidup. Tawa yang bahkan masih bisa kulihat jelas dengan mata minusku.

Kamu hati-hati mendampingi bunga mataharimu, sekali dua kali kamu mengambil gambarnya atau mengajaknya selfie. Lebih sering kalian saling melemparkan pasir basah, kulihat kacamatamu terkena pasir.

Aku terkekeh dari kejauhan sambil menyeruput es kelapa muda.

Aku tidak tahu siapa atau apa yang berubah. Yang aku tahu, kebiasaanku memperhatikanmu dari jauh tidak pernah berubah.

Yang bisa kulakukan memang hanya diam. Diam-diam mengamati lalu mengagumi kemudian menyukaimu. Diam-diam bahagia mendapat secuil perhatian darimu. Diam-diam berharap. Diam-diam mendoakan. Diam-diam patah hati dan mencoba bangkit.


Saking bingungnya mau nulis apa bulan ini di blog, nggak sengaja menemukan draft dari hampir dua tahun yang lalu. Hmm hampir dua tahun yang lalu ya, sudah selama itu ternyata saya nggak bertemu dan tahu kabar doi. Tapi nggak papa, karena kadang, sebaik-baiknya kabar adalah tidak ada kabar.