Dia, Dilanku

Entah karena kesambet apa, pagi tadi saya diajak menonton Dilan oleh kawan saya. Mungkin karena dia pakai emotikon nangis, saya jadi tergerak untuk mengiyakan. Kasihan dia, baru-baru ini kembali berstatus lajang karena nyatanya restu dari orangtua kadang masih memandang suku. Kalau ada pembaca di sini yang Batak dan katolik, bisalah komentar biar saya kenalkan pada kawan saya yang cantik nan cerdas itu. #iniserius

Berbekal rasa percaya diri tinggi karena beberapa waktu lalu akhirnya (dengan memaksakan diri) khatam membaca buku bagian pertamanya, saya memasuki XXI dengan mantap. Alangkah terkejutnya saya dan kawan saya melihat antrean tiket begitu panjangnya. Ini kali pertama saya datang ke XXI dengan antrean sepanjang itu.

Selama mengantre, saya mengamati sekitar dan melihat banyak sekali siswa-siswi SMP. Mengingat jam di tangan masih menunjukkan pukul 12, saya tentu heran kenapa bocah-bocah ini sudah pada nongkrong asyik di sini yak? Beberapa gosip, ada yang selfie atau wefie apalah itu, yang lain fotoin tiket bioskop.

“Nggak papa Za, demi Dilan, kuat kuat!” Kawan saya menyemangati saya dan tentunya dirinya sendiri. 

Setelah antre nggak sampai satu jam, akhirnya kami dapat tiketnya. Dilan, kami datang!

Saya nggak perlu ceritain detilnya gimana ya, karena semua scene-nya diambil dari bukunya. Bahkan segala percakapan yang ada di filmnya, ya sama semuanya hahaha. 

Di awal saya menikmati filmnya, mulai di bagian Dilan sama Milea udah lengket tuh saya mulai agak jengah. Beberapa kali tutup telinga karena saya yang sudah tua ini rasanya tak kuat mendengar gombalan-gombalan manis anak SMA. 

Beberapa percakapan antara Dilan dan Milea masih terngiang di otak saya karena selama mendengarnya saya merasa geli. Contohnya seperti ini:

“Jalan Milea dan Dilan sang peramal yang semalam mikirin Milea”

“Kenapa mikirin aku?

“Karena aku cuma mikirin yang senang-senang”

“Jadi kamu senang mikirin aku?”

“Malah bingung sih”

Woy jadi gimana Dilan! Maunya gimana? Tadi katanya cuma mikirin yang senang-senang. Kok belum semenit udah bingung aja?

Duh maaf-maaf, percakapannya dilanjut lagi ya…

“Kenapa bingung?”

“Bingung bagaimana cara menghentikannya”

“Menghentikan apa?”

“Mikirin kamu”

“Kenapa ingin berhenti?”

“Jadi harus selalu dekat, biar nggak perlu dipikirkan”

Yak mari menutup telinga bersama-sama dan

Selain percakapan super cheeeeesy itu, saya juga jengah di bagian proklamasi, di angkot yang “nggak tahu kalau sore”, bagian makan bakso terus sisa kerupuknya dibungkus, dan masalah ramal-meramal itu.

Oh tentu ada juga gombalan Dilan yang cocok untuk saya, misal di scene setelah Dilan menjilati materai untuk menandatangani proklamasi jadiannya bersama Milea.

“Jalan-jalan kemana Dilan?”

“Emmm, ke KUA mau?”

“Serius?”

“Iya… Tapi di halamannya aja. Pemanasan dulu”

Awwwww

Lalu saya ingat Dilan masih kelas 2 SMA…

Atau waktu Dilan bawain Milea tukang pijit ke rumahnya, atau waktu Dilan kasih coklat ke Milea lewat loper koran. 

