Dapat Apa Sih Dari Ngeblog?

Kalau tidak salah ingat, tahun ini adalah tahun ketujuh saya ngeblog di WordPress. Tujuh tahun yang tidak bisa dibilang sebentar mengingat saya mulai menulis di sini ketika memakai seragam putih-biru. Bisa dibilang, jejak dari fase tumbuh dan berkembang saya dari remaja labil yang hobi ngegalau sampai menjadi gadis yang masih alay tersimpan rapi di sini, di blog ini.

Dahulu, saya menganggap blog sebagai media curhat. Suatu anggapan yang saya sesali di kemudian hari karena setiap membaca tulisan lama, saya selalu bertanya sendiri, “sealay itukah aku dulu?” sampai beberapa postingan di blog terpaksa saya hapus demi kebaikan diri saya sendiri, hmmm.

Sejujurnya, saya tidak menyangka bisa sejauh ini bertahan untuk tetap ngeblog. Selain itu, saya juga tidak menyangka ada begitu banyak hal yang bisa saya dapatkan dari ngeblog. Mulai dari menjadi lebih giat untuk menulis, dikenal oleh beberapa orang, sampai dapat banyak teman baru.Read More »

Pendiam

“Gantian kamu dong yang cerita!”

“Mau cerita apa lagi? Tadi kan udah”

“Yah, masak dari tadi aku terus yang ngomong. Aku kan jadi kelihatan cerewet”

“Memang cerewet kan?”

“Bukan, kamu aja yang terlalu pendiam”

Sudah beberapa kali setiap bertemu teman di lingkaran pertemanan, saya mendapati percakapan seperti atau serupa itu. Sebagai perempuan tulen, saya merasa gagal karena kurang banyak bicara. Hmmm. 

Entah sejak kapan saya menjadi lebih pendiam, padahal sewaktu SD dulu simbah sampai menegur saya karena terlalu banyak bicara. Saking cerewetnya, saya sampai diberi julukan “si mulut kereta api” sama mbah. Hmmm.

Kenapa saya jadi tidak suka banyak bicara? Akhir-akhir ini saya mencoba mengingat kembali sebenarnya apa sih yang membuat saya jadi semakin diam setiap berkumpul dengan teman-teman.Read More »

Aku Lupa Kapan

You make my heart feel like it’s summer

When the rain is pouring down

You make my whole world feel so right when it’s wrong

Aku lupa kapan terakhir kali merasa senang hanya dengan bermain permainan batu-gunting-kertas sampai akhirnya aku memainkannya bersamamu. Lucu jika mengingat permainan sederhana yang kita lakukan berakhir dengan hasil yang seringkali seri, aku mendominasi menang, dan kekalahanmu yang sudah tak terhitung jumlahnya.

Aku lupa kapan terakhir kali merasa cerewet, membicarakan begitu banyak hal dengan seseorang sampai akhirnya aku mengobrol bersamamu. Aku memang bukan pencerita yang baik, tapi kamu terlalu baik karena mau repot menjadi pendengarku.

Ada banyak ‘aku lupa kapan terakhir kali merasa blablabla sampai akhirnya aku blablabla bersamamu’, tapi aku malu mengatakan semuanya. Hal-hal seperti itu entah mengapa terasa menggelikan namun punya efek yang begitu menyenangkan. Perasaan yang menggelitik perut itu pasti kamu menyukainya kan?

Mungkin aku perlu menyunting pernyataanku dulu yang dengan percaya dirinya berkata bahwa jatuh cinta punya masa kedaluwarsa.

 

Meracau

Hari itu aku menangis sesenggukan setelah sekian lama tak merasakan sedih. Aku menangis tak bersuara sampai mataku sembap dan ketiduran. Saat bangun, aku menertawakan diriku yang dengan konyolnya mengira kain pembersih lensa kacamataku sebagai sapu tangan. Terlanjur, sudah penuh dengan air mata dan ingus, sungguh aku menertawakan kebodohanku.

Kemudian entah mengapa dua rekaman suara yang kamu kirimkan bisa meluruhkan seluruh kelesuanku senja itu. Aku akhirnya tertawa dan melupakan kisah sedihku siang tadi. Kuputar berulang kali dan tawaku makin jadi. Permintaan jahilku tempo hari ternyata kamu tanggapi serius sekali, tapi aku menyukainya. Sekarang kamu mengerti kenapa dua rekaman itu bisa jadi hadiah terindah untukku, kan?

Bagiku, kamu tidak pernah kuanggap seperti baris puisinya Eyang Sapardi yang mengatakan bahwa ‘aku ingin mencintaimu dengan sederhana’. Bagiku, kamu adalah cukup. Tidak lebih dan tidak kurang. Mungkin pengibaratan yang cocok dari kecukupanku bisa kamu bayangkan dari hadits dhaif yang isi di dalamnya menyebutkan: ‘mulailah makan sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang’.

Bagiku, kamu adalah cukupku yang dengan kehadiranmu bisa membuatku merasa bernilai. Kadang kita memang butuh orang lain untuk melihat seberapa bernilainya diri kita sendiri, kan?

Bagiku, kamu adalah cukupku yang mampu membuatku yakin kembali menyusun kepingan-kepingan asaku.

Bagiku, kamu adalah cukupku yang dengan kehadiranmu bisa membuatku merasa aku tidak butuh siapa-siapa lagi. Read More »

Sebulan Tanpa Instagram

Awal tahun 2018, saya memutuskan untuk uninstall instagram. Alasan utamanya sederhana dan mungkin konyol. Karena sebenarnya saya cemas melihat segala instastories teman-teman seperjuangan yang rajin banget update lagi di kampus atau perpus untuk keperluan skripsinya. Yak, begitu buka stories teman-teman yang berbau dunia skripsi dan sidang atau bahkan wisuda, saya merasa dikucilkan. Saya merasa hina dan tidak berguna. Dengan tekad bahwa setelah uninstall instagram saya akan lebih rajin mengurus segala urusan skripsi tanpa perlu menoleh atau melihat progress teman-teman, saya akhirnya melepas aplikasi instagram dari kehidupan saya.

