Kisah Cinta Nelangsa

Menjelang reuni akbar SMP yang akan diadakan kurang dari dua minggu lagi, grup alumni otomatis jadi ramai. Banyak teman-teman saya yang mengaku kangen dengan masa-masa SMP dulu. Ada yang membagikan foto-foto lawas, ada yang curcol ngomongin kisah kasihnya dulu, ada juga yang pamerin suami sama anak-anaknya (ini yang paling menyebalkan karena menimbulkan kecemburuan sosial).

Iseng punya iseng saya membuka kotak rahasia saya semasa SMP dulu, ya hitung-hitung merefresh kenangan biar besok-besok kalau reuni ada obrolan menarik yang bisa diperbincangkan. Di dalam kotak yang saya sebut rahasia itu, isinya ada puluhan surat dari teman-teman, guru, dan adik kelas, juga beberapa kenang-kenangan berupa hadiah dari teman dan guru. Lalu ada juga, ehem, buku harian yang menarik perhatian saya.

Membaca buku harian, saya jadi menyadari satu hal, saya punya kisah cinta yang nelangsa. Jauh lebih nelangsa ketimbang Kisah Cintanya Si Umar. Sebut saya tidak tahu malu karena akan menceritakannya di sini, tapi saya rasa ada baiknya saya ceritakan agar kalian semua tahu, kisah cinta yang nelangsa memang milik semua orang. Hahahahaha!

Oke baiklah saya mulai. Waktu itu saya masih kelas tujuh, tahun pertama memakai seragam putih biru, tahun di mana saya masih polos dan belum mengenal apa itu cinta. Hari itu kebetulan adalah hari ulang tahun saya, saya tidak merasakan adanya kejanggalan sampai semuanya berubah selesai sholat dhuhur berjamaah. Waktu itu selesai sholat, saya masih berdoa dan tidak menyadari kalau teman-teman saya yang sedang berhalangan sholat berisik sekali di dalam kelas. Kemudian saya sadar setelah melipat mukena dan masuk ke kelas, saya dikejutkan oleh nyanyian ulang tahun dan sebuah tart dengan lilin di atasnya. Ya intinya saya dinyanyikan dan disuruh tiup lilin.

Sudah beres tiup lilin, saya potonglah kuenya. Belum selesai saya potong, salah satu teman saya tiba-tiba bertanya pada saya.Read More »

Iklan

Mimpi

20 Desember 2017

Di rumah simbah kakungku, aku bertemu tante dan saudara sepupuku. Di sana aku konsultasikan masalah skripsiku pada tanteku. Tanteku mendengarkan proses pengerjaan skripsiku dengan seksama. Kemudian aku bertanya pada tanteku, “enaknya kalau masalahnya gitu, judulnya apa ya tante?” Tanteku kemudian memberikan judul skripsi yang langsung aku acungi jempol sarannya. Besoknya latar berpindah di kampus, ruang jurusan, meja dosen pembimbingku. Di sana, aku mengajukan latar belakang proposal skripsiku dengan judulnya. Dosenku tersenyum, mengangguk setuju, bagus kata beliau. Aku keluar dari ruang jurusan dengan perasaan gembira bukan main.

Ketika bangun, aku mencoba mengingat lagi judul skripsiku. Gagal. Bangun dengan perasaan sedih.

21 Desember 2017

Sore itu di depan rumah, aku kedatangan tamu spesial. Namanya Thor. Iya, Thor yang punya palu Mjolnir itu, yang hancur di film Thor Ragnarok. Aku seperti sudah berteman lama dengan Thor. Thor mengetuk pintu rumahku dan bertanya, “Udah disiapin semua barang-barangnya untuk ke Jakarta?” Aku mengangguk sambil tersenyum. Thor kemudian mengajakku ke luar gerbang rumah. Thor hampir mengalunkan palunya agar kami berdua bisa segera mengangkasa dan sampai di Jakarta. Belum sempat, ada dua kawan SMP-ku yang datang. Mereka datang hanya untuk melihat-lihat palu Thor dan mencoba memegangnya yang tentu saja gagal (tidak ada yang kuat mengangkat si Mjolnir selain Thor). Aku menyuruh mereka segera pergi. Setelah mereka pergi, Thor kembali mengayunkan si Mjolnir.

Belum sempat mengayun sempurna, belum sempat mengangkasa, aku dibangunkan dari mimpi (hampir) indahku.

22 Desember 2017

Ini mimpi buruk, tidak usah diceritakan.

23 Desember 2017

Mimpi jadi semakin buruk, saking buruknya tiba-tiba terbangun dan tak ingin memejam lagi.

Seminggu belakangan, sepertinya aku selalu bermimpi. Baru di empat hari terakhir, tiap bangun dari tidur aku mencoba mengingat kembali mimpiku dan menuliskannya. Entah atas motivasi apa, tapi merasa semua mimpi ini berhubungan.

Lah, berasa jadi Suzy di drama While You Were Sleeping. -_-

Payung Teduh – Di Atas Meja

Dua hari yang lalu, secara tidak sengaja saya melihat home Youtube dan menemukan satu video yang menarik perhatian saya. What? Payung Teduh? Lagi? Secepat ini? Tidak perlu berpikir dua kali, saya langsung mengkliknya.

