Pelaku yang Tak Terlihat (part 4)

Oke, dengan sangat terpaksa aku menunggu aksi Kyou di kamar mandi. Entah apa yang akan dilakukan orang aneh sok misterius macam Kyou. Kyou menggedor pintu kamar mandi yang sedang digunakan. Makin lama, makin kencang Kyou menggedor. Mungkin karena kesal, Kyou mendobrak pintu kamar mandinya. Alhasil, Kyou langsung menarik paksa orang yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Aku kaget, rupanya yang ditarik Kyou itu Gino. Karyawan gendut dengan wajah menyedihkan itu sedang makan di dalam kamar mandi. Kyou setelah berhasil mengeluarkan Gino, ia langsung menghajar Gino habis-habisan. “kenapa kamu kejam pada Gino, Kyou?”, kataku sedikit berteriak. “dia memang pantas mendapatkan pukulan dariku. Karena dia-lah yang memutilasi 3 karyawan di kantor memuakkan ini!”, sentak Kyou tegas. Aku terpengarah tak percaya.

“ayo mengakulah! Kau pembunuh berwajah menyedihkan bermuka dua! Mengakulah pembunuh idiot”, kata Kyou pada Gino, kejam. “a-aku buk-bukan pem-pem-pembunuh”, balas Gino gagap ketakutan. “oh, rupanya kau jago berbohong juga. Apa mau aku tembak kau sekarang?!”, ancam Kyou lebih kejam. “hey, apa-apaan kamu Kyou, jangan seenak mulut menuduh kalau Gino itu pembunuhnya. Aku inspektur disini, aku yang berhak memutuskan!”, kataku marah. Aku sungguh muak dengan Kyou. “tapi memang Gino pembunuhnya, coba saja cek saikermu kalau kau tidak percaya inspektur”, balas Kyou masih membentak. Aku spontan mengecek saikerku. Ternyata benar, warna saiko-pass Gino sempurna merah. Aku kalut, takut, ciut.

“lekaslah kau mengaku! Apa mau kau rasakan tembakan super canggihku ini, hah!”, kali ini Kyou bersuara mantap. Perlahan suasana sepi, kakiku sudah sedari tadi gemetar. Tak kusangka, di depanku ada seorang pembunuh berdarah dingin. Tetap dengan kondisi yang tenang. Kami -Kyou dan aku- masih menunggu pengakuan dari Gino. “cih”, Gino mulai bersuara. “darimana kau tau kalau aku yang membunuh 3 orang udik sialan itu?”, lanjut Gino sambil tertawa. “sialan!”, bentak Kyou, dia menyeringai sambil terus mengarahkan pistolnya ke Gino.

“kau tau kenapa saiko-passku selalu saja redup? Kau mau tau, hah! Sederhana saja. Karena saiko-passku akan terus redup setelah aku berhasil membunuh orang-orang udik itu! Tentu dengan pembunuhan yang kejam!”, balas Gino acuh tak acuh sambil tertawa. “sudah kutebak, sialan!”, kali ini Kyou semakin marah. “dan kau juga harus tau! Karena kau kali ini membuat warna saiko-passku merah, kau akan kubunuh. Lebih tepatnya kalian berdua! Hahaha”, kata Gino. “Azu, lekaslah lari. Ikuti aku”, Kyou menggandeng tanganku dan kami berlari. “kau tau, dia benar-benar psikopat sadis. Aku yakin kali ini dia sedang mempersiapkan persenjataannya untuk membunuh kita”, lanjut Kyou. Aku teramat takut, kasus ini benar-benar menyebalkan.

Dan benar apa kata Kyou, tak lama setelah kami berlari. Gino menyusul kami sambil membawa robot yang dilengkapi dengan persenjataan yang canggih. “kalian tak akan bisa lolos”, kata Gino menakut-nakuti. Kami tak peduli, kami terus berlari. “mau kemana kita Kyou?”, tanyaku ketakutan. “kita sedang menuju lantai dasar. Disana kita akan jebak Gino. Takashi dan Mira juga sudah menunggu kita”, jelas Kyou panjang. Setidaknya, kali ini aku masih bisa bernapas lega.