Sweeeeeet

Senangnya menonton tidak membawa ekspektasi apa-apa, saya tidak merasa kecewa setelah 112 menit film diputar. Tidak bisa dibilang jelek untuk ukuran film bergenre drama di Indonesia, tapi juga tidak bagus-bagus banget. Lumayan untuk nostalgia kisah cinta masa SMA yang nyatanya tak seindah kisah cinta Dilan dan Milea. #lalunangis

Oh iya, saya sempat beberapa kali terganggu dengan sinematografi dari film ini. Di bagian Milea dan Bunda naik mobil, uhhh itu editannya kasar banget tjuy, nggak nyaman dilihat. Juga di bagian Dilan dan Milea yang makan mie ayam bakso, uhhh plis kenapa pakai diedit segala, susah ya cari warung bakso bertembok putih? Juga soal ketidaknyamanan kawan saya yang melihat rambut Bunda yang terlihat jelas menggunakan wig.

Untuk kualitas akting, saya suka banget sama Dilan. Entah kenapa Iqbal bisa terasa pas memerankan Dilan. Nyatanya apa yang saya bayangkan dari melihat trailer berbeda setelah menonton filmnya. Untuk Milea, persona kalem dan tentu cantiknya dapatlah ya. Cuma keganggu sama akting-aktingnya para figuran aja sih. Di scene Dilan ikut seleksi lomba cerdas cermat, kerasa banget figurannya kayak kurang briefing hahaha. 

Saya tidak mau memberi nilai, tonton saja dan beri nilai yang pas menurut kalian. Dengan begitu kalian tidak perlu memasang ekspektasi ketika menonton film ini. Secara keseluruhan, film Dilan rasa-rasanya memang lebih cocok ditonton mereka yang sedang menikmati masa remajanya. Aih, cinta masa muda~

Sebagai penutup, saya cuma mau kasih tahu satu hal:

Mau semanis dan seromantis apapun kisah Dilan dan Milea, nyatanya mereka nggak berjodoh.

Semua meme qosidahan bersumber di sini.

Iklan

51 respons untuk ‘Dia, Dilanku

  1. Ini ziza kenapa jadi bandar qasidah meme sih……

    Anw iya e lucu aja gt liat gombalan bocah jd nyengir2 krn cheesy banget. Untung iqbal ganteng.

    Diulangi, untung iqbal ganteng. Walau jadi terlalu bersih buat anak geng motor bandel urakan males.

    Yang penting ganteng.

  2. Aku jadi salah fokus dengan semua gambar meme qosidahanmu mbak wkwkwk
    Btw aku juga kaget waktu km nonton dilan😂 “tumben mbak hajar nonton ginian” besok kalo mau ngajak kamu nonton, pakai emot nangisss ahh😚😚

    Aku tim nonton di TV atau download aja deeh 😂

  3. Sebelum nonton ini, aku buang semua cerita yang ada di novel itu, karena udah tau bakal ada yg beda akhirnya nonton dengan tujuan; nikmati filmnya jen, jangan kebanyakan mikirin perbedaan dan ekspektasi yg ada di otakmu wkwk

  4. Kamu juarak zah, walaupun aku suka bgt sm karakternya dilan, cuma masih blm pgn belain buat nonton smpe harus ngantri 😅 tapi ga dapet kursi depan kan 😄😄

  5. “..karena saya yang sudah tua ini rasanya tak kuat mendengar gombalan-gombalan manis anak SMA.” ini jadi salah satu alesan kenapa aku ga mau nonton mba wkwk

    Pas aku ke bioskop mau nonton maze runner, bioskop penuh bgt sama anak2 smp dan sma mau nonton dilan😂

    • Aih Safa, kita memang selalu sehati ya ahahaha 😂

      Nah iya parah sih, Maze Runner cuma dikasih satu studio sisanya Dilan wkwkwk. Lain kali kalau mau nonton jangan pas jam pulang sekolah Saf, berat, kamu tak akan kuat. Biar Dulah saja

  6. Ini tulisan tentang film Dilan, tapi nggak ada foto tentang Dilannya. Malah Dilan-da nasidaria tak berkesudahan wkwk

    Udah pernah baca dialog2 itu, dan kirain bakal membentuk kekebalan. Ternyata masih merinding juga wkwk. Kok ngebayanginnya lucu ya kalau lagi nonton bioskop trus pas noleh, ada satu orang lagi nutup kuping 😂

  7. Wqwq
    Kagak di twitter kagak di sini
    Mememu itu lhoooo nggak nguati 😂😂😂😂😂😂

    Hatapi akutu merasa sangat tua kalo nonton yg beginian. Ah😫 (T_T)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s