Obrolan Sore

“Cinta pertama itu nggak ada”

Reno, satu-satunya teman cowok yang kumiliki sejak zaman ingusan reflek memotongku bercerita ketika aku tengah asyik mengocehkan si cinta pertamaku di masa putih biru.

“What? Cinta pertama itu ada dan nyata kali Noy!” Noy adalah panggilan akrab dariku untuk Reno.

“Nggak, cinta pertama itu nggak pernah ada. Mana buktinya?”

“Si Tamir, temen SMP kita, doi adalah bukti cinta pertama gue ada dan nyata”

Reno mendengus mendengar nama Tamir untuk yang kesekian kalinya sore ini.

“Tamir bukan cinta pertama lo, Mira” Katanya sambil mengaduk-aduk es coklat kesukaannya.

“Lho? Lo inget sendiri kan dulu waktu SMP gue heboh banget cerita ke lo soal si Tamir cakep anak basket? Tamir lelaki pujaan tiap cewek di SMP kita Noy! Lo lupa? Lo lupa betapa berbinar-binarnya mata gue waktu cerita soal Tamir ke lo?”

“See? Tamir bukan cinta pertama lo Mira” Kali ini Reno mengambil sepotong pizza kemudian memasukkannya ke dalam mulut mungilnya.

“Terus siapa cinta pertama gue Noy kalo bukan Tamir?”Read More »

Iklan

Air Laut yang Tak Asin

Di senja yang kamu lebih suka menyebutnya sore itu, kita berjalan menyusuri pantai. Pantai dengan pasir tak putihnya dan ranting-ranting berserakan di bibir pantainya.
“Sayang, kenapa dari sekian pantai yang ada di kota ini, kamu memilih untuk mengajakku kemari? Bukankah pantai di utara sana jauh lebih indah?” tanyaku padamu.

“Coba tebak,” jawabmu menyebalkan sambil menggelitik tanganku yang sedang kamu genggam.

“Yaaah curang! Hmm kenapa ya? Aku sama sekali nggak menemukan sesuatu yang menarik dari pantai ini,” aku menjawab jujur.

Kamu hanya diam. Sempat kupikir kamu tersinggung mendengar jawabanku, tapi untungnya tidak. Kamu malah semakin mempererat genggamanmu dan mengajakku ke tanggul tepian pantai. Di sana kami duduk, lalu kamu menyeburkan kakimu sedalam lutut. Aku masih menunggu jawaban darimu.

“Coba rendam kakimu sepertiku,” kamu menyuruhku mengikutimu.

Aku rendamkan kakiku juga, sambil kugerak-gerakkan mengikuti arus gelombangnya. Aku masih menunggu jawaban darimu.

“Sayang, kamu tahu tidak apa menariknya pantai ini?” tanyamu sambil menatap mataku lamat-lamat.

“Kan tadi aku udah bilang, aku nggak menemukan satu pun yang menarik dari pantai ini,”

“Ada yang menarik dari pantai ini,”

“Apa?”Read More »

Melepaskan

I wondered how you still remembered me

I heard you settled down and that you married happily

Do you remember when I told you

That I’d love you to the bottom of the sea

Yeah I know I know it’s over

But I guess that’s just the way it has to be

Rasanya baru kemarin aku menerima undangan pernikahanmu. Rasanya baru kemarin aku tersenyum menyelamati pernikahanmu. Rasanya baru kemarin aku kurang ajar menangisi salah satu momen paling bahagiamu.

Tadi aku melihatmu, dengan istri dan anak perempuanmu yang giginya baru tumbuh satu. Kamu menggendong anakmu sambil menggenggam erat tangan istrimu. Lalu kamu tersenyum, ah senyuman itu, senyum yang terekam abadi dalam memoriku.

Rasanya baru kemarin aku mendengarmu mengucap terima kasih karena sudah menyempatkan hadir ke pernikahan sederhanamu.Read More »

Persoalan Rindu

Seperti malam-malam sebelumnya.

Rindu adalah benalu yang membenamkanku dalam pilu-pilu.

Menikam jantung dengan parau suaramu.

Di ujung langit sana

kudengar kau berdoa dengan air mata.

Mengajukan pinta pada Tuhan agar kita

tetap mampu bertahan di kejauhan.

Sementara di sini, rindu sudah mengubah diri menjadi pisau, diirisnya dada sampai malam kacau.

– Seperti Malam-Malam Sebelumnya, Boy Candra –

 

Bagaimana pun, rindu itu kejam

Ia tak berujung, menerormu di tiap sepinya malamRead More »

Bahag(ia)

Cause baby you look happier, you do
My friends told me one day I’ll feel it too
And until then I’ll smile to hide the truth
But I know I was happier with you

Pada cinta yang tidak bisa kurengkuh karena terlampau jauh, aku ingin menyampaikan sesuatu,

Kalau aku tidak bisa memilikimu, izinkan aku mengintipmu dari sisa patah hatiku

Kalau aku tidak bisa memilikimu, biarkan aku bertemu denganmu dalam mimpiku yang sendu

Kalau aku tidak bisa memilikimu, bolehkah bagiku untuk tetap mencintaimu?Read More »

Tentang Kejutan

Malam itu, aku masih ingat betul, aku sudah mengunci semua pintu rumahku. Ayah dan Ibu sedang berlibur ke Bali, sedangkan adikku menginap di rumah temannya, mau mengerjakan tugas katanya. Baiklah, aku di rumah sendiri.

Jam 10 malam, aku mengantuk. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur setelah selesai mengecek kembali semua pintu di rumah. Sudah aman, pikirku. Sambil mencoba terlelap, aku mendengarkan musik. Tak lama, aku mendengar telepon rumah berbunyi.

“Ah males banget ngangkatnya, biarin aja ah, siapa juga yang larut malam begini nelpon?” pikirku, tak ambil pusing.

Kali ini gantian ringtone handphoneku yang berbunyi menggantikan nada lagu yang sedang kuputar. Ah, Ayah telepon.Read More »

Elegi Hujan

Baru kali ini aku membenci hujan, juga terusik dengan gemericik rinainya. Baru kali ini aku tak berselera menyambut hujan, atau menanti pelangi yang muncul setelahnya.

Aku kecewa pada diriku sendiri karena hujan, seperti ada beban berat di pundakku ketika hujan dengan seenaknya turun. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain hanya menatap rintiknya, atau pun menghirup aroma petrichor-nya. Sudah itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Aku tidak lagi menemukan keistimewaan hujan

Aku tidak menjumpai kenangan bersamamu lagi di dalamnya

Aku tidak sedih atau bahagia mengingatmu lagi ketika hujan

Aku bahkan tidak bisa merangkai diksi-diksi manis seperti yang sering kita mainkan dulu saat hujan

Padahal katamu, tidak ada suara yang lebih romantis selain gemericik air hujan yang sedang turun kan?

Ah

Aku kosong, dengan atau tidak adanya hujan

Atau mungkin, dengan atau tidak adanya kamu di sisiku

Tapi biarlah, tetap seperti ini saja. Biarlah kali ini hujan memegang kuasa untukku. Biarlah hujan memperdayaku. Biarlah rintiknya menghujam tajam rinduku. Biarlah gemuruh petirnya memekakkan telinga hatiku. Biarlah badai anginnya merobohkan benteng pertahananku. Biarlah. Karena dengan begitu, aku tidak akan merasa kosong lagi.

P.S: UntukĀ Rey, diketik dengan segenap keresahan karena hujan ternyata tidak cukup mampu untuk membangkitkan gairah menulisku. Aku lelah dengan kosongnya insipirasi. Rasanya nggak adil kalau kamu menulis begitu panjang, sedangkan tulisanku sangat singkat serta sudah basi deadline. Maafkan, akan kutebus kok. Setelah segala konsul, eksekusi dan segala tetek-bengek semester lima selesai ya, Rey!

Ayo menulis bertema lagi! (tapi nanti wkwkwk)