Akhirnya kami tiba di lantai dasar. Kyou memberi kode jarak jauh pada Takashi. Aku disuruh Kyou untuk bersembunyi dan lihat apa yang akan terjadi nanti. Tak lama kemudian, aku lihat Gino sudah sampai dengan napas panjangnya yang beringas. “rupanya kau ketakutan dan bersembunyi disini, hahaha”, tawa Gino membahana mengerikan. “cih, lihat saja apa yang akan terjadi nanti”, elak Kyou marah. Tiba-tiba saja, aku melihat Kyou sudah mengarahkan pistolnya ke Gino, dan sedetik kemudian Gino tertembak. Lalu dia hancur meledak. Penembakan yang benar-benar sadis. “takashi, urus robot Gino sekarang”, komando Kyou. Dan tak selang beberapa lama, robot Gino sudah hancur menyusul pemiliknya setelah berhasil ditembak oleh Takashi. Ledakan hebat terdengar, aku semakin takut tapi lega.

Benar-benar hari yang mencekam. Tapi entah mengapa aku menikmatinya, walaupun rasa takut itu masih saja muncul. Tekadku sekarang, aku akan berikan yang terbaik untuk penegakku mulai hari ini. Aku akan tahan ketakutanku, kecemasanku. Walaupun aku masih saja trauma tiap aku mengingat kejadian ini. Hiks.

Kyou itu Aneh (Part 3)

“selamat pagi Azu, ingin kamar dengan tipe apa pagi ini?” kata Izuki. “deluxe 02” jawabku malas. “baiklah” lanjut Izuki, robotku.  Aku jalan dengan gontai ke kamar mandi, kasus di hari pertama kemarin sudah bikin aku se frustasi ini.

-Flashback kasus-

Saat aku sedang duduk santai di meja kerjaku, aku mendapat panggilan kasus. Ya, kasus pertamaku di biro ini. “bip bip” alat yang terpasang di tanganku berbunyi, dari inspektur Mizuko rupanya. “Azuda, kali ini kasus pembunuhan yang terjadi di sebuah perusahaan robot, sudah dua orang yang tewas dengan kasus yang mengerikan, mutilasi. Potongan-potongan mayat ditemukan tersebar di gudang penyimpanan barang bekas. Segera beritahu para penegak dan kita berangkat sekarang”. “baik”, kataku.

Aku cemas, keringat dinginku mengucur di kening. Ternyata sedari tadi ada yang memperhatikan gerak-gerikku yang aneh. “tak usah takut, kasus ini pasti akan sangat menyenangkan” kata Kyou berusaha menenangkanku dengan wajah dinginnya. Hey, tak ada kasus pembunuhan yang menyenangkan, bodoh! Gila betul dia. Lagipula, ini kan hari pertamaku bekerja disini.

Sampai di lokasi, aku diperintah inspektur Mizuko  untuk mengawasi gerak-gerik para karyawan yang ada diruang makan. Aku memeriksa saiko-pass dari masing-masing karyawan, namun tak ada yang perlu dicemaskan dari warna mereka. Kondisi psikologis mereka baik semua.

“hey, bodoh! Kenapa mengambil makanan lama sekali? Dasar bodoh!” kemudian terdengar suara bedebum. Kulihat mereka, ada sekitar lima karyawan yang sedang menghakimi seorang karyawan berbadan gendut dan berwajah menyedihkan. Sepertinya dia sering jadi korban pem-bully-an disini. Kelima karyawan itu tertawa lalu pergi. Anehnya, tak kulihat ekspresi marah dari karyawan gendut, mungkin dia sudah terbiasa jadi bahan tertawaan. Benar-benar menyedihkan dia.

