Saya Akan Menikah

Dari dulu sebetulnya saya sudah ingin menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan. Entah itu kisah awal mula bertemu doi, suka dan duka menjalani proses menuju halal, ribet dan serunya mempersiapkan pernikahan, dan sebagainya. Namun apa daya, semua keinginan itu hilang atau tertunda karena, ya apa lagi kalau bukan karena takut dibombardir dengan beragam reaksi dan kekagetan dari para netizen. Pasalnya, saya ini setiap ikut reuni, selalu digadang-gadang jadi orang yang terakhir nikah. Secara dari segi penampilan, blas nggak ada anggun-anggunnya. Cantik? Yaa banyak yang lebih cantik. Lemah lembut? Hahaha, jauh. Pintar memasak dan membuat kue? Sama sekali belum bisa! Jadi nggak heran juga sih kalau banyak teman yang meragukan saya bisa menikah secepat ini. Saya pun sampai sekarang masih suka mikir, “mungkin doi lagi khilaf aja kali ya sekarang makanya pengin jadiin aku istri?” Tapi pertanyaan itu akhirnya terjawab setelah doi dengan sok kerennya bertitah, “aku membuat keputusan ini dengan penuh kesadaran kok, sama sekali nggak khilaf”. Hmm baiklah, setelah doi bilang begitu, akhirnya saya percaya, kalau doi sudah dan akan terus menerima saya yang penuh dengan segala minusnya. Ini saya catet di blog biar kamu juga inget lho, Bang!

Karena itulah sampai detik ini juga, teman-teman yang tahu perihal saya akan menikah masih sedikit. Hanya mereka yang akrab dan paham soal perjalanan cinta saya yang tahu, dan tentu saja teman-teman blog baik di komunitas Obrolin atau pun kalian yang di beranda. Kenapa kok teman-teman Obrolin dan blog bisa tahu lebih dulu daripada teman SD, SMP, SMA, kuliah, atau bahkan teman kerja saya? Ya karena saya ketemu doi lewat blog. Hahaha, unik juga konsep jodoh ini. Yap, mungkin sebagian besar dari kalian sudah tahu siapa sosok doi ini. Bagi yang belum tahu, biar saya beri tahu ya.

Baca selebihnya »

Delapan Tahun

Blog random saya akhirnya bisa mencapai umurnya yang kedelapan. Meski udah lama nggak aktif ngeblog, dapat notifikasi kayak begini masih terasa sama menyenangkannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Delapan tahun bukan waktu yang singkat, ada sedikit rasa bangga bisa bertahan selama ini di blog (meski akhir-akhir ini saya jaraaang banget ngeblog hehe).

Tepat di usianya yang kedelapan, tiba-tiba saya merasa sangat bersyukur bisa mengenal dunia blog. Begitu banyak hal yang bisa saya dapatkan dari blog, salah satunya…. hmm baiknya tidak saya umumkan sekarang agar teman-teman blog semakin penasaran. Tunggu tanggal mainnya saja ya, hihihi.

Saya tentu berharap dapat lebih aktif menulis di sini, karena beberapa bulan belakangan saya sedang di masa malas-malasnya ngeblog. Saya juga pengin bisa rutin blogwalking lagi, penasaran juga nih karena udah lama nggak berhubungan sama teman-teman blog juga. Saya kangen kalian! šŸ˜­

Kayaknya udah mesti bikin jadwal mingguan di mana satu dari tujuh hari dikhususkan untuk upload satu tulisan di blog ya, hmm….

Berita Kematian

Siang ini saya dapat kabar, salah satu adik kelas saya sejak TK sampai SMA meninggal dunia. Yang membuat saya kaget, almarhum meninggal karena kecelakaan. Bukan kecelakaan tunggal, bukan pula ditabrak atau menabrak orang. Almarhum meninggal tertimpa pohon yang tiba-tiba rubuh, tanpa angin tanpa hujan. Ngilu hati saya saat membaca kabar dukanya tadi di grup angkatan.

Almarhum adalah anak semata wayang yang baik luhur dan pekertinya. Semasa sekolah dulu, almarhum dikenal pandai dan rajin beribadah. Almarhum juga jadi murid kesayangan guru-guru. Intinya, almarhum orang yang sangat baik. Saya memang tidak terlalu dekat dengannya, cuma karena satu organisasi semasa SMA dulu, saya selalu menyapa almarhum tiap berpapasan di sekolah. Begitu pun dengan almarhum, senyumnya selalu merekah tiap berpasasan atau mengobrol dengan saya. Saya hanya merasa sedih, di saat-saat terakhirnya, saya tidak sempat untuk menanyakan kabar apalagi mengingat sosoknya. Lalu tiba-tiba hari ini, semua kenangan tentangnya menguar di memori saya. Bahkan ingatan saya tentang almarhum di masa TK dulu saya juga ingat, dengan seragam dan gigi ompongnya. Duh :’)

Kejadian siang tadi benar-benar jadi penampar keras untuk saya. Saya terlalu kurang ajar karena beberapa kali sempat memikirkan skenario kecelakaan selama di perjalanan entah kemana pun itu tujuannya. “Gimana ya rasanya kecelakaan?” “Gimana ya sakitnya jatuh dari motor?”, “Kalau aku jatuh atau kecelakaan, gimana ya reaksi orang-orang terdekatku?”

