Aku Lupa Kapan

You make my heart feel like it’s summer

When the rain is pouring down

You make my whole world feel so right when it’s wrong

Aku lupa kapan terakhir kali merasa senang hanya dengan bermain permainan batu-gunting-kertas sampai akhirnya aku memainkannya bersamamu. Lucu jika mengingat permainan sederhana yang kita lakukan berakhir dengan hasil yang seringkali seri, aku mendominasi menang, dan kekalahanmu yang sudah tak terhitung jumlahnya.

Aku lupa kapan terakhir kali merasa cerewet, membicarakan begitu banyak hal dengan seseorang sampai akhirnya aku mengobrol bersamamu. Aku memang bukan pencerita yang baik, tapi kamu terlalu baik karena mau repot menjadi pendengarku.

Ada banyak ‘aku lupa kapan terakhir kali merasa blablabla sampai akhirnya aku blablabla bersamamu’, tapi aku malu mengatakan semuanya. Hal-hal seperti itu entah mengapa terasa menggelikan namun punya efek yang begitu menyenangkan. Perasaan yang menggelitik perut itu pasti kamu menyukainya kan?

Mungkin aku perlu menyunting pernyataanku dulu yang dengan percaya dirinya berkata bahwa jatuh cinta punya masa kedaluwarsa.

 

Meracau

Hari itu aku menangis sesenggukan setelah sekian lama tak merasakan sedih. Aku menangis tak bersuara sampai mataku sembap dan ketiduran. Saat bangun, aku menertawakan diriku yang dengan konyolnya mengira kain pembersih lensa kacamataku sebagai sapu tangan. Terlanjur, sudah penuh dengan air mata dan ingus, sungguh aku menertawakan kebodohanku.

Kemudian entah mengapa dua rekaman suara yang kamu kirimkan bisa meluruhkan seluruh kelesuanku senja itu. Aku akhirnya tertawa dan melupakan kisah sedihku siang tadi. Kuputar berulang kali dan tawaku makin jadi. Permintaan jahilku tempo hari ternyata kamu tanggapi serius sekali, tapi aku menyukainya. Sekarang kamu mengerti kenapa dua rekaman itu bisa jadi hadiah terindah untukku, kan?

Bagiku, kamu tidak pernah kuanggap seperti baris puisinya Eyang Sapardi yang mengatakan bahwa ‘aku ingin mencintaimu dengan sederhana’. Bagiku, kamu adalah cukup. Tidak lebih dan tidak kurang. Mungkin pengibaratan yang cocok dari kecukupanku bisa kamu bayangkan dari hadits dhaif yang isi di dalamnya menyebutkan: ‘mulailah makan sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang’.

Bagiku, kamu adalah cukupku yang dengan kehadiranmu bisa membuatku merasa bernilai. Kadang kita memang butuh orang lain untuk melihat seberapa bernilainya diri kita sendiri, kan?

Bagiku, kamu adalah cukupku yang mampu membuatku yakin kembali menyusun kepingan-kepingan asaku.

Bagiku, kamu adalah cukupku yang dengan kehadiranmu bisa membuatku merasa aku tidak butuh siapa-siapa lagi. Read More »

Sebulan Tanpa Instagram

Awal tahun 2018, saya memutuskan untuk uninstall instagram. Alasan utamanya sederhana dan mungkin konyol. Karena sebenarnya saya cemas melihat segala instastories teman-teman seperjuangan yang rajin banget update lagi di kampus atau perpus untuk keperluan skripsinya. Yak, begitu buka stories teman-teman yang berbau dunia skripsi dan sidang atau bahkan wisuda, saya merasa dikucilkan. Saya merasa hina dan tidak berguna. Dengan tekad bahwa setelah uninstall instagram saya akan lebih rajin mengurus segala urusan skripsi tanpa perlu menoleh atau melihat progress teman-teman, saya akhirnya melepas aplikasi instagram dari kehidupan saya.

Sebenarnya tidak terlalu berat selama saya tidak menggunakan instagram satu bulan terakhir ini, karena sudah sejak lebih kurang tiga bulan yang lalu, saya berhenti melihat timeline dan hanya melihat instastories keluarga atau teman-teman terdekat saja. Saya lebih sering menggunakan aplikasi instagram untuk membuka kolom explore. Di sana, saya suka melihat video orang-orang yang sedang mukbang makan seafood, atau proses pembuatan makanan unik, atau potongan-potongan drama korea on going. Karena di explore instagram kita bisa menemukan apapun kan?

