September

Bulan September, bulan di mana memori selalu memaksaku untuk kembali mengenang patah hatiku beberapa tahun yang lalu. Ditemani rintik hujan dan detik jam dinding kamar, aku mencoba mengingat kisah patah hatiku saat itu.

Aku hilang, patah hati membuatku hilang.

Entah berapa malam kuterisak mengasihani diri. “Selama ini kau anggap aku apa? Atau aku yang di tanah kepalang tak tahu diri mendambamu yang di langit?”

Entah berapa coretan di buku harian yang kutulis untuk melampiaskan nasib patah hatiku. “Kali ini semuanya benar-benar berakhir. Tak ada harapan”.

Mengingat masa itu, membuatku berpikir bahwa aku pernah sebodoh itu menghadapi cinta. tapi bukankah memang begitulah cinta? Kadang kamu harus menjadi bodoh dulu agar benar-benar bisa belajar dan tak mengulangi kesalahan yang sama.

Sejak saat itu aku bertekad, aku tak akan mudah jatuh cinta lagi. Aku tak mau hancur lagi. Kehilangan diriku sendiri adalah perasaan paling buruk yang pernah kualami.

Dua-empat tahun kulewati, banyak yang hadir tapi enggan kutaruh di hati. “Buat apa kalau nantinya juga hancur lagi?”

Dan pada saat itu pula, di bulan September tiap tahunnya, aku selalu merenung, rasanya ada yang kurang bila aku belum merayakan kenangan patah hatiku. Merenung, tentu sambil mendengarkan lagu-lagunya Kodaline. Lagu All I Want jadi satu lagu wajibku,

Cause you brought out the best of me. A part of me I’d never seen. You took my soul wiped it clean. Our love was made for movie screens

Penggalan lirik di atas adalah favoritku. Rasanya Kodaline betul-betul memahami perasaan dan emosiku saat patah hati.

Lalu di akhir masa kuliah, kamu datang. Awalnya aku tak begitu peduli, tapi kehadiranmu yang perlahan itu membuatku tergerak. Membuatku mau tak mau luluh juga.

Jika semasa patah hatiku dulu aku selalu mendengarkan lagu-lagu sendu Kodaline, setelah mengenalmu, aku tak mendengarkan lagunya lagi. Atau bahkan aku tak mendengar semua lagu lagi. Karena menurutku, chat, suara, tawa, atau pun gurauanmu sudah seperti lagu untukku. Lagu yang candu, bahkan sampai sekarang atau sampai esok tua nanti.


Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan dari teman ngeblog bareng semasa kuliah dulu, Yobelta dan Reyuni. Inget nggak sih kapan terakhir kali kita bikin challenge kayak gini? Semester 5 bukan sih? Waktu belum sibuk skripsian HAHAHA. Akhirnya kali ini bisa direalisasikan lagi, meski kuyakin kalian akan ngaret dari deadline yang ditentukan hihi. Tapi nggak papa, tau kalian ada semangat nulis di blog lagi aja aku udah seneng banget! Ditunggu tulisan bertema kalian ya. Luv❤️

Jarak

Tidak pernah terpikir dalam benak sekali pun bahwa salah satu kendala dalam kehidupan percintaan saya adalah jarak. Kendala yang juga seringkali saya syukuri sih lebih tepatnya. Bertemu seseorang yang entah datang dari mana, dengan jarak ribuan kilometer jauhnya. Kalau ditanya berat atau tidak, jujur saja, awalnya tidak ada berat-beratnya sama sekali. Mau gimana lagi? Tahu dan kenal orangnya pun juga tidak langsung bertatap muka. Jadi selama masa pendekatan, jarak yang ribuan kilometer jauhnya itu tak pernah jadi persoalan. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan berbunga-bunga yang kian tumbuh, rasa nyaman dan cocok yang terus berkembang, dan segala hal yang tadinya biasa saja menjadi menyenangkan, membuat jarak mulai berubah menjadi kendala. Beragam monolog pun sering tak sadar terucap.

