Menerka

Orang yang sedang berbunga-bunga suka menerka-nerka.

Menebak, menduga, berasumsi, hingga merasa mengetahui segalanya

“Oh ternyata dia bukan tipikal orang yang seperti ini, seperti itu”

“Oh rupanya dia suka melakukan hal ini dan tidak menyukai hal itu”

Dugaan yang belum tentu benar, tapi diyakininya sepenuh hati.

Aku sedang tidak membicarakanmu sekarang, aku membicarakan diriku sendiri. Selama ini aku mencoba menerka semua tentangmu. Aku merasa sangat mengenalimu, nyatanya tidak. Ada begitu banyak praduga yang meleset.

“Nyatanya kamu tidak seperti itu”

Tapi aku senang. Aku tidak menyesalinya. Aku malah menyesali semua dugaan, terkaan, dan asumsiku sendiri selama ini.

Jadi kuputuskan saja untuk tidak menerka-nerka lagi semua tentangmu.

Pertanyaannya, sanggupkah?

Iklan

Mimpi

20 Desember 2017

Di rumah simbah kakungku, aku bertemu tante dan saudara sepupuku. Di sana aku konsultasikan masalah skripsiku pada tanteku. Tanteku mendengarkan proses pengerjaan skripsiku dengan seksama. Kemudian aku bertanya pada tanteku, “enaknya kalau masalahnya gitu, judulnya apa ya tante?” Tanteku kemudian memberikan judul skripsi yang langsung aku acungi jempol sarannya. Besoknya latar berpindah di kampus, ruang jurusan, meja dosen pembimbingku. Di sana, aku mengajukan latar belakang proposal skripsiku dengan judulnya. Dosenku tersenyum, mengangguk setuju, bagus kata beliau. Aku keluar dari ruang jurusan dengan perasaan gembira bukan main.

Ketika bangun, aku mencoba mengingat lagi judul skripsiku. Gagal. Bangun dengan perasaan sedih.

21 Desember 2017

Sore itu di depan rumah, aku kedatangan tamu spesial. Namanya Thor. Iya, Thor yang punya palu Mjolnir itu, yang hancur di film Thor Ragnarok. Aku seperti sudah berteman lama dengan Thor. Thor mengetuk pintu rumahku dan bertanya, “Udah disiapin semua barang-barangnya untuk ke Jakarta?” Aku mengangguk sambil tersenyum. Thor kemudian mengajakku ke luar gerbang rumah. Thor hampir mengalunkan palunya agar kami berdua bisa segera mengangkasa dan sampai di Jakarta. Belum sempat, ada dua kawan SMP-ku yang datang. Mereka datang hanya untuk melihat-lihat palu Thor dan mencoba memegangnya yang tentu saja gagal (tidak ada yang kuat mengangkat si Mjolnir selain Thor). Aku menyuruh mereka segera pergi. Setelah mereka pergi, Thor kembali mengayunkan si Mjolnir.

Belum sempat mengayun sempurna, belum sempat mengangkasa, aku dibangunkan dari mimpi (hampir) indahku.

22 Desember 2017

Ini mimpi buruk, tidak usah diceritakan.

23 Desember 2017

Mimpi jadi semakin buruk, saking buruknya tiba-tiba terbangun dan tak ingin memejam lagi.

Seminggu belakangan, sepertinya aku selalu bermimpi. Baru di empat hari terakhir, tiap bangun dari tidur aku mencoba mengingat kembali mimpiku dan menuliskannya. Entah atas motivasi apa, tapi merasa semua mimpi ini berhubungan.

Lah, berasa jadi Suzy di drama While You Were Sleeping. -_-

Payung Teduh – Di Atas Meja

Dua hari yang lalu, secara tidak sengaja saya melihat home Youtube dan menemukan satu video yang menarik perhatian saya. What? Payung Teduh? Lagi? Secepat ini? Tidak perlu berpikir dua kali, saya langsung mengkliknya.

Sekali dengar, saya membaca liriknya (official lyric video). Dua kali dengar, saya mencoba memahami isi lirik dan mengagumi alunan nadanya. Tiga kali dengar, saya langsung meng-klik suka dan merekomendasikan ke teman-teman Peneduh (fans Payung Teduh).

Awalnya saya dibuat bingung dengan judulnya, namun akhirnya saya mengerti kenapa judul Payung Teduh kali ini hanya menunjukkan kata keterangan tempat saja. Tidak seperti Akad, lagu yang memang sudah dirancang untuk terlihat manis dilihat dari judulnya, lagu Di Atas Meja ini justru terkesan getir.Read More »

Kenapa Saya Masih Sendiri

“Za, kamu nggak bosen apa sendiri terus kemana-mana?”