Sedih, saya sedih pernah membayangkan skenario seperti itu. Karena berita kematian almarhum, saya juga merenung. Merenungi bahwa kematian bisa terjadi kapan dan di mana saja. Merenung, bahwa ucapan hati-hati di jalan dari orang-orang terdekat kita bukan sekadar ucapan pemanis di mulut saja.

Seringkali kita lupa bersyukur, padahal bentuk syukur yang paling sederhana bisa dengan selamat selama di perjalanan, atau dikelilingi orang yang selalu peduli untuk mengucapkan “hati-hati”.

Selamat jalan, adik kelas yang teramat baik! Senang bisa mengenal dan belajar banyak dari kebaikan hatimu. šŸ™‚

Kaleidoskop 2018

Apa saja yang terjadi pada diri saya setahun terakhir?

Januari: Awal tahun, saya hanya disibukkan dengan menyelesaikan laporan magang dan mencari judul skripsi. Januari adalah bulan di mana saya bingung setengah mati mau bikin skripsi yang seperti apa. Alhamdulillah, di bulan ini juga judul skripsi saya di-acc oleh dosbing kesayangan, Mas Tan. Saya memutuskan untuk mengambil penelitian kuantitatif dengan topik clickbait di situs berita media daring.

Februari: Bulan kedua di tahun 2018, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya di Jakarta, di umur yang ke-21. Agak miris ya? Mau bagaimana lagi, orang tua saya emang sensitif kalau saya minta sesuatu yang aneh-aneh. Minta untuk pergi ke luar kota sendirian, tapi pada akhirnya saya hanya diberi izin jika ditemani kawan karib saya, si Afifah itu. Pergi ke Jakarta dan merasakan naik KRL, busway, melihat Monas, Kota Tua, rasanya sangat menyenangkan. Saya juga bisa bertemu dengan teman-teman blog, pengalaman yang tentu nggak akan bisa saya lupakan.

Maret: Akhirnya saya seminar proposal yeay! Sempro yang berjalan lancar namun sedikit menegangkan. Butuh waktu satu setengah jam sampai akhirnya sempro saya berakhir dan di-acc oleh kedua dosen penguji. Sangat bersyukur karena dosbing saya, Mas Tan, cukup membantu selama proses sempro. Masih saya ingat gimana gugup dan groginya saya saat sempro. Jauh lebih dahsyat ketimbang sidang huhuhu. Baca selebihnya »

Pengingat

Aku bersyukur.

Untuk:

Kemarin.

Hari ini.

Esok.

Sampai tua nanti.

Sampai mati.

Terima kasih karena sudah berjuang.

Terima kasih karena mau bertahan.

Terima kasih.

Ingatlah.

Kamu berharga.

Kamu layak bahagia.

Kamu pantas merasa bangga.

Atas dirimu sendiri.

Atas usaha kerasmu.

Atas luka yang mendewasakan.

Atas semua yang sudah kamu perjuangkan.

Semangat!

Perbarui cintamu pada diri setiap hari.

261118

Ibuku

Kata banyak orang, kalimat “surga ada di telapak kaki ibu” tak akan bisa benar-benar kita pahami sampai suatu hari nanti kita sendiri yang menjadi ibu. Tapi menurutku lain, aku tak perlu menjadi ibu untuk memahami betul surga ada di telapak kakinya. Ibuku sudah membuatku percaya bahwa di telapak kakinya, ia lebih dari sekadar pantas untuk mendapatkan surga.

Ibuku bangun paling pagi setiap hari. Rutinitas paginya sudah kuhapal sejak aku lulus SMP. Membangunkan keenam anaknya untuk sholat subuh, menanak nasi, memasukkan semua baju kotor di mesin cuci, menyiapkan sarapan dan bekal anak-anaknya sekolah, kemudian mengantar anak-anak sekolah. Sepulang dari sekolah ia tidak langsung ke rumah, ibu ke pasar membeli bahan masakan yang makin tahun harganya makin mahal, tapi uang belanja tidak pernah dinaikkan. Ibuku, ia tak pernah kehabisan akal untuk “mau masak apa hari ini” dengan uang belanja sekadarnya.

Sepulangnya dari pasar, ibu menyiapkan cemilan favorit bapak: gorengan. Kemudian sambil memakan gorengan ibu berbincang dengan bapak. Tak ada habisnya topik perbincangan mereka bahkan setelah 24 tahun bersama. Setelah itu? Ibu akan menyiapkan sarapan untuk bapak sebelum berangkat kerja, dan memasak setelah bapak berangkat kerja. Sudah selesai? Belum, selepas memasak ibuku mengatur usaha franchise ayam gorengnya. Rutinitas paginya selalu begitu dan seperti itu.