Tapi makin ke sini saya jadi berpikir, ternyata terlalu banyak waktu yang saya habiskan untuk menikmati explore di instagram. Setiap ada waktu luang, pasti tangan saya reflek nunyuk instagram. Pas lagi nggak luang pun pasti sebisa mungkin menyempatkan diri membuka instagram. Saya mulai merasa ada sesuatu yang salah dari diri saya. Menurut teori uses and gratification di buku Psikologi Komunikasi yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat, yang saya lakukan sebagai pengguna media menyimpang karena seharusnya:

  • Khalayak aktif dalam penggunaan medianya berorientasi pada tujuan
  • Pemuasan kebutuhan pada pilihan media tertentu ada di tangan khalayak
  • Khalayak cukup memiliki kesadaran diri akan penggunaan media mereka, minat, dan motif sehingga dapat memberikan sebuah gambaran yang akurat mengenai kegunaan suatu media
  • Khalayak memiliki otonomi dan wewenang untuk memperlakukan media

Read More »

Bagian Tiga: Kopdar!

Sekitar pukul tiga sore, akhirnya KRL tujuan Bekasi datang menjemput kami bertiga dari Stasiun Juanda. Kali ini suasana KRL terasa amat berbeda, kami tidak dapat tempat duduk dan bisa dibilang kondisi di dalam KRL cukup sesak. Ah tidak papa, toh dengan berdiri saya jadi bisa melihat pemandangan Jakarta dengan lebih jelas. Setelah berdesak-desakkan sekitar satu jam, akhirnya kami tiba di Stasiun Bekasi!

Stasiun Bekasi nampak berbeda dari yang saya lihat sebelumnya, sore itu terlihat amat sangat ramai. Keluar dari pintu utaranya, langsung disambut dengan padatnya jalanan di sana. Pesan GrabCar pun bikin keki juga nunggunya, hampir setengah jam kami menunggu driver penyelamat kami datang. Padahal jarak antara Stasiun Bekasi ke Summarecon Mall Bekasi (SMB) tidak begitu jauh, paling 5-10 menit saja. Terlihat jelas kak Fadel gusar karena dia belum sholat ashar. Untungnya saya dan Afifah sudah jamak qashar heuheu.

Akhirnya sampailah kami di SMB, baru kali ini saya masuk mall segede ini. Mall Paragon di Semarang nggak ada apa-apanya dibandingkan SMB. Padahal saya tipe orang yang nggak suka datang ke mall gede-gede, rasanya minder aja nggak tahu kenapa. Tapi kemarin di SMB kok rasanya fine-fine aja ya? Mungkin karena saya tahu itu pertama dan terakhir kalinya saya kesana. Setelah masuk ke dalam mallnya, kami segera bertanya pada satpam di mana letak mushola, Kak Fadel menelepon Kak Dea untuk mengabari kalau kami sudah sampai. Sambil menunggu Kak Fadel selesai sholat, saya menghubungi Kak Dea dan disuruh turun satu lantai karena Kak Dea sudah menunggu di sana.Read More »

Bagian Dua: Noraknya Saya di Jakarta

I’m still on my way to get to where you are

Try to let go the things I knew

We’ll forget Jakarta

Promise that we’ll never look behind

Tonight, we’re gone to where this journey ends

But if you stay, I will stay

Pagi selepas sarapan daging semur masakan tante, saya bersiap-siap melancong ke Jakarta bersama Afifah dengan menggunakan KRL. Sebelumnya saya sudah janjian dulu sama Kak Fadel untuk bertemu di Kota Tua jam sembilan, sambil diwanti-wanti agar tidak salah naik KRL dan berhenti di Stasiun Jakarta Kota. Iya, ngerti kok, masak hal remeh kayak begitu saya nggak ngerti sih? Kan kebangetan. -_-

Di KRL, saya cuma bisa melongo memandangi sekitar. Dalam hati saya berteriak, “Tjuy! Akhirnya inyong bisa naik KRL juga tjuy! Keren juga ya ini kereta! Masuknya pakai kartu, gerbongnya panjang, eh ada gerbong khusus wanitanya lagi. Duh, kapan ya Semarang bisa begini.”

