Dapat Apa Sih Dari Ngeblog?

Kalau tidak salah ingat, tahun ini adalah tahun ketujuh saya ngeblog di WordPress. Tujuh tahun yang tidak bisa dibilang sebentar mengingat saya mulai menulis di sini ketika memakai seragam putih-biru. Bisa dibilang, jejak dari fase tumbuh dan berkembang saya dari remaja labil yang hobi ngegalau sampai menjadi gadis yang masih alay tersimpan rapi di sini, di blog ini.

Dahulu, saya menganggap blog sebagai media curhat. Suatu anggapan yang saya sesali di kemudian hari karena setiap membaca tulisan lama, saya selalu bertanya sendiri, “sealay itukah aku dulu?” sampai beberapa postingan di blog terpaksa saya hapus demi kebaikan diri saya sendiri, hmmm.

Sejujurnya, saya tidak menyangka bisa sejauh ini bertahan untuk tetap ngeblog. Selain itu, saya juga tidak menyangka ada begitu banyak hal yang bisa saya dapatkan dari ngeblog. Mulai dari menjadi lebih giat untuk menulis, dikenal oleh beberapa orang, sampai dapat banyak teman baru.Read More »

Bagian Tiga: Kopdar!

Sekitar pukul tiga sore, akhirnya KRL tujuan Bekasi datang menjemput kami bertiga dari Stasiun Juanda. Kali ini suasana KRL terasa amat berbeda, kami tidak dapat tempat duduk dan bisa dibilang kondisi di dalam KRL cukup sesak. Ah tidak papa, toh dengan berdiri saya jadi bisa melihat pemandangan Jakarta dengan lebih jelas. Setelah berdesak-desakkan sekitar satu jam, akhirnya kami tiba di Stasiun Bekasi!

Stasiun Bekasi nampak berbeda dari yang saya lihat sebelumnya, sore itu terlihat amat sangat ramai. Keluar dari pintu utaranya, langsung disambut dengan padatnya jalanan di sana. Pesan GrabCar pun bikin keki juga nunggunya, hampir setengah jam kami menunggu driver penyelamat kami datang. Padahal jarak antara Stasiun Bekasi ke Summarecon Mall Bekasi (SMB) tidak begitu jauh, paling 5-10 menit saja. Terlihat jelas kak Fadel gusar karena dia belum sholat ashar. Untungnya saya dan Afifah sudah jamak qashar heuheu.

Akhirnya sampailah kami di SMB, baru kali ini saya masuk mall segede ini. Mall Paragon di Semarang nggak ada apa-apanya dibandingkan SMB. Padahal saya tipe orang yang nggak suka datang ke mall gede-gede, rasanya minder aja nggak tahu kenapa. Tapi kemarin di SMB kok rasanya fine-fine aja ya? Mungkin karena saya tahu itu pertama dan terakhir kalinya saya kesana. Setelah masuk ke dalam mallnya, kami segera bertanya pada satpam di mana letak mushola, Kak Fadel menelepon Kak Dea untuk mengabari kalau kami sudah sampai. Sambil menunggu Kak Fadel selesai sholat, saya menghubungi Kak Dea dan disuruh turun satu lantai karena Kak Dea sudah menunggu di sana.Read More »

Bagian Dua: Noraknya Saya di Jakarta

I’m still on my way to get to where you are

Try to let go the things I knew

We’ll forget Jakarta

Promise that we’ll never look behind

Tonight, we’re gone to where this journey ends

But if you stay, I will stay

Pagi selepas sarapan daging semur masakan tante, saya bersiap-siap melancong ke Jakarta bersama Afifah dengan menggunakan KRL. Sebelumnya saya sudah janjian dulu sama Kak Fadel untuk bertemu di Kota Tua jam sembilan, sambil diwanti-wanti agar tidak salah naik KRL dan berhenti di Stasiun Jakarta Kota. Iya, ngerti kok, masak hal remeh kayak begitu saya nggak ngerti sih? Kan kebangetan. -_-

Di KRL, saya cuma bisa melongo memandangi sekitar. Dalam hati saya berteriak, “Tjuy! Akhirnya inyong bisa naik KRL juga tjuy! Keren juga ya ini kereta! Masuknya pakai kartu, gerbongnya panjang, eh ada gerbong khusus wanitanya lagi. Duh, kapan ya Semarang bisa begini.”