Tidak ada ibu yang tidak istimewa kan? Begitu pula ibuku. Meski ibuku seorang ibu rumah tangga, kesibukannya di luar rumah tak bisa dianggap remeh. Aku hapal kegiatan rutinnya setiap hari, sepertinya tak perlu kutulis di sini untuk membuktikannya. Yang jelas, ibu tak suka berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Sayangnya, semakin ibuku sibuk, penyakitnya semakin sering kambuh. Biasanya ketika kambuh, ibu hanya butuh segelas teh panas dan istirahat yang cukup. Setelah itu ibuku akan kembali menyibukkan diri. Entah mengisi pengajian, rapat sebagai yayasan di sekolah, atau sekadar menemani ibu mertuanya.

Aku tidak perlu membuktikan apa-apa untuk yakin bahwa surga ada di telapak kaki ibuku. Hanya dengan melihatnya satu hari saja melakukan segala rutinitasnya, aku bisa mengerti. Malaikat tanpa sayap tak perlu kucari jauh-jauh, ia selalu ada di dekatku.

Menjadi ibu itu berat, apalagi ibu yang seperti ibuku. Entah berapa banyak luka dan duka yang dialaminya sehingga menjadi ibu yang sekuat ibuku. Aku banyak belajar darinya. Belajar dari kebesaran hatinya, ketulusan jiwanya, keberanian hidupnya, keteguhan prinsipnya.

Menjadi ibu itu berat. Ibuku, ia memutuskan untuk berhenti. Berhenti memiliki keinginan, berhenti memikirkan dirinya sendiri, berhenti bercita-cita. Berhenti, hidupnya tak pernah lagi untuk dirinya sendiri.

Dapat Apa Sih Dari Ngeblog?

Kalau tidak salah ingat, tahun ini adalah tahun ketujuh saya ngeblog di WordPress. Tujuh tahun yang tidak bisa dibilang sebentar mengingat saya mulai menulis di sini ketika memakai seragam putih-biru. Bisa dibilang, jejak dari fase tumbuh dan berkembang saya dari remaja labil yang hobi ngegalau sampai menjadi gadis yang masih alay tersimpan rapi di sini, di blog ini.

Dahulu, saya menganggap blog sebagai media curhat. Suatu anggapan yang saya sesali di kemudian hari karena setiap membaca tulisan lama, saya selalu bertanya sendiri, “sealay itukah aku dulu?” sampai beberapa postingan di blog terpaksa saya hapus demi kebaikan diri saya sendiri, hmmm.

Sejujurnya, saya tidak menyangka bisa sejauh ini bertahan untuk tetap ngeblog. Selain itu, saya juga tidak menyangka ada begitu banyak hal yang bisa saya dapatkan dari ngeblog. Mulai dari menjadi lebih giat untuk menulis, dikenal oleh beberapa orang, sampai dapat banyak teman baru.Baca selebihnya »

Bagian Tiga: Kopdar!

Sekitar pukul tiga sore, akhirnya KRL tujuan Bekasi datang menjemput kami bertiga dari Stasiun Juanda. Kali ini suasana KRL terasa amat berbeda, kami tidak dapat tempat duduk dan bisa dibilang kondisi di dalam KRL cukup sesak. Ah tidak papa, toh dengan berdiri saya jadi bisa melihat pemandangan Jakarta dengan lebih jelas. Setelah berdesak-desakkan sekitar satu jam, akhirnya kami tiba di Stasiun Bekasi!

Stasiun Bekasi nampak berbeda dari yang saya lihat sebelumnya, sore itu terlihat amat sangat ramai. Keluar dari pintu utaranya, langsung disambut dengan padatnya jalanan di sana. Pesan GrabCar pun bikin keki juga nunggunya, hampir setengah jam kami menunggu driver penyelamat kami datang. Padahal jarak antara Stasiun Bekasi ke Summarecon Mall Bekasi (SMB) tidak begitu jauh, paling 5-10 menit saja. Terlihat jelas kak Fadel gusar karena dia belum sholat ashar. Untungnya saya dan Afifah sudah jamak qashar heuheu.

Akhirnya sampailah kami di SMB, baru kali ini saya masuk mall segede ini. Mall Paragon di Semarang nggak ada apa-apanya dibandingkan SMB. Padahal saya tipe orang yang nggak suka datang ke mall gede-gede, rasanya minder aja nggak tahu kenapa. Tapi kemarin di SMB kok rasanya fine-fine aja ya? Mungkin karena saya tahu itu pertama dan terakhir kalinya saya kesana. Setelah masuk ke dalam mallnya, kami segera bertanya pada satpam di mana letak mushola, Kak Fadel meneleponĀ Kak DeaĀ untuk mengabari kalau kami sudah sampai. Sambil menunggu Kak Fadel selesai sholat, saya menghubungi Kak Dea dan disuruh turun satu lantai karena Kak Dea sudah menunggu di sana.Baca selebihnya »