Oh iya tentu selain melongo saya juga beberapa kali tertawa mendengar interkom khas KRL, dari yang cuma ngomong “Hati-hati, hati-hati pintu akan segera ditutup, hati-hati” sampai interkom “Kereta akan tiba di stasiun Cikini”. Hampir semua nama stasiunnya lucu sih, ada Cakung, Gondangdia, Klender, dan sebagainya, cuma yang paling bikin ketawa ya Cikini. Intonasinya bisa lucu gitu lho, kayak mbak-mbak yang di interkom lagi bahagia banget waktu ngomong Cikini. Duh, jadi kangen kan ini pengin dengerin lagi hahaha.Read More »

Bagian Satu: Tiba di Bekasi

“Bah, aku boleh nggak jalan-jalan sendirian ke Bekasi?”

Saya memberanikan diri bertanya ke Abah di mobil, di perjalanan pulang dari Temanggung ke Semarang. Sebetulnya saya tidak bisa berharap banyak pertanyaan saya akan mendapatkan respon yang positif. Nyatanya memang benar.

“Ha? Sendirian? Ke Bekasi? Ngapain?”

“Yaa buat jalan-jalan. Seumur-umur kan aku belum pernah jalan-jalan sendirian. Pengin ngerasain pergi jauh. Naik kereta sendiri, jalan-jalan sendiri, kesasar sendiri. Kan di Bekasi ada tante, nanti nginepnya di sana. Terus nanti jalan-jalan ke Jakarta, lihat Monas, naik KRL, ke Kota Tua, naik busway….”

“Nggak boleh!”

“Lho kenapa kok nggak boleh bah?”

“Bahaya kalau sendirian, kamu kan masih kecil”

Lalu saya tertawa dalam hati. Kecil gimana sih? Umur udah hampir 22 tahun juga huhuhu. Mungkin Abah ngerasa parno karena beberapa waktu yang lalu, anak dari temannya Abah meninggal di kereta api yang kemungkinan meninggalnya karena diberi racun. Saya bisa mengerti sih, tapi keinginan untuk travelling sendirian semakin kuat setiap harinya. Akhirnya setelah berdiskusi cukup lama dan alot, saya mendapatkan restu untuk bisa travelling sendirian dengan syarat… Tidak sendirian. Ya, pada akhirnya Abah mengusulkan untuk turut memboyong Afifah, teman karib saya sejak TK dulu menemani jalan-jalan selama saya ke Bekasi. Oke, tiket pulang-pergi sudah dipesan, barang bawaan sudah disiapkan, akhirnya saya diantar ke Stasiun Tawang bersama Abah naik motor. Malam itu hujan cukup deras, saya jadi bernostalgia sedikit. Dulu sekali waktu saya pernah hujan-hujanan bersama Abah di perjalanan pulang dari asrama. Saling mengalah untuk tidak mau pakai jas hujan yang hanya ada satu, yang pada akhirnya dipakai untuk menutupi tas pakaian saya. Akhirnya bisa merasakan kenangan itu kembali. :’)Read More »

Menerka

Orang yang sedang berbunga-bunga suka menerka-nerka.

Menebak, menduga, berasumsi, hingga merasa mengetahui segalanya

“Oh ternyata dia bukan tipikal orang yang seperti ini, seperti itu”

“Oh rupanya dia suka melakukan hal ini dan tidak menyukai hal itu”

Dugaan yang belum tentu benar, tapi diyakininya sepenuh hati.

Aku sedang tidak membicarakanmu sekarang, aku membicarakan diriku sendiri. Selama ini aku mencoba menerka semua tentangmu. Aku merasa sangat mengenalimu, nyatanya tidak. Ada begitu banyak praduga yang meleset.

“Nyatanya kamu tidak seperti itu”

Tapi aku senang. Aku tidak menyesalinya. Aku malah menyesali semua dugaan, terkaan, dan asumsiku sendiri selama ini.

Jadi kuputuskan saja untuk tidak menerka-nerka lagi semua tentangmu.

Pertanyaannya, sanggupkah?