Kecewa

“Aku ngga marah, aku hanya kecewa.”
Eh tunggu dulu, bukankah kecewa jauh lebih menyakitkan dibanding marah? Iyakan? I think. Kalau aku sih lebih ngerasa sedih kalau ada orang yang kecewa dibandingkan marah padaku. Beneran. Karena kecewa itu pasti datangnya dari hati. Kalau marah memang bisa juga dari hati, tapi lebih ke emosi.

Dan, kali ini aku dikecewakan. Rasanya mau muntah. Ditambah, aku dikecewakan oleh orang yang jarang sekali bisa membuatku kecewa. Parah, sekarang aku bener-bener muntah.

Mematahkan janji itu sesulit mempertahankan prinsip. Bagiku, tapi tidak bagimu. Well, aku paham. Kamu memang butuh suatu kepastian. Dan benar, kepastian itu datang. Baru-baru ini kamu dapatkan kepastian. Dan kamu senang. Aku yang kecewa.

Kamu tau? Aku sudah terlanjur kecewa padamu. Dan kecewa akan tetap kecewa namanya sampai kapanpun.

Sebagai pelajaran saja, aku tak akan pernah percaya lagi dengan janji-janji yang sama walau dari orang yang berbeda. Itu sekedar janji gengsi.

Tapi aku, aku akan selalu memegang teguh janjiku.

Empat Belas Kali

Semalam memimpikanmu itu benar-benar membuatku gila. Aku gila. Karena mimpi. Mimpi kamu. Lagi. Bisakah kau? Pergi dari mimpiku. Bisakah kau? Menghilang dari khayalku. Bisakah? Kali ini saja, kumohon.

Sudah keempat belas kalinya. Kamu hadir tanpa tau malu lewat mimpiku. Tunggu dulu, apa aku yang kelewat memikirkanmu? Ah, aku jadi bingung.

Aku benci kamu. Hadir di mimpiku. Lagi.

Aku benci kamu. Benci.

Itu mulutku tadi yang bicara. Bukan hati. Entah.

Aku jadi makin bingung.

Aku Rindu.

Aku jatuh, dan tiba-tiba saja, aku lupa bagaimana caranya bangkit.
Bagaimana cara menghitung.
Bahkan, aku sempat lupa bagaimana caranya bernafas.

Tapi entah mengapa, aku sangat menyukai saat-saat itu.
Saat dimana aku lupa bagaimana caranya bangkit dari jatuh.
Saat dimana aku tak bisa menghitung.
Saat dimana aku merasa aku benar-benar hampir mati karena lupa bernafas.

Begitulah, saat-saat kamu merasakan degup jantungmu berdetak lebih cepat. Bergemuruh, dengan perasaan yang membingungkan.

Saat-saat yang menggelora dan tentu saja, menyenangkan.
Jujur saja, aku rindu.

🙂

Pelik dan Sakit

Mencintai seseorang selalu membutuhkan alasan. Bullsh*t bagi mereka yang bilang, “mencintaimu itu tak membutukan alasan apapun”. Karena mencintai itu datangnya dari hati. Bukan dari mulut apalagi gombal murahan. Mencintai itu berarti menyukai segalanya dari dua sisi. Bukan hanya yang baik, kejelekannya pun harus kita sukai. Mencintai itu rumit, tapi tetap tak serumit sakit hati. Mencintai, berarti siap untuk menerima segala kemungkinan yang ada. Sekalipun kemungkinan yang paling buruk. Bukan penolakan, tetapi pengasingan. Karena saat kita tau mencintai itu sakit, maka kita akan terasing. Merasa sepi, merasa diasingkan, oleh orang yang membuat kita menjadi asing. Dan kita akan rasakan, betapa sakitnya keterasingan itu. Sungguh pelik dan menyedihkan.

Jatuh cinta itu sulit. Benar-benar sulit.

Sakit hati itu mudah. Benar-benar mudah.

Jangan mudah jatuh cinta. Kalau kamu benar-benar tak ingin menjadi asing.

Sebelas kali.

Kenapa harus jadi yang kesebelas kalinya sih? Aku juga heran kenapa mimpiku masih saja sama seperti mimpi-mimpi yang sebelumnya. Lagi-lagi kamu, lagi-lagi di tempat itu, lagi-lagi alurnya seperti itu. Aneh. Sungguh aneh. Aku merasa mimpiku jadi kurang kreatif akhir-akhir ini  kalau hanya kamu saja yang terus ada. Padahal jelas-jelas aku tak lagi memikirkanmu. Kenapa selalu kamu yang ada di setiap mimpiku? Bodoh! kalau begini terus kapan aku bisa dapet inspirasi coba?

