Dilarang Memotret

Pernah nggak sih lagi jalan-jalan ke suatu toko, mal, swalayan, dan sejenisnya lalu ditegur oleh mbak-mbak karyawan karena ketahuan memotret?

Saya nggak tahu entah sejak kapan saya merasa larangan memotret itu mengganggu. Begini, toko sah-sah saja memberikan regulasi seperti itu, saya juga sah-sah saja ditegur oleh mbak-mbak karyawan karena ketahuan memotret. Tapi bisakah mbak-mbak karyawan sebentar saja mengizinkan saya untuk memotret karena….

Ada banyak alasan kenapa seseorang dengan sangat terpaksa harus memotret barang di toko perbelanjaan. Dalam kasus saya sendiri, saya hanya memotret untuk simbah. Simbah seperti namanya, sudah tua, terlampau ringkih untuk bisa jalan-jalan dan berbelanja memilah-milih barang. Bersyukur ada media bernama whatsapp, yang memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan simbah, tentu saja dengan cara mengirim gambar-gambar hasil jepretan saya untuk kemudian dipilih simbah. Simbah tidak perlu repot naik kursi roda dan merasa capek. Dalam hal ini, saya juga nggak merasa pihak toko dirugikan, sebab toh saya juga akan beli barangnya. Terdengar egois? Saya rasa tidak. Asalkan sebelum memotret atau ketika memotret saya bilang ke mbak-mbak karyawan mengapa saya harus melakukan pelanggaran itu.

Saya pernah meminta izin dan kemudian dibolehkan, pernah juga ada mbak-mbak karyawan yang melarang meski sudah dijelaskan. Baik, itu memang peraturannya, saya hanya bisa merasa kecewa.

Maksudnya begini, selama saya tidak menggunakan atau menyebarkan foto hasil jepretan saya bukannya tidak masalah? Atau edukasi saya yang kurang ya soal ini? Kalau memang ada yang bisa menjelaskan, saya betul-betul akan mengapresiasinya.

Family of The Year – Carry Me

When you try but it’s too much

And hurting yourself is not enough

Think of everyone who has it worse than you

There is no curse on you

Kupikir jika aku mengeluh, aku tidak akan mendapatkan apa-apa selain merasa semakin sedih.

“Bukankah ada banyak sekali orang di luar sana yang hidupnya tidak pernah mudah?”

Kupikir jika aku mengeluh, aku merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia. Kemudian aku ingat nasihat guru olahraga SMA dulu,

“Jadi orang jangan merasa yang paling ‘paling’, paling capeklah misalnya. Ada yang lebih capek dari kamu, capekmu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama dia”

Buat apa sih aku mengeluh? Ada banyak hal lain yang harus disyukuri dari secuil masalah hidupku.

Buat apa sih aku mengeluh? Ada doa-doa baik dari keluarga dan teman terdekat yang selalu menyertaiku.

Buat apa sih aku mengeluh? Karena ketika aku menyadarinya, keluhanku juga bermula dari kesalahanku sendiri.

Won’t you realize it’s not that bad

And a chance to love is all you ever have

Tak Kasatmata

Hai, aku ingin bercerita. Kali ini aku akan menceritakan soal kawanku. Dia si tak kasatmata, sebut saja begitu. Tenang, dia sama sekali tak berkeberatan kusebut demikian.

Dia bukan orang yang aneh, tapi entah mengapa banyak orang menganggapnya demikian. Dia sebenarnya juga bukan si pemalu, tak kasatmata hanya takut untuk memulai perbincangan dengan orang yang tak benar-benar ia kenal.

Si tak kasatmata punya beberapa teman. Temannya tidak bisa dibilang sedikit juga sih, lumayan untuk bisa diajak nonton atau nongkrong. Lucunya, teman si tak kasatmata ini terlampau hebat. Teman si tak kasatmata dikenal oleh siapa saja di kampusnya. Setiap si tak kasatmata berjalan bersama temannya di kampus, temannya selalu disapa, si tak kasatmata tidak.

Begitu juga dalam lingkaran pertemanannya. Si tak kasatmata lebih suka memperhatikan teman-temannya berbicara sambil sesekali menimpali. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian, apalagi jika disuruh banyak bicara. Si tak kasatmata juga tidak mahir memberikan solusi, tapi siap menjadi pendengar yang baik untuk teman-temannya.