“namanya Gino. Disini, dia memang sering jadi bahan tertawaan. Kau tau sendirilah inspektur. Gedung perusahaan kami sempurna terisolasi. Tak ada internet, tak ada televisi, tak ada alat komunikasi. Hanya itu satu-satunya cara untuk menghibur  para karyawan agar saiko-pass mereka tetap redup. Gino mereka anggap sebagai penghilang stress. Karena setiap Gino disiksa, warna saiko-pass nya selalu redup. Itulah alasan aku membiarkan mereka melakukannya.” Kata Direktur memberikan keterangan.

Aneh, ada yang aneh dari Gino. “kau merasa Gino aneh inspektur? Aku juga merasakannya” kata Kyou seperti bisa membaca pikiranku. Huh, lagi-lagi dia. “iya, aku merasa ada yang tidak beres disini” jawabku ketus. “tenang inspektur, aku sudah tau siapa pelakunya. Ini pasti menyenangkan” sambung Kyou sambil tertawa. Kau juga aneh Kyou, batinku kesal.

Apa? Secepat itukah Kyou mengambil kesimpulan? Kalau memang analisisnya benar berarti Kyou benar-benar penegak yang hebat. Penegak yang lain saja masih mondar-mandir mencari informasi. “inspektur, mari kita selesaikan kasus menyenangkan ini” kata Kyou santai. “baiklah” jawabku masih ketus.

Kyou mengambil senjatanya. Ohiya aku sampai lupa, di biro ini, penegak dan inspektur diberi senjata yang canggih. Sejenis pistol tapi lebih dahsyat. Pistol ini akan mengatur kemampuan tembakannya sendiri sesuai kadar saiko-pass dari para tersangka. Dan hebatnya lagi, hanya yang tercantum namanya di pistol lah yang bisa menggunakannya. Kali ini, aku hanya memegang pistolnya, aku tak berniat memakainya. Aku masih ragu.

“sekarang apa yang harus pertama kali kita lakukan Kyou?” tanyaku.  “ikuti saja aku”. Kemudian aku, Takashi, Mira membuntuti Kyou. “aku selalu tak mengerti jalan pikirnya Kyou” kata Takashi sambil terus membuntuti Kyou. Mira tertawa. Kami sampai di kamar mandi, apa yang sebenarnya mau Kyou lakukan sih? Aku mendengus sebal. “Takashi, Mira, segera siapkan persenjataan. Tunggu kami dilantai bawah. Aku akan mempermainkan tersangkanya terlebih dahulu” kata Kyou. Takashi dan Mira mengangguk lalu pergi. “hey, apa yang mau kau lakukan?” tanyaku hampir berteriak. “ssstt, diamlah inspektur, tunggulah disini dan lihatlah apa yang akan terjadi nanti” jawab Kyou ringan.

————-

Catatan: sebelumnya biar saya jelaskan apa itu saiko-pass. Saiko pass sejenis alat pendeteksi kondisi kejahatan dari setiap orang. Saiko-pass memiliki tiga tingkatan, diantaranya:

  1. Tingkat pertama: warna saiko-pass nya kuning. Berkisar di angka 0-80. Angka ini aman dan tak perlu dikhawatirkan
  2. Tingkat kedua: warna saiko-pass nya hijau. Berkisar di angka 80-120. Angka ini masih tergolong aman namun tetap harus diwaspadai.
  3. Tingkat ketiga: warna saiko-pass nya merah. Berkisar 120 keatas. Angka ini sudah tinggi dan harus dimusnahkan atau diterapi orang yang memiliki warna saiko-pass merah

Saiko-pass bisa berubah setiap waktu, tergantung dari kondisi psikologis setiap orang. Alat yang mendeteksi saiko-pass disebut saiker.

Biro Keamanan Umum (Part 2)

Perkenalkan, namaku Azuda. Umurku 20 tahun. Aku hidup di abad yang super canggih gila ini sendirian. Bukan karena tak punya keluarga, tapi aku anak tunggal. Dan aku yatim piatu. Tapi tenang, aku tak sendiri, karena ada budak robotku yang selalu saja setia padaku. Kupanggil dia Izuki. Izuki memang budak robot yang terbaik di seluruh dunia. Karena dia satu-satunya robot yang bisa memahamiku.