Aku ngga perlu cerita lagi mimpiku yang kesebelas. Karena isinya sama seperti mimpiku yang kesembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu. Semua sama, kita masih jadi tokoh utama. Aku masih jadi pihak yang seakan-akan gagal move on. Dan kamu? Kamu jadi pihak yang membuatku gagal move on. Padahal aku sudah melupakanmu sejak hari-hari yang lalu. Sudah lamaaaa sekali.

Aku pikir, aku sudah tak lagi memimpikanmu setelah aku bermimpi yang kesepuluh. Tapi ternyata aku salah besar. Kamu lagi-lagi hadir. Menganggu, membuatku marah ketika aku sadar semalam aku memimpikanmu (lagi). Cukup, cukup yang kesebelas yang menjadi akhir. Bagiku angka sebelas sudah cukup membawa kabar buruk. Plis, jangan sebelas (lagi). Tapi aku jamin, kalau aku tidak memimpikanmu lagi setelah yang kesebelas ini. Aku akan mencoba untuk meyukai angka sebelas. Walaupun itu sulit. Walaupun itu sakit.

Kamu, tiga huruf. Aku, lima huruf. Totalnya jadi delapan huruf. Hey, angka delapan itu angka kesukaanku, bodoh! Iya aku bodoh, mau-maunya aku suka angka delapan. Bukankah masih ada samudera angka di dunia ini? Kenapa harus delapan yang aku suka sih, bodoh!

Mau bagaimana lagi, aku suka angka delapan sejak aku masih ingusan. Sejak aku belum kenal kamu. Sejak aku belum mimpi kamu. Sejak aku masih mengompol di celana. Sejak aku masih merengek minta dibelikan balon berwarna biru.

Lalu, siapa yang salah? Jangan cari siapa yang salah. Tapi apa yang salah. Periksa hatimu dulu, Jar!

Sepuluh kali.

Beberapa malam lalu aku bermimpi. Ini mimpiku yang sama kesepuluh kalinya. Iya sama persis. Latar, alur, dan juga tokohnya. Tapi entah kenapa, aku yang jadi tokoh utama dalam mimpiku terkesan sedikit lebih cuek dengan tokoh lawanku. Anggap aja tokoh lawanku aku beri nama ‘dia’.

Kuingat dalam mimpi, pernah suatu saat kita berpandangan satu sama lain. Lalu dia tersenyum, maksud hati aku ingin membalas senyumannya. Namun tiba-tiba saja kepalaku refleks berpaling dan aku pergi. Kemudian aku ikut nimbrung bermain bersama tokoh-tokoh figuranku. Untuk yang pertama kalinya, aku dapat mengabaikankan senyumannya.

Hal kedua yang kuingat dalam mimpiku. Saat itu aku sedang duduk berdua bersama seorang tokoh figuran di balkon atas. Kami tertawa, saling melepas rindu. Tiba-tiba saja dia terlihat sedang memperhatikanku dari bawah. Saat aku menatapnya, dia melambaikan tangannya. Ya, lambaian tangan khasnya memang tak akan pernah kulupakan. Saat itu, aku hendak mengangkat tanganku untuk membalas lambaian tangannya. Tapi entah apa yang kupikirkan, tiba-tiba saja aku menggandeng tokoh figuranku dan pergi begitu saja dari tempat dudukku tadi. Untuk yang pertama kalinya, aku dapat menolak lambaian tangannya.

Hal lain? entahlah aku sudah tak ingat persis kejadiannya seperti apa. Memang faktanya aku mudah melupakan mimpi.

Masih ingat catatanku yang bertitle ‘Delapan Kali’? tepatnya dibagian ini yang perlu di garis bawahi “Aku bermimpi, kamu tersenyum padaku. Mohon pamit, mohon untuk menanggalkan semua perasaanku padamu. Lalu kamu melambaikan tangan, lambaian tangan khasmu tak akan pernah kulupakan sampai detik ini juga. Dan lagi-lagi, kamu tersenyum padaku.”

Oke, dimimpiku yang kesepuluh ternyata aku sanggup melakukannya. Mengabaikannmu, menolakmu. Kau lihat sendiri kan? Aku sanggup, aku sungguh-sungguh sanggup menanggalkan seluruh perasaanku. Dan ketahuilah, saat aku terbangun dari mimpiku. Kepalaku pusing, dan aku lupa semuanya. Hingga siangnya aku baru ingat kalau semalam aku mimpi aneh. Mimpi aneh tapi aku rasa itu sebuah jawaban dari mimpi-mimpiku sebelumnya.

Kamu pasti tau jikalau mimpi kadang berbeda dengan kenyataannya. Tapi yang kutau, mimpi itu benar-benar sugesti. Dan kini aku paham, aku kembali tersenyum. Suatu saat nanti jika kita berkesempatan bertemu. Semoga aku bisa menjadi aku seperti di mimpiku beberapa hari yang lalu. Mengabaikanmu. Menolakmu.

Tapi tetap saja lambaian tanganmu mungkin tak akan pernah kulupakan. Mungkin.