“Za, mau aku kenalin sama temenku nggak? Kayaknya cocok”

Setiap kali saya ditanya model pertanyaan seperti itu, biasanya saya akan jawab dengan

“Ntar lah fokus kuliah dulu”

Atau

“Aku masih suka jalan-jalan sendiri kok”

Tapi ketika ada pertanyaan model begini:

“Kamu tuh suka sama laki-laki nggak sih Za?”

Rasanya ingin teriak

“YA JELAS SUKALAH PAKE DITANYA SEGALA LAGI!”

Read More »

Jadi Begini…

Seseorang bercerita padaku soal temannya yang begitu clingy pada kekasihnya. Ia perempuan yang bila pesannya tidak dibalas lebih dari enam jam oleh pacarnya, ia akan merasa down, mencemaskan banyak hal sampai pada pertanyaan “Apa aku emang nggak layak untuk dicintai?”

Mungkin bagi sebagian perempuan, sifat clingy atau terlalu lengket pada pasangan dianggap suatu hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Siapa sih yang nggak suka dikabarin tiap hari? Diceritain aktivitasnya hari ini ngapain aja, atau lagi di mana dan dengan siapa saja menghabiskan hari? Perempuan menganggap, hal-hal seperti itulah yang membedakan antara teman biasa atau kekasih. Kalau teman, ya ngapain harus dikabarin tiap hari tiap saat? Kalau teman, ya sebodo amat dia mau kemana aja sama siapa aja hari itu. Tahu sendirilah, perihal teman dan kekasih ini jurang pemisahnya tinggi sekali.

Nah masalahnya, ndak semua orang terkhusus laki-laki dalam konteks ini, suka mengirim pesan atau menelepon untuk memberi kabar dia sedang ngapain atau pergi kemana saja selama seharian tadi. Ndak semua orang betah menjelaskan panjang lebar atau mengetik pesan panjang untuk mengabari seseorang yang menanyakan lewat gawainya.Read More »

Ai (4)

Halo, aku pernah bilang padamu kalau aku pernah memimpikanmu dan lupa akan isi mimpinya kan? Sejujurnya, aku tidak benar-benar lupa. Aku masih mengingatnya meski samar.

Di mimpi, aku dan kamu berjalan beriringan. Sepertinya kita tengah berjalan di salah satu sudut destinasi wisata di kota ini. Aku mendengarmu bercerita, sesekali aku tertawa. Entah apa yang kita bahas, yang jelas aku banyak tertawa. Kamu juga.

Lalu tiba-tiba latar berganti entah di mana, yang kuingat ada air mancur. Aku dan kamu duduk bersebelahan. Lagi-lagi saling berbincang dan tertawa. Lagi-lagi aku tak mengingat kenapa kita banyak tertawa.

Tapi aku masih ingat, kamu memakai baju yang sama ketika dulu kita pernah bertemu.

Aku juga masih ingat, aku bangun dari tidur dengan senyum terkembang.

Aku senang, karena pada akhirnya aku tidak hanya bermimpi jatuh ke jurang, atau dikejar tentara perang.

Ingin Mengoceh Saja

Menulis bagi wartawan adalah keseharian. Menulis bagi wartawan serupa sarapan, menjadi rutinitas yang bila tidak dilakukan terasa kurang.

Aku bukan wartawan, aku hanya sedang tertawan di media surat kabar harian. Aku baru paham, ritme wartawan media cetak sesungguhnya menyedihkan. Pagi sampai siang mencari bahan. Sore sampai malam membuat tulisan. Dini hari mencetaknya untuk kemudian diedarkan.

Tidak ada hari libur, tanggal merah pun tetap lembur. Bisa tidur empat jam sehari juga syukur.

Menjadi wartawan media cetak sesungguhnya menyedihkan. Kalah saing dengan situs berita mudah akses dan serba instan. Oplah menurun, sepi iklan, sedikit pelanggan.

Aku bukan wartawan, aku hanya sedang menunaikan kewajiban. Mata kuliah 3 sks bernama magang yang menyenangkan, juga menjemukan.

Senang karena setiap hari aku dituntut membuat tulisan. Beberapa kali seminggu juga terjun langsung ke lapangan untuk liputan. Aku dapat banyak pengalaman.

Tapi terkadang menjemukan. Ada bosan yang hadir tiap menulis berita atau artikel untuk diterbitkan. Aku juga jadi sulit menulis sebebas dulu tanpa beban. Sekarang jemariku reflek mengetik 5w+1h atau unsur berita lain, padahal sedang tidak menulis untuk koran.

Mungkin ada baiknya aku menambah bacaan. Agar tulisanku makin ke sini tidak semakin mirip wartawan.