Oh iya tentu selain melongo saya juga beberapa kali tertawa mendengar interkom khas KRL, dari yang cuma ngomong “Hati-hati, hati-hati pintu akan segera ditutup, hati-hati” sampai interkom “Kereta akan tiba di stasiun Cikini”. Hampir semua nama stasiunnya lucu sih, ada Cakung, Gondangdia, Klender, dan sebagainya, cuma yang paling bikin ketawa ya Cikini. Intonasinya bisa lucu gitu lho, kayak mbak-mbak yang di interkom lagi bahagia banget waktu ngomong Cikini. Duh, jadi kangen kan ini pengin dengerin lagi hahaha.Read More »

Bagian Satu: Tiba di Bekasi

“Bah, aku boleh nggak jalan-jalan sendirian ke Bekasi?”

Saya memberanikan diri bertanya ke Abah di mobil, di perjalanan pulang dari Temanggung ke Semarang. Sebetulnya saya tidak bisa berharap banyak pertanyaan saya akan mendapatkan respon yang positif. Nyatanya memang benar.

“Ha? Sendirian? Ke Bekasi? Ngapain?”

“Yaa buat jalan-jalan. Seumur-umur kan aku belum pernah jalan-jalan sendirian. Pengin ngerasain pergi jauh. Naik kereta sendiri, jalan-jalan sendiri, kesasar sendiri. Kan di Bekasi ada tante, nanti nginepnya di sana. Terus nanti jalan-jalan ke Jakarta, lihat Monas, naik KRL, ke Kota Tua, naik busway….”

“Nggak boleh!”

“Lho kenapa kok nggak boleh bah?”

“Bahaya kalau sendirian, kamu kan masih kecil”

Lalu saya tertawa dalam hati. Kecil gimana sih? Umur udah hampir 22 tahun juga huhuhu. Mungkin Abah ngerasa parno karena beberapa waktu yang lalu, anak dari temannya Abah meninggal di kereta api yang kemungkinan meninggalnya karena diberi racun. Saya bisa mengerti sih, tapi keinginan untuk travelling sendirian semakin kuat setiap harinya. Akhirnya setelah berdiskusi cukup lama dan alot, saya mendapatkan restu untuk bisa travelling sendirian dengan syarat… Tidak sendirian. Ya, pada akhirnya Abah mengusulkan untuk turut memboyong Afifah, teman karib saya sejak TK dulu menemani jalan-jalan selama saya ke Bekasi. Oke, tiket pulang-pergi sudah dipesan, barang bawaan sudah disiapkan, akhirnya saya diantar ke Stasiun Tawang bersama Abah naik motor. Malam itu hujan cukup deras, saya jadi bernostalgia sedikit. Dulu sekali waktu saya pernah hujan-hujanan bersama Abah di perjalanan pulang dari asrama. Saling mengalah untuk tidak mau pakai jas hujan yang hanya ada satu, yang pada akhirnya dipakai untuk menutupi tas pakaian saya. Akhirnya bisa merasakan kenangan itu kembali. :’)Read More »

Kisah Cinta Nelangsa (2)

Rasanya tidak adil kalau saya hanya menceritakan betapa nelangsanya si Umar, adik saya dalam menghadapi kehidupan percintaannya. Jadi biar impas, saya akan menuliskan pengalaman pahit saya akan cinta.

Bermula selepas saya diwisuda dari SMP, saya resmi jadi pengangguran yang kerjaannya mencari SMA kesana kemari. Sisanya? Ya cuma makan, tidur, sms-an, dan main facebook. Nah, gara-gara nganggur yang terlalu lama inilah, saya merasakan kekosongan dalam hati saya. Kalau dulu kan, setiap hari pasti selalu disibukkan dengan agenda-agenda harian di asrama. Di tengah kekosongan hati saya itu, ada seseorang yang tiba-tiba hadir dan mengisi kekosongan saya. Sebut namanya Paijo. Awal mula saya bisa dekat dengan Paijo karena urusan jaket angkatan. Tahu kan ya zaman dulu kalau mau pisah bawaannya pengin bikin jaket yang samaan aja seangkatan hahaha. Nah kebetulan si Paijo ini penanggungjawab utamanya. Saya kebagian yang jadi penanggungjawab teman-teman perempuan. Jadi ya mau nggak mau, kami saling mengontak satu sama lain.

