Titik Jenuh

Pikiran kosong. Raga mudah lelah. Jiwa gelisah gundah. Serba salah. Mati sajalah.

Duhai titik jenuh, tak bisakah kau hadir di epilog cerita? Karena sekarang saja, prolog masih nol nol nol nol koma sekian.

Duhai titik jenuh, jangan mendidih dulu. Tetaplah hangat, tetaplah stabil.

Duhai titik jenuh, suatu saat aku akan merindukanmu. Tapi bukan sekarang. Kumohon, menjauhlah.

Duhai titik jenuh, tidakkah kau paham? Tidakkah kau merasa kasihan?

Duhai titik jenuh, pergilah jauh-jauh. Aku jenuh melihatmu!

Terakhir! Duhai titik jenuh, tetaplah untuk acuh tak acuh. Padaku.

Senakal-nakalnya Aku

Hai, aku Hajar dan aku anak sma negeri. Aku nakal? Iya. Tapi..

Senakal-nakalnya aku, aku tetap konsisten untuk sholat lima waktu.
Senakal-nakalnya aku, aku tetap di mentoring setiap seminggu sekali.
Senakal-nakalnya aku, aku tetap istiqamah untuk menjaga harga diriku.
Senakal-nakalnya aku, aku tetap tak berani berlama-lama untuk menatap lawan jenis.
Senakal-nakalnya aku, aku tetap berpegang teguh pada prinsip.
Senakal-nakalnya aku, aku tetap tak pernah menenggak miras, memakai narkoba, berjudi, atau dugem.
Dan yang paling penting, senakal-nakalnya aku, aku tak pernah berpacaran.

Karena aku pikir, semua kenakalanku akan bertambah kalau aku memiliki suatu hubungan yang tidak halal.

Memang, tak ada yang bisa dibanggakan dari anak negeri ketimbang anak ponpes. Selain kenakalan wajar yang seringkali terasa menyenangkan. Karena kalau aku nakal, setidaknya aku tidak akan kena poin keburukan. Seperti yang sering aku dapatkan dulu di asrama ketika smp. Hahaha.

Kecewa

“Aku ngga marah, aku hanya kecewa.”
Eh tunggu dulu, bukankah kecewa jauh lebih menyakitkan dibanding marah? Iyakan? I think. Kalau aku sih lebih ngerasa sedih kalau ada orang yang kecewa dibandingkan marah padaku. Beneran. Karena kecewa itu pasti datangnya dari hati. Kalau marah memang bisa juga dari hati, tapi lebih ke emosi.

Dan, kali ini aku dikecewakan. Rasanya mau muntah. Ditambah, aku dikecewakan oleh orang yang jarang sekali bisa membuatku kecewa. Parah, sekarang aku bener-bener muntah.

Mematahkan janji itu sesulit mempertahankan prinsip. Bagiku, tapi tidak bagimu. Well, aku paham. Kamu memang butuh suatu kepastian. Dan benar, kepastian itu datang. Baru-baru ini kamu dapatkan kepastian. Dan kamu senang. Aku yang kecewa.

Kamu tau? Aku sudah terlanjur kecewa padamu. Dan kecewa akan tetap kecewa namanya sampai kapanpun.

Sebagai pelajaran saja, aku tak akan pernah percaya lagi dengan janji-janji yang sama walau dari orang yang berbeda. Itu sekedar janji gengsi.

Tapi aku, aku akan selalu memegang teguh janjiku.

(Nggak Pernah) Sedih atau Marah?

“Kamu kok jadi orang ngga pernah keliatan sedih sih?”, kata salah seorang teman yang umurnya dua tahun lebih muda dibandingkan denganku. Dia tipikal orang yang cuek, berwajah datar, dan kalau ngomong ngga pernah mikir. Refleks aku ketawa. Pertanyaan lucu sih. Aku ngga menjawab pertanyaannya karena teman-temanku yang ikutan nimbrung sudah lebih dulu menjawabnya. Dari sekian jawaban temanku ada satu kalimat yang kuanggap lucu. “Kamu belum pernah buka blog-nya hajar sih. Isinya sedih, galau semua.”, hahaha. Aku tambah ketawa.

Well, memang sih. Aku emang jarang keliatan sedih, kecuali sama teman-teman tertentu yang aku anggap aku bisa dengan bebas menunjukkan ekspresi kesedihanku. Itupun jarang kok, sekali-dua kali mungkin. Aku ngga suka aja sedih, nangis mewek-mewek di depan temen-temenku. Selain malu, sering aku berpikir ngga ada gunanya juga nangis di depan teman-teman. Lebih enak juga berwajah sedih atau nangis sendiri di kamar. Hahaha.

Kalau marah? Btw, aku belum pernah lho memperlihatkan kemarahan (terparah)ku sama temen-temen sma-ku. Terakhir kali aku marah hebat itu, kelas delapan. Kata temen-temenku, aku beringas banget. Dari kata beringas aja sepertinya sudah cukup bisa menggambarkan, heuheu. Iya, orang yang jaraaaang banget marah itu biasanya kalau sekalinya marah pasti bakalan maha dahsyat. Dan semoga saja teman-teman sma-ku ngga pernah ngeliat aku marah parah. Hahaha.

Hidup itu indah kalau ngga pernah keliatan sedih atau marah di depan temen-temen, kok!
😀

Lima Belas Kali

Oke, kalian yang membaca pun pasti sudah bisa menebak. Mimpi yang sama, untuk yang kesekin kalinya. Tokohnya hanya aku dan dia. Untungnya, kali ini aku tidak terlalu ingat dengan mimpinya. Syukurlah. Yang kuingat hanya, kami -aku dan dia- bertemu dalam suatu acara dan saling mengobrol. Kami terlihat akrab. Memang, untuk orang yang sedang menjalin cinta, kenyataan akan jauh lebih indah dibandingkan dengan mimpi. Namun untukku, sebaliknya. Aku kan bukan cah cinta.

Satu lagi, tolong jangan menatapku dengan tatapan iba, aku tidak suka itu. Karena lusa kemarin, kamu melakukannya. Padaku.

Aku sanggup, kok. Aku benar-benar sanggup memasukkan namamu dalam blacklist-ku.

Cuek

Kupikir, perhatianku padamu akhir-akhir ini jadi berlebihan. Aku takut kalau-kalau di akhir nanti aku jatuh terlalu dalam. Lalu aku gelap mata, gelap hati. Kemudian? Sepi. Sedih. Frustasi.

Sudahlah, mulai dari sekarang aku ingin cuek. Padamu.

Selamat tinggal, perhatian! 🙂

Empat Belas Kali

Semalam memimpikanmu itu benar-benar membuatku gila. Aku gila. Karena mimpi. Mimpi kamu. Lagi. Bisakah kau? Pergi dari mimpiku. Bisakah kau? Menghilang dari khayalku. Bisakah? Kali ini saja, kumohon.

Sudah keempat belas kalinya. Kamu hadir tanpa tau malu lewat mimpiku. Tunggu dulu, apa aku yang kelewat memikirkanmu? Ah, aku jadi bingung.

Aku benci kamu. Hadir di mimpiku. Lagi.

Aku benci kamu. Benci.

Itu mulutku tadi yang bicara. Bukan hati. Entah.

Aku jadi makin bingung.

Jatuh – Bangun

Bodoh. Aku seperti orang bodoh kalau sedang bersamamu.

Jijik. Aku geli liat kamu dekat dengan orang lain selain aku.

Konyol. Aku terlihat aneh kalau sedang memikirkanmu.

Alay. Iya aku tau, kalian pasti bakal bilang kalau aku itu alay waktu kalian baca tulisan diatas.

Ada fasenya. Pasti ada fase dimana kalian merasakan hal yang sama seperti baris pertama sampai ketiga, atau seperti di baris terakhir. Ya, walaupun jelas-jelas kedua fase itu saling bertolak belakang.

Mau muntah? Silahkan saja.

Aku tidak akan bilang kalau aku sedang jatuh cinta, ini hanya semacam perasaan yang berbunga-bunga. Kadang perasaan ini tumbuh dengan mekarnya, kadang malah layu.

Aku tidak akan bilang kalau aku sedang jatuh cinta. Aku hanya sedang belajar untuk bangun cinta. Lebih tepatnya, belajar untuk lebih dewasa dalam memaknai cinta.