Sekali dengar, saya membaca liriknya (official lyric video). Dua kali dengar, saya mencoba memahami isi lirik dan mengagumi alunan nadanya. Tiga kali dengar, saya langsung meng-klik suka dan merekomendasikan ke teman-teman Peneduh (fans Payung Teduh).

Awalnya saya dibuat bingung dengan judulnya, namun akhirnya saya mengerti kenapa judul Payung Teduh kali ini hanya menunjukkan kata keterangan tempat saja. Tidak seperti Akad, lagu yang memang sudah dirancang untuk terlihat manis dilihat dari judulnya, lagu Di Atas Meja ini justru terkesan getir.Read More »

Wisata Mengenyangkan dan Menyenangkan di Pasar Papringan Temanggung

Selamat Hari Minggu!^^

Pagi tadi saya bersama keluarga mengunjungi salah satu destinasi wisata baru yang ada di daerah Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Pasar Papringan, sebuah pasar dengan konsep unik karena berasal dari ide yang mahal. Kata papringan sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang berarti hutan bambu. Yak tepat sekali, Pasar Papringan adalah pasar yang menawarkan konsep makan-makan sekaligus rekreasi di hutan bambu. Sudah mulai tergambarkan? Kalau belum biar saya kasih gambaran:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan yang bisa dilihat setelah memasuki pintu utama
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ramai, sesak, tapi asyik dan sejuk

Awalnya, hutan bambu yang sekarang menjadi Pasar Papringan ini, dulunya adalah tempat pembuangan sampah. Kemudian ada sebuah komunitas bernama Komunitas Mata Air yang menyulapnya menjadi sebuah tempat yang bisa menarik perhatian orang-orang. Terciptalah sebuah konsep yang terinspirasi dari Pasar Papringan Kelingan. Mungkin karena Pasar Papringan di Kedu lebih dekat dengan pusat kota dan lebih mudah diakses, menjadikan pasar ini lebih terkenal dibandingkan Pasar Papringan Kelingan yang menjadi pencetusnya. Kabarnya Pasar Kelingan ini juga sudah ditutup.Read More »

Kenapa Saya Masih Sendiri

“Za, kamu nggak bosen apa sendiri terus kemana-mana?”

“Za, mau aku kenalin sama temenku nggak? Kayaknya cocok”

Setiap kali saya ditanya model pertanyaan seperti itu, biasanya saya akan jawab dengan

“Ntar lah fokus kuliah dulu”

Atau

“Aku masih suka jalan-jalan sendiri kok”

Tapi ketika ada pertanyaan model begini:

“Kamu tuh suka sama laki-laki nggak sih Za?”

Rasanya ingin teriak

“YA JELAS SUKALAH PAKE DITANYA SEGALA LAGI!”

Read More »

Obrolan Sore

“Cinta pertama itu nggak ada”

Reno, satu-satunya teman cowok yang kumiliki sejak zaman ingusan reflek memotongku bercerita ketika aku tengah asyik mengocehkan si cinta pertamaku di masa putih biru.

“What? Cinta pertama itu ada dan nyata kali Noy!” Noy adalah panggilan akrab dariku untuk Reno.

“Nggak, cinta pertama itu nggak pernah ada. Mana buktinya?”

“Si Tamir, temen SMP kita, doi adalah bukti cinta pertama gue ada dan nyata”

Reno mendengus mendengar nama Tamir untuk yang kesekian kalinya sore ini.

“Tamir bukan cinta pertama lo, Mira” Katanya sambil mengaduk-aduk es coklat kesukaannya.

“Lho? Lo inget sendiri kan dulu waktu SMP gue heboh banget cerita ke lo soal si Tamir cakep anak basket? Tamir lelaki pujaan tiap cewek di SMP kita Noy! Lo lupa? Lo lupa betapa berbinar-binarnya mata gue waktu cerita soal Tamir ke lo?”

“See? Tamir bukan cinta pertama lo Mira” Kali ini Reno mengambil sepotong pizza kemudian memasukkannya ke dalam mulut mungilnya.

“Terus siapa cinta pertama gue Noy kalo bukan Tamir?”Read More »

Jadi Begini…

Seseorang bercerita padaku soal temannya yang begitu clingy pada kekasihnya. Ia perempuan yang bila pesannya tidak dibalas lebih dari enam jam oleh pacarnya, ia akan merasa down, mencemaskan banyak hal sampai pada pertanyaan “Apa aku emang nggak layak untuk dicintai?”

Mungkin bagi sebagian perempuan, sifat clingy atau terlalu lengket pada pasangan dianggap suatu hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Siapa sih yang nggak suka dikabarin tiap hari? Diceritain aktivitasnya hari ini ngapain aja, atau lagi di mana dan dengan siapa saja menghabiskan hari? Perempuan menganggap, hal-hal seperti itulah yang membedakan antara teman biasa atau kekasih. Kalau teman, ya ngapain harus dikabarin tiap hari tiap saat? Kalau teman, ya sebodo amat dia mau kemana aja sama siapa aja hari itu. Tahu sendirilah, perihal teman dan kekasih ini jurang pemisahnya tinggi sekali.

Nah masalahnya, ndak semua orang terkhusus laki-laki dalam konteks ini, suka mengirim pesan atau menelepon untuk memberi kabar dia sedang ngapain atau pergi kemana saja selama seharian tadi. Ndak semua orang betah menjelaskan panjang lebar atau mengetik pesan panjang untuk mengabari seseorang yang menanyakan lewat gawainya.Read More »