Sebenarnya tidak terlalu berat selama saya tidak menggunakan instagram satu bulan terakhir ini, karena sudah sejak lebih kurang tiga bulan yang lalu, saya berhenti melihat timeline dan hanya melihat instastories keluarga atau teman-teman terdekat saja. Saya lebih sering menggunakan aplikasi instagram untuk membuka kolom explore. Di sana, saya suka melihat video orang-orang yang sedang mukbang makan seafood, atau proses pembuatan makanan unik, atau potongan-potongan drama korea on going. Karena di explore instagram kita bisa menemukan apapun kan?

Tapi makin ke sini saya jadi berpikir, ternyata terlalu banyak waktu yang saya habiskan untuk menikmati explore di instagram. Setiap ada waktu luang, pasti tangan saya reflek nunyuk instagram. Pas lagi nggak luang pun pasti sebisa mungkin menyempatkan diri membuka instagram. Saya mulai merasa ada sesuatu yang salah dari diri saya. Menurut teori uses and gratification di buku Psikologi Komunikasi yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat, yang saya lakukan sebagai pengguna media menyimpang karena seharusnya:

  • Khalayak aktif dalam penggunaan medianya berorientasi pada tujuan
  • Pemuasan kebutuhan pada pilihan media tertentu ada di tangan khalayak
  • Khalayak cukup memiliki kesadaran diri akan penggunaan media mereka, minat, dan motif sehingga dapat memberikan sebuah gambaran yang akurat mengenai kegunaan suatu media
  • Khalayak memiliki otonomi dan wewenang untuk memperlakukan media

Read More »

Bagian Tiga: Kopdar!

Sekitar pukul tiga sore, akhirnya KRL tujuan Bekasi datang menjemput kami bertiga dari Stasiun Juanda. Kali ini suasana KRL terasa amat berbeda, kami tidak dapat tempat duduk dan bisa dibilang kondisi di dalam KRL cukup sesak. Ah tidak papa, toh dengan berdiri saya jadi bisa melihat pemandangan Jakarta dengan lebih jelas. Setelah berdesak-desakkan sekitar satu jam, akhirnya kami tiba di Stasiun Bekasi!

Stasiun Bekasi nampak berbeda dari yang saya lihat sebelumnya, sore itu terlihat amat sangat ramai. Keluar dari pintu utaranya, langsung disambut dengan padatnya jalanan di sana. Pesan GrabCar pun bikin keki juga nunggunya, hampir setengah jam kami menunggu driver penyelamat kami datang. Padahal jarak antara Stasiun Bekasi ke Summarecon Mall Bekasi (SMB) tidak begitu jauh, paling 5-10 menit saja. Terlihat jelas kak Fadel gusar karena dia belum sholat ashar. Untungnya saya dan Afifah sudah jamak qashar heuheu.

Akhirnya sampailah kami di SMB, baru kali ini saya masuk mall segede ini. Mall Paragon di Semarang nggak ada apa-apanya dibandingkan SMB. Padahal saya tipe orang yang nggak suka datang ke mall gede-gede, rasanya minder aja nggak tahu kenapa. Tapi kemarin di SMB kok rasanya fine-fine aja ya? Mungkin karena saya tahu itu pertama dan terakhir kalinya saya kesana. Setelah masuk ke dalam mallnya, kami segera bertanya pada satpam di mana letak mushola, Kak Fadel menelepon Kak Dea untuk mengabari kalau kami sudah sampai. Sambil menunggu Kak Fadel selesai sholat, saya menghubungi Kak Dea dan disuruh turun satu lantai karena Kak Dea sudah menunggu di sana.Read More »

Bagian Dua: Noraknya Saya di Jakarta

I’m still on my way to get to where you are

Try to let go the things I knew

We’ll forget Jakarta

Promise that we’ll never look behind

Tonight, we’re gone to where this journey ends

But if you stay, I will stay

Pagi selepas sarapan daging semur masakan tante, saya bersiap-siap melancong ke Jakarta bersama Afifah dengan menggunakan KRL. Sebelumnya saya sudah janjian dulu sama Kak Fadel untuk bertemu di Kota Tua jam sembilan, sambil diwanti-wanti agar tidak salah naik KRL dan berhenti di Stasiun Jakarta Kota. Iya, ngerti kok, masak hal remeh kayak begitu saya nggak ngerti sih? Kan kebangetan. -_-

Di KRL, saya cuma bisa melongo memandangi sekitar. Dalam hati saya berteriak, “Tjuy! Akhirnya inyong bisa naik KRL juga tjuy! Keren juga ya ini kereta! Masuknya pakai kartu, gerbongnya panjang, eh ada gerbong khusus wanitanya lagi. Duh, kapan ya Semarang bisa begini.”

Oh iya tentu selain melongo saya juga beberapa kali tertawa mendengar interkom khas KRL, dari yang cuma ngomong “Hati-hati, hati-hati pintu akan segera ditutup, hati-hati” sampai interkom “Kereta akan tiba di stasiun Cikini”. Hampir semua nama stasiunnya lucu sih, ada Cakung, Gondangdia, Klender, dan sebagainya, cuma yang paling bikin ketawa ya Cikini. Intonasinya bisa lucu gitu lho, kayak mbak-mbak yang di interkom lagi bahagia banget waktu ngomong Cikini. Duh, jadi kangen kan ini pengin dengerin lagi hahaha.Read More »