Baru-baru ini aku lulus kuliah, bisa dibilang kelulusanku terhitung cepat. Ya, karena aku anak yang cerdas. Aku lulus dengan nilai cumlaude. Perfecto. Sekarang, aku tak perlu sulit-sulit mencari pekerjaan. Dari sekitar 15 perusahaan yang aku datangi, 18 diantaranya menerima lamaran kerjaku. Lho kenapa bisa begitu? Karena sebelumnya sudah ada 3 perusahaan yang mewanti-wanti untuk menjadikanku sebagai direktur. Hehe, tapi tak ada satupun yang benar-benar cocok untukku. Dasar manusia.

Akhirnya, aku mendaftar di sebuah biro keamanan umum. Tentu saja aku diterima. Setelah melalui proses tes kemampuan diri dan bakat, aku dijadikan inspektur. Kau mau tau kenapa aku tertarik untuk bekerja disini? Simpel saja. Karena aku hidup sendiri.

———-

Hari ini hari pertamaku bekerja disini. Di biro keamanan umum. Aku baru saja berkenalan dengan rekan kerjaku, dia juga inspektur. Namanya Mizuko. Dari gestur tubuhnya, dia memang bukan tipikal orang yang menyenangkan. Yang kutau, aku belum pernah melihatnya tersenyum sampai detik ini. Entahlah apa yang dipikirkannya seharian ini. Karena aku masih baru disini, aku memutuskan untuk mengelilingi gedung sembari berkenalan dengan pegawai yang lain.

Setelah merasa puas berkeliling, aku kembali ke ruang kerjaku. Ada empat orang lain disana. Aku beru bertemu dengan mereka sekarang, mungkin ini waktu yang tepat untuk saling mengenal. “perkenalkan, nama saya Azuda. Saya inspektur disini” kataku sopan sembari membungkukkan badanku sedikit sebagai tanda hormat. “hahaha, lihatlah! Mana ada inspektur yang menundukkan badannya kepada para penegak seperti kita? Dia terlalu sopan” kata seseorang berambut pirang dengan gaya yang urakan. “mohon bantuannya ya, emm” kataku bingung untuk melanjutkan. “Takashi, panggil aku Takashi” potong  pria berambut pirang urakan itu. Well, aku tersenyum. Dia orang yang sungguh menyenangkan, pasti.

“hey, perkenalkan. Saya Mirashima. Cukup panggil saya Mira” satu-satunya wanita disini selain aku mengulurkan tangan dan tersenyum ramah padaku. Aku membalas jabatan tangan dan senyumnya. Dia berperawakan tinggi dan rambutnya panjang terkuncir rapi. “Ternyata masih ada wanita cantik yang mau bekerja di biro seperti ini”, batinku.

Setelah berbasa-basi dengan Mira, aku mendekati meja rekanku yang lain. “hey, senang bisa berkenalan dengan anda”, kataku hangat. Pria berbadan atletis dan berwajah dingin itu mengangkat kepalanya. “namaku Kyoushida, panggil aku Kyou”, katanya datar. Kyou langsung menundukkan kepalanya. Dingin sekali dia. Aku yang tak betah berlama-lama didekat Kyou beralih ke meja rekanku yang terakhir. Dari uban yang tumbuh di kepalanya aku bisa menebak kalau dia yang paling senior disini. Aku membungkukkan badanku, “senang bisa bekerja dengan anda”. Pria itu menyodorkan tangannya, sebenarnya bukan tangan sih, seperti besi. “saya Mitsuhiko, maaf kalau membuat inspektur takut. Semenjak ada kasus mengerikan setahun silam, tangan saya tidak sengaja tertembak lawan. Sehingga harus diamputasi dan saya ganti dengan robot tangan ini”, katanya menyenangkan seperti tidak ada kesedihan dan rasa penyesalan dalam hidupnya. Aku tersenyum, “tak apa, maafkan saya”. Aku kembali ke meja kerjaku.

Aku rasa aku akan menyukai tempat ini.

-bersambung-