Awalnya sih masih bahas soal jaket, tapi ya tahu sendirilah, setelah urusan perjaketan selesai tidak lantas membuat urusan kami berdua selesai. Saya tidak tahu sejak kapan saya merasa ada rasa sama Paijo, yang jelas Paijo ini mirisnya adalah cinta monyet pertama saya. Yak, akhirnya saya merasakan juga apa itu cinta setelah lulus SMP. Read More »

Kisah Cinta Nelangsa

Menjelang reuni akbar SMP yang akan diadakan kurang dari dua minggu lagi, grup alumni otomatis jadi ramai. Banyak teman-teman saya yang mengaku kangen dengan masa-masa SMP dulu. Ada yang membagikan foto-foto lawas, ada yang curcol ngomongin kisah kasihnya dulu, ada juga yang pamerin suami sama anak-anaknya (ini yang paling menyebalkan karena menimbulkan kecemburuan sosial).

Iseng punya iseng saya membuka kotak rahasia saya semasa SMP dulu, ya hitung-hitung merefresh kenangan biar besok-besok kalau reuni ada obrolan menarik yang bisa diperbincangkan. Di dalam kotak yang saya sebut rahasia itu, isinya ada puluhan surat dari teman-teman, guru, dan adik kelas, juga beberapa kenang-kenangan berupa hadiah dari teman dan guru. Lalu ada juga, ehem, buku harian yang menarik perhatian saya.

Membaca buku harian, saya jadi menyadari satu hal, saya punya kisah cinta yang nelangsa. Jauh lebih nelangsa ketimbang Kisah Cintanya Si Umar. Sebut saya tidak tahu malu karena akan menceritakannya di sini, tapi saya rasa ada baiknya saya ceritakan agar kalian semua tahu, kisah cinta yang nelangsa memang milik semua orang. Hahahahaha!

Oke baiklah saya mulai. Waktu itu saya masih kelas tujuh, tahun pertama memakai seragam putih biru, tahun di mana saya masih polos dan belum mengenal apa itu cinta. Hari itu kebetulan adalah hari ulang tahun saya, saya tidak merasakan adanya kejanggalan sampai semuanya berubah selesai sholat dhuhur berjamaah. Waktu itu selesai sholat, saya masih berdoa dan tidak menyadari kalau teman-teman saya yang sedang berhalangan sholat berisik sekali di dalam kelas. Kemudian saya sadar setelah melipat mukena dan masuk ke kelas, saya dikejutkan oleh nyanyian ulang tahun dan sebuah tart dengan lilin di atasnya. Ya intinya saya dinyanyikan dan disuruh tiup lilin.

Sudah beres tiup lilin, saya potonglah kuenya. Belum selesai saya potong, salah satu teman saya tiba-tiba bertanya pada saya.Read More »

Cemas

Setiap kali ia berada di kerumunan orang, keringatnya tak pernah berhenti mengalir.

Setiap kali ia mendengar banyak orang berbicara, kedua bola matanya bergerak lebih sering.

Setiap kali ia melihat orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya, kepalanya sebisa mungkin ia tundukkan.

Ia tidak ingat sejak kapan ia menjadi seperti itu. Yang ia tahu, selalu ada perasaan khawatir berlebih setiap kali ia keluar dari kamar super nyamannya, rumah super amannya.

Ia selalu merasa diperhatikan oleh banyak pasang mata tiap berada di keramaian.

Ia selalu merasa menjadi pusat perhatian dari tiap gerik yang ia perbuat.

Ia selalu merasa mendengar beragam omongan orang yang ditujukan untuknya.

Padahal ia sendiri pun tahu, mana mungkin ada banyak orang yang memperhatikan, menjadikannya sebagai pusat perhatian, atau bahkan menjadikannya bahan obrolan?

Itu semua hanyalah rasa cemas yang ia sendiri tidak mengerti bagaimana cara menghadapinya.