“Aku kangen”

Baca selebihnya »

Draft: November, 2017

“Hingga saat ini kau masih satu-satunya

Yang paling mengerti aku, semua baik burukku

Hingga detik ini, aku masih orang itu
Kau kenal dengan hatimu, masih seperti dulu”

Aku tidak tahu siapa atau apa yang berubah. Pun sama tidak tahunya dengan semua kekakuan temu yang saling kita lakukan hari ini.

Tidak ada sapaan atau lambaian tangan khasmu untukku, aku hanya melihat senyum tersungging canggung di wajahmu. Tidak ada sepatah dua patah kata terucap dari bibirmu, kamu hanya menatapku sebentar dan berlalu.

Tidak mengapa, sungguh.

Tapi seandainya kamu tahu, senja tadi aku menikmati kesendirianku di bawah payung pantai dengan memandangi punggungmu. Aku melihatmu menggandeng mesra, berlarian, hingga bermain ombak bersama dengan bunga mataharimu.

Tawamu belum berubah, masih tetap hangat. Tawa yang dulu selalu menjadi bekalku jalani hidup. Tawa yang bahkan masih bisa kulihat jelas dengan mata minusku.

Kamu hati-hati mendampingi bunga mataharimu, sekali dua kali kamu mengambil gambarnya atau mengajaknya selfie. Lebih sering kalian saling melemparkan pasir basah, kulihat kacamatamu terkena pasir.

Aku terkekeh dari kejauhan sambil menyeruput es kelapa muda.

Aku tidak tahu siapa atau apa yang berubah. Yang aku tahu, kebiasaanku memperhatikanmu dari jauh tidak pernah berubah.

Yang bisa kulakukan memang hanya diam. Diam-diam mengamati lalu mengagumi kemudian menyukaimu. Diam-diam bahagia mendapat secuil perhatian darimu. Diam-diam berharap. Diam-diam mendoakan. Diam-diam patah hati dan mencoba bangkit.


Saking bingungnya mau nulis apa bulan ini di blog, nggak sengaja menemukan draft dari hampir dua tahun yang lalu. Hmm hampir dua tahun yang lalu ya, sudah selama itu ternyata saya nggak bertemu dan tahu kabar doi. Tapi nggak papa, karena kadang, sebaik-baiknya kabar adalah tidak ada kabar.

Rehat

Yang dicari hilang

Yang dikejar lari

Yang ditunggu

Yang diharap

Biarkanlah semesta bekerja untukmu

“Tenangkan hati, semua ini bukan salahmu”

Mantra yang berhasil menenangkan hati saya tiap saya merasa menjadi orang paling bodoh sedunia karena selalu disalahkan dan seolah hidup saya tak pernah benar.

“Yang kau takutkan takkan terjadi”

Mantra yang membuat kegelisahan, kegundahan, kegalauan tak berkesudahan saya berangsur berkurang. Apa yang sebetulnya harus saya takutkan? Yang saya takutkan tidak seburuk itu, kok.

“Kita coba lagi, untuk lain hari”

Saya memang tidak pernah tahu kapan akan mati, tapi bukankah tidak ada salahnya berkeyakinan untuk memiliki hari baru, hari yang lebih menyenangkan dari hari ini?

Kalau sedang merasa tidak baik-baik saja, kamu bisa coba dengarkan lagu ini. Masalahmu memang tidak akan selesai hanya dengan mendengar lagunya, tapi perasaan dipahami yang tercipta dari mendengarkan lagunya bisa membuatmu percaya bahwa kamu tidak pernah benar-benar sendiri.

Yuk, rehat sejenak. Besok weekend.

Senandung

🎶🎶

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Kamu kamu datanglah

Aku sudah rindu sekali

—–

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Ayo kamu kemarilah

Aku slalu menanti

—–

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Tidakkah kamu gundah

Belum bertemu bidadari

—–

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Tidakkah kamu resah

Tanpa diriku di sisi

—–

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Sudah jangan berkilah

Lekas cepat kemari

🎶🎶

Berkah

Kalau diingat-ingat lagi, rasanya sudah cukup lama aku mengenalmu. Saat itu kita masih sama-sama menyandang status sebagai mahasiswa kan? Aku dengan santainya meminta kontak linemu karena, ah kupikir kamu mengenal salah satu temanku yang kuliah di tempat yang sama denganmu. Dan ternyata benar, kamu mengenalnya, kalian malah satu organisasi. Sejujurnya aku agak kaget, tapi biarlah, berkat seorang teman yang sama-sama kami kenal ini, aku merasa ada topik yang bisa diperbincangkan.

