Kamera-

“Ikutan lomba cerpen mau ngga? Temanya kamera dan inspiring moment”, kata kak Jeka.

“Temanya sulit kak”, kataku.

“Gampang kok, kamu tinggal bayangin aja kamu jadi kamera. Terus tuangin ke dalam cerita”, lanjut kak Jeka.

“….”, hening.

Eh tunggu dulu. Kak Jeka, siapa ya dia? Hayo siapa?

Hmm, kak Jeka itu bisa dibilang temen kenalan dari dunia maya -lebih tepatnya, blog- yang akhirnya bisa dipertemukan suatu waktu di dunia nyata dan kita bisa ngobrol lumayan lama satu sama lain. Kira-kira apa ya istilahnya? Ya intinya begitulah, hehe.

Setelah bertemu dengan sosok kak Jeka aku jadi lebih tau kalau kak Jeka itu suka banget sama yang namanya buku, terutama komik, hehe. Jadi jangan heran, kalau tulisan kak Jeka itu bener-bener bagus banget dan kalian harus liat blog-nya kak Jeka. Nih, http://ydkzk.wordpress.com/

Nah, karena aku akhirnya ngga berani ikutan lomba cerpen, maka sekarang aku putuskan untuk membuat sesuatu -bukan cerpen- tentang kamera. Itung-itung sebagai permintaan maafku buat kak Jeka *eeh

Kamera-
Aku bukan SLR. Aku bukan kamera digital, apalagi handycam. Aku juga bukan polaroid yang bisa dengan instan menghasilkan sebuah gambar.
Aku hanya sebuah kamera. Usang, juga berdebu.

Tak ada tombol delete di tubuhku. Jadi, sekalinya manusia salah mengambil gambar, ia tak akan bisa menghapusnya. Aku sedih.

Tak ada kabel charger, yang ada hanyalah batu baterai berbentuk tabung dengan diameter tak lebih dari dua senti. Jadi, aku akan menambah pengeluaran manusia untuk membeli sumber energiku. Aku jadi tambah sedih.

Tak ada memory card di dalam tubuhku, yang ada hanya sebuah roll film berwarna coklat kehitaman, yang kalau mau dicetak butuh waktu lama, juga biaya yang tak sedikit. Sungguh, aku benar-benar menyedihkan sekarang.

Iya, aku hanya sebuah kamera yang bahkan manusia sekarang pun tak tau siapa namaku. Aku yang ditinggalkan di lemari lapuk dalam gudang. Aku yang terbuang, diabaikan. Aku yang kesepian sambil meratapi nasib sendirian.

Aku yang dalam diam, diam-diam menghilang dari peradaban.

Selamat tinggal! 😦

Cinta-Ingus

Cinta itu macam ingus yang keluar-masuk lewat hidung. Keluar kalau lagi sendiri, udah gitu dikeluarinnya ngga tanggung-tanggung. Sampai tuh ingus udah ngga ada sisanya lagi di hidung. Atau masuk kalau lagi diliat banyak orang, diempet-empet deh, pokoknya jangan sampai keluar dari hidung. Malu lah sama orang-orang yang ngeliat.

Ya, cinta seharusnya macam ingus.
Dan ingus macam ni, sroot sroot sroot!

Fiksi.

“Alkisah, pada suatu masa, hiduplah seorang gadis remaja berwajah jelita nan cantik. Sayangnya, tak pernah sekalipun ia tersenyum. Satu hal yang membuatnya begitu, karena ia sangat gendut. Lihatlah! Ketika ia berlari, gelambir lemaknya saling beradu membentuk irama. Membuatnya terlihat semakin ‘cantik’. Sampai-sampai membuat lelaki manapun yang datang menghampirinya bergidik ngeri. Mereka -para lelaki- merasa dibodohi dengan foto 3×4 gadis berparas menawan dengan gelambir yang juga tak kalah ‘menawannya’. Ya, mungkin karena hanya wajah si gadis saja yang diperlihatkan. Bukan keseluruhan tubuhnya. Tak akan ada yang mau menolak berkenalan dengan gadis berparas menawan. Hey! Ini abad 20, bung! Lupakan soal paras kalau postur tubuh saja seperti angka nol. Pantas saja. Alhasil, si gadis belum juga mendapatkan tambatan hatinya. Berlabuh saja belum ada yang mau. Silih hari berganti, si gadis semakin frustasi.

Hingga suatu hari. Datanglah seorang pandai besi. Sengaja didatangkan maksudnya. Tentu saja si gadis yang mengundangnya. Konon kabarnya, si pandai besi itu hebat bukan main. Tak pernah ada pelanggan yang komplain padanya. Sungguh, ia sangatlah mahir. Si pandai besi diperintahkan untuk membuat sesuatu yang dapat membuatnya tersenyum. Dengan tangkasnya, si pandai besi membuat sebuah cermin. “satu hari langsung jadi”, itulah prinsip kerjanya. Selesai sudah tanggungan si pandai besi. Kemudian ia pergi.

Si gadis yang sudah amat sangat penasaran akhirnya dengan tak sabar ia membuka kain penutupnya. Dan lihatlah! Sebuah cermin berukuran sedang dengan ukiran khas jepara di tiap sisinya. Tak banyak membuang waktu, si gadis langsung bercermin di depan cermin ukiran itu. Dan ajaib! Seketika si gadis merekahkan senyumnya. Tiap detik bertambah semili. Sekarang, ia sempurna memamerkan seluruh giginya saking senangnya.

Coba tebak, apa yang membuatnya bisa tersenyum? Mudah saja, karena saat ia bercermin di cermin ukiran itu, maka tampaklah berubah tubuhnya. Menyusut tiga kali lipat. Membuatnya terlihat amat sangat mempesona. Membuat ia betah berlama-lama bercermin. Lupa makan, lupa mandi, lupa semuanya. Lebih tepatnya, lupakan saja semuanya.

Tak sampai dua hari, si gadis mati. Ia mati dalam bahagia fiksinya.”

(?)

Hari ini saya teramat bahagia. Melihatmu lagi setelah sekian lama kita tak bersua. Sudah hampir enam bulan, iya kan? Maaf membuatmu lama menunggu (entah kenapa aku bisa sepede ini -_-)

Kamu tak banyak berubah. Saya yang banyak berubah. Walau masih ada yang belum berubah. Entahlah apa itu namanya.

Terimakasih.

Whatever

Saat semua yang tiada menjadi ada.

Seperti mengada-ada

Saat semua yang tak terlihat jadi terlihat

Seperti dikejar ketakutan yang mencekam

Saat semua kebisuan berubah ramai

Seperti hilang semua senyap

 

Entahlah. Ada yang tak ada di hati. Mungkinkah kebahagiaan? Well, itu benar. Bahagiaku mungkin sudah sempurna hilang kalau aku tak ingat kata-kata ajaib ini, “bahagia itu sederhana”. Emang ngga ada susahnya kan untuk  senyum?  Senyum itu gampang. Tapi kalau cuma luarnya doang yang keliatan baik kan sama aja itu bullsh*t  -maaf-

Iya, bahagia emang sederhana. Juga sebentar. Banget.

Aku rasa ada benarnya juga kalau banyak orang yang bilang aku ini bermuka dua. HAHAHAHA.