Suatu hari si tak kasatmata bertanya padaku, “apakah jika aku terus-terusan begini, hidupku akan baik-baik saja?”

Aku bingung harus menjawab apa. Ada yang mau membantuku memberikan jawaban untuk si tak kasatmata?

Coba perhatikan lingkaran pertemananmu, pasti akan selalu ada si tak kasatmata ini. Kalau tidak ada, coba perhatikan dirimu. Siapa tahu kamu.

Merayakan Kesedihan

Hore hore hore!

Ucapan selamat tulus aku berikan padamu yang senyumnya tak pernah absen terukir di wajah.

Hore hore hore!

Kesedihan ini harus dirayakan dengan sempurna. Menangislah sejadinya. Marahlah sepuasnya. Teriaklah sekencang-kencangnya.

Hore hore hore!

Tidakkah kau bosan menjadi manusia paling bahagia setiap harinya? Jika ingin bersedih, lakukanlah. Biarkan awan gelap menyelimuti hatimu sesekali.

Hore hore hore!

Sedihlah, dan buat semua orang di dunia ini mengerti. Bahwa menjadi manusia paling bahagia pun punya hak untuk merasa sedih.

Hore hore hore!

Berbahagialah dalam sedihmu. Rayakan dengan penuh suka cita.

Ibu-ibu dan Kebiasaan Mengantre

32540457_1306427686155733_1653073186415181824_n

Selamat datang Ramadan!

Bagaimana kabar teman-teman semuanya? Kalau saya sih

alhamdulillah kabar baik saja

Sudah empat hari berpuasa, sudah empat hari merasakan buka, sudah empat hari bergelut dengan ibu-ibu berebut antrean takjil….

Sebagai anak perempuan tertua di keluarga, tahun ini saya diberi tugas yang cukup melelahkan batin di tiap senja menjelang berbuka. Tugas apa yang paling melelahkan batin apalagi kalau bukan berburu takjil, hahaha!

Kenapa? Kok bisa?Read More »

Pendiam

“Gantian kamu dong yang cerita!”

“Mau cerita apa lagi? Tadi kan udah”

“Yah, masak dari tadi aku terus yang ngomong. Aku kan jadi kelihatan cerewet”

“Memang cerewet kan?”

“Bukan, kamu aja yang terlalu pendiam”

Sudah beberapa kali setiap bertemu teman di lingkaran pertemanan, saya mendapati percakapan seperti atau serupa itu. Sebagai perempuan tulen, saya merasa gagal karena kurang banyak bicara. Hmmm. 

Entah sejak kapan saya menjadi lebih pendiam, padahal sewaktu SD dulu simbah sampai menegur saya karena terlalu banyak bicara. Saking cerewetnya, saya sampai diberi julukan “si mulut kereta api” sama mbah. Hmmm.

Kenapa saya jadi tidak suka banyak bicara? Akhir-akhir ini saya mencoba mengingat kembali sebenarnya apa sih yang membuat saya jadi semakin diam setiap berkumpul dengan teman-teman.Read More »

Aku Lupa Kapan

You make my heart feel like it’s summer

When the rain is pouring down

You make my whole world feel so right when it’s wrong

Aku lupa kapan terakhir kali merasa senang hanya dengan bermain permainan batu-gunting-kertas sampai akhirnya aku memainkannya bersamamu. Lucu jika mengingat permainan sederhana yang kita lakukan berakhir dengan hasil yang seringkali seri, aku mendominasi menang, dan kekalahanmu yang sudah tak terhitung jumlahnya.

Aku lupa kapan terakhir kali merasa cerewet, membicarakan begitu banyak hal dengan seseorang sampai akhirnya aku mengobrol bersamamu. Aku memang bukan pencerita yang baik, tapi kamu terlalu baik karena mau repot menjadi pendengarku.

Ada banyak ‘aku lupa kapan terakhir kali merasa blablabla sampai akhirnya aku blablabla bersamamu’, tapi aku malu mengatakan semuanya. Hal-hal seperti itu entah mengapa terasa menggelikan namun punya efek yang begitu menyenangkan. Perasaan yang menggelitik perut itu pasti kamu menyukainya kan?

Mungkin aku perlu menyunting pernyataanku dulu yang dengan percaya dirinya berkata bahwa jatuh cinta punya masa kedaluwarsa.