Awal mengenalmu, aku sudah tahu kamu lelaki yang pemalu. Yang mudah grogi tiap berkomunikasi dengan lawan jenis, apalagi yang secantik aku. Tapi aku suka sifat malu-malumu itu, ditambah bonus selera humormu yang ternyata sama denganku. Lengkaplah sudah. Aku seperti melihat diriku versi laki-laki.

Lalu pada akhirnya kami bertemu untuk yang pertama kalinya. Deg-degan? Tentu saja. Pengalamanku dengan lawan jenis sangat minim, bisa dibilang nggak ada malah. Biasalah, tipe-tipe perempuan yang sukanya jadi pengagum rahasia doang, berani ngungkapin juga enggak ehehe. Tapi pada akhirnya aku nekad. Udah, ini kan cuma pertemuan biasa. Pikirku saat itu. Aku melihatmu dari kejauhan, dan ternyata bayanganku tentangmu banyak yang meleset ya, hahaha. Tapi aku merasa beruntung banget karena bisa langsung nyaman dan cocok waktu ngobrol denganmu.

Kupikir obrolanku denganmu akan berakhir setelah pertemuan itu. Nyatanya tidak, aku tahu kamu berusaha mencari topik untuk mencuri-curi chatting denganku. Kamu banyak membagikan postingan lucu. Aku senang? Jangan ditanya, entah sudah berapa kali aku bergumam “manis sekali orang ini” tiap membaca pesan darimu. Dan sadar nggak sadar, aku selalu menunggu chat darimu. Seminggu sekali bisa dichat sama kamu udah syukur. Kepikiran ngechat duluan? Seringlah, tapi sayangnya rasa gengsiku lebih besar dulu. Aih, dasar perempuan.

Dari yang tadinya cuma berbagi kelucuan, berkembang jadi saling menanyakan kabar. Bertanya soal kesibukan, kesukaan, masa lalu, keluarga, dan entah mengapa makin hari topik yang dibahas rasanya semakin menyenangkan. Aku jadi ingat, dulu kita semakin dekat waktu kamu lagi sibuk-sibuknya berkutat dengan skripsi kan? Kupikir aku mengganggu, nyatanya setelah kutahu kamu malah senang bisa kuganggu. Pelepas stres katamu, lucu juga.

Lalu pada akhirnya kamu sidang. Aku sidang. Kamu bekerja. Aku juga bekerja.

Dan semua masih terasa sama seperti dulu. Sama-sama menyenangkan.


“Apa yang kulihat dari dirimu selama beberapa tahun ke belakang hingga kini adalah suatu berkah. Dan aku tak berkeberatan, bahkan ingin, untuk menghabiskan sisa waktu yang ada untuk melihat tahun-tahun berikutnya bersamamu.”

Menunggu

Mungkin kau perlu tahu, aku akan selalu menunggumu.

Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun atau bahkan satu dekade lagi. Aku akan tetap menunggumu.

Lalu jika setelah itu kau bertanya, apakah kau layak untuk kutunggu? Jawabannya akan selalu sama. Kau lebih dari sekadar layak untuk kutunggu.

Tugasku selain menunggu hanya tinggal bersabar. Bahwa seperti katamu dulu, akan selalu ada akhir yang manis bagi mereka yang bersabar.

Aku Ingin

Aku ingin jadi jam tanganmu, yang selalu kau pakai tiap kau pergi kemana pun itu.

Aku ingin jadi ranselmu, yang tak pernah absen menemani petualangan solomu.

Aku ingin jadi sandal jepit swallowmu, yang dengan bangga selalu kau kenakan di mana pun itu.

Aku ingin jadi magic jarmu, yang selalu bisa kau andalkan untuk mengatasi rasa laparmu.

Aku ingin jadi Mbok, kucing di kantormu yang bisa kau perhatikan dan jadi hiburan di sela kesibukanmu.

Aku ingin jadi apa pun itu.

Apa pun, asal selalu ada di dekatmu.

Bolehkah?