Mencoba Mematikan Rasa

Aku hanya ingin membalas semua kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan di masa putih abu-abuku dulu. Semua? Rasanya aku tak sanggup, biarlah hadiah kecil yang kubuat khusus untuknya paling tidak, cukup untuk menambal rasa bersalahku di masa lalu.

“Hai, kamu sibuk? Bisakah kita bertemu? Aku ingin meminta bantuanmu” begitulah kira-kira isi pesan singkat yang kutulis untuknya. Entah butuh berapa lama aku merangkai kata sehingga kumpulan kata-kata itu pada akhirnya kuanggap tidak terlalu agresif. Dan entah butuh berapa lama aku berpikir setelah mengirim pesan, apakah memang aku harus melakukan ini? Aku bodoh! Umpatku terus menerus sampai akhirnya, ada balasan darinya,
“Aku ada waktu luang, kita bisa bertemu.”
Aku merasa lega membacanya, juga gugup.

Hari ini adalah hari yang dijanjikannya untuk bertemu. Mual, gelisah, khawatir, berdegup, berbaur menjadi satu, itu yang kurasakan dua jam sebelum waktu yang dijanjikannya untuk bertemu. Padahal apa sih yang sebenarnya akan kulakukan nanti? Toh hanya bertemu dan memberi hadiah kecil untuknya kan? Hanya itu.

~~~~~

“Apa yang perlu kulakukan untuk membantumu?” Tanyanya setelah berbincang-bincang sedikit menanyakan kabar.
“Ini…” jawabku sambil menyodorkan sebuah bingkisan untuknya.
“Ini… apa? Apa yang harus kulakukan?” Tanyanya lagi dengan dahi berkerut dan alis yang naik sambil menerima bingkisan dariku.
“Aku butuh bantuanmu, tolong berikan bingkisan ini untuk kakakmu.” Jawabku dengan intonasi yang gemetar.
“Hanya itu? Tidak ada pesan untuknya? Atau sudah kamu tulis surat di dalamnya?” Tanyanya lagi dengan kerut wajah yang semakin bingung.
Aku menarik napas panjang sejenak.
“Oh! Ya! Aku hampir lupa, aku ada pesan untuk kakakmu. Tolong ketika nanti bingkisan ini sudah sampai ke tangan kakakmu sampaikan pesanku untuk memberikan bingkisan ini pada adik satu-satunya ia.” Jawabku cepat tanpa berani melihat kedua bola matanya.
Kerutnya perlahan menghilang, alisnya pun menjadi wajar. Lalu ia tersenyum.

Ya, setelah berterima kasih aku memutuskan untuk pamit pergi. Karena aku datang memang untuk pergi. Biarlah semua gundah gelisah gulana merana yang aku rasakan selama ini pergi bersama hadiah kecil itu.

~~~~~

Memang, dulu kita dekat, teramat dekat. Tapi kita tak pernah mempunyai hubungan yang lebih selain teman baik. Akulah yang jahat, karena menyalahartikan setiap kebaikannya sebagai sesuatu yang istimewa. Akulah yang terlalu banyak berharap hingga akhirnya aku merasa dihempaskan olehnya. Akulah yang mati-matian memastikan rasa yang pada akhirnya aku tahu ia mati rasa. Akulah yang salah.
Aku.

Terinspirasi dari seorang teman baik, Nurmalita (kunjungi blognya di: http://thisimply.blogspot.com/). Seseorang yang welcome seperti keset rumah. Seseorang yang diam-diam punya kisah jatuh cinta sendirian. Seseorang yang, memiliki skala